Tampilkan postingan dengan label antropologi globalisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antropologi globalisasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Gerakan Metal Satu Jari: Agama Sebagai Produk Globalisasi dan Fenomena Perang Ideologi Melawan Westernisasi

Tak bisa dipungkiri lagi dalam masa kini batasan-batasan antar negara makin kabur atau bisa dikatakan menghilang. Hal ini disebabkan adanya seperangkat proses yang menciptakan kondisi di mana setiap pojok bumi menjadi terhubung atau dengan kata lain terciptanya interkoneksitas. Seperti apa yang dikatakan oleh Malcom Waters dalam bukunya yaitu Globalization (London: Routledge,. 1995), ia mengatakan bahwa globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma di dalam kesadaran orang.
Berbicara mengenai globalisasi, pastinya tak lepas dari pembicaraan dampak yang diakibatkan oleh proses ini. Mengkategorikan dampak positif maupun negatif dan membandingkan hal mana yang lebih berpengaruh adalah sebuah perspektif awam. Hal ini dikarenakan globalisasi adalah sebuah konstruksi di mana terdapat friksi-friksi yang menyebabkan resistensi dan kemudian muncul sekelompok masyarakat yang merasa terancam, yang mengakibatkan munculnya gerakan militan seperti militan agama.
Sejarah tak luput dari pembahasan mengenai globalisasi karena sejarah juga terkoneksi dengan dunia global atau menyebabkan jalinan interkoneksitas dan tidak bisa terpisahkan dari sejarah manusia. Dalam hal ini, relevansi bagi antropologi mencakup transformasi tatanan politik dan ekonomi  yang mengakibatkan transformasi sosial juga transformasi budaya.
Sejarah proses akumulasi global yang dimulai sejak imperialisme Barat pada abad ke-15 telah membawa ketimpangan relasi kekuasaan maupun penumpukan kekayaan secara tidak seimbang dalam skala global. Namun, banyak perspektif mengenai globalisasi yang sarat akan pada isu-isu ekonomi di mana isu-isu yang lain seperti dikesampingkan atau tidak berpengaruh kuat terhadap proses globalisasi ini. Globalisasi tidak hanya merupakan isu-isu ekonomi saja, tetapi juga bersinggungan dengan berbagai macam isu, salah satunya adalah isu agama. Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan sebuah fenomena yang berkaitan dengan isu agama dan isu seni musik yaitu mengenai kemunculan dan eksistensi dari One Finger Movement atau Gerakan Metal Satu Jari dalam komunitas Salam Satu Jari di Indonesia.

Agama Sebagai Produk Globalisasi

      Tulisan ini akan memaparkan mengenai fenomena agama Islam di tengah hingar-bingarnya proses globalisasi. Tak jarang, globalisasi dianggap sebagai hal yang negatif karena sarat akan ekspansi dari negara-negara adikuasa seperti kapitalisme yang merajalela. Fenomena kapitalisme menggambarkan bagaimana negara-negara tersebut mampu mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara Dunia Ketiga tidak mampu bersaing dengan digempurnya berbagai macam kegiatan yang mengarah ke kapitalisme. Tak hanya itu, globalisasi juga mempengaruhi dimensi budaya karena adanya perkembangan interaksi melalui media massa seperti dari televisi, musik, dan film. Sajian hiburan tersebut tentunya akan dikonsumsi oleh seluruh dunia yang akan memberikan perspektif baru terhadap diri kita.
Agama juga merupakan produk dari globalisasi di mana ada suatu keteraturan umum yang dibangun dalam lingkup tersebut dan adanya pemahaman kita mengenai dunia. Dalam dimensi agama, Clifford Geertz mengatakan bahwa dalam suatu religi atau agama terdapat konsep moods and motivation lalu ada kegiatan ritual, simbol, dan emosi yang merupakan karakter dari definisi agama. Pondasi dasar dari agama adalah untuk memahami dunia, maka dari itu globalisasi memiliki relasi yang kuat dalam lingkup agama.
Dalam subjek modern, agama dipahami sebagai sebuah istilah untuk mendefinisikan suatu gejala umum yang terjadi pasca abad pencerahan di Eropa. Orang-orang Eropa tentunya melakukan kontak pertama dengan wilayah koloni, di mana harus memahami konteks masyarakat yang berbeda seperti mereka memiliki agama dan aktifitas ekonomi yang berbeda. Adanya kebudayaan atau peradaban tertentu ditengah kebudayaan yang dijumpai. Dalam hal ini, adanya kegiatan mengkategorisasikan the others yang merupakan konstruksi orang Eropa terhadap yang ”lain”. Eropa memposisikan diri mereka menjaci yang paling utama, yang paling maju, dan paling beradab di mana sarat akan konsep modern.
Merujuk pada kategoriasi terhadap ”yang lain” atau the others, hal ini membuktikan bahwa adanya cara melihat dunia atau cara melihat yang lain dalam kategoriasi terhadap orang yang berbeda dengan diri kita. Islam kemudian menjadi salah satu contoh yang menjadikan adanya subjek modern. Terbentuknya konsepsi ini bersamaan dengan kekuasaan dan ekspansi karena harus mengontrol, harus mendefinisi, dan harus melihat permasalahan. Contohnya adalah ketika koloni datang, masih ada orang-orang yang percaya terhadap aliran animisme. Dari ekspansi tersebut adanya kegiatan mengkategorikan. Secara moral, orang-orang tradisional tersebut salah atau dianggap orang sesat, maka dari itu mereka harus dimasukkan ke dalam peradaban modern. Konsepsi ini menggunakan idiom yang berangkat dari agama Islam dan Kristen yang memiliki ciri untuk memahami ”manusia yang lain” sebagai suatu objek yang dicerahkan.

Modernitas sebagai moral order

Dahulu kafir ----------------------------à sekarang beragama
                                                          ’moral time’

Bagi orang Eropa, animisme adalah masa di mana adalah ”masa mereka di masa lalu”. Istilah kolonialisme dan gospel selalu berhubungan karena adanya justifikasi moral dan religi yang digunakan untuk melihat dan membuat, yang dilakukan oleh koloni menjadi legitimate, dalam konteks kolonialisasi. Dalam konteks Islam pun juga mengalami hal yang serupa.
Di lingkup kajian agama dan negara, suatu agama dikatakan adalah agama jika memiliki Tuhan, kitab suci, dan umat.  Agama juga memainkan peranan penting dalam narasi pembangunan. Agama menjadi penting karena mereka harus ikut dalam narasi pembangunan. Menjadi beragama adalah menjadi modern dan menjadi maju, inilah yang disebut program pembinaan agama. Di Indonesia, pada masa orde baru, agama menjadi penting sebagai identitas yang disajikan dalam Kartu Tanda Penduduk sebagai konteks administratif. Negara juga mendisiplinkan yang tidak terima terhadap agama modern. Kini, kebangkitan adat atau aliran kepercayaan menjadi respons agama modern karena agama dicirikan sebagai identitas modern.
Seperti yang telah dipaparkan di atas mengenai globalisasi mengakibatkan munculnya gerakan militan seperti militan agama karena terdapat friksi-friksi yang menyebabkan resistensi dan kemudian muncul sekelompok masyarakat yang merasa terancam. Gerakan militan Islam dapat dilihat dari beberapa aspek seperti teologi, politik, budaya, dan pendidikan. Dalam aspek teologis,  ajaran Islam sangat resisten terhadap perbedaan pandangan tentang sekularisasi. Dalam fenomena modern dianggap bahwa sekularisasi hanya akan menghilangkan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Agama dan sekularisasi sering diposisikan sebagai dua entitas yang berlawanan.
Tak jarang juga diamati dari berbagai literatur maupun media massa, globalisasi dianggap sebagai kelanjutan dominasi dan hegemoni Barat dari sisi intelektual Muslim. Dikutip dari tulisan Respon Umat Islam Terhadap Globalisasi dari Institut Pemikiran dan Peradaban Islam Surabaya, dikatakan bahwa Amerika memanfaatkan globalisasi untuk meruntuhkan norma-norma politik, ekonomi, dan budaya yang eksis di negara-negara non Barat. Dalam konteks ini, Amerika juga menggunakan yayasan-yayasan budaya dan ideologi globalisasi yang mana bertujuan untuk merealisasikan tujuan-tujuan imperialismenya tanpa menyebabkan reaksi-reaksi revolusioner, seperti yang pernah dilakukan oleh imperialisme Barat pada masa lalu. Fine power merupakan istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan pemanfaatan yayasan-yayasan milik Amerika tersebut.
Dalam bukunya Mark Levine yaitu Heavy Metal Islam (2008), ia mengatakan bahwa pengalaman umat Islam terkait globalisasi dimaknai sebagai sebuah ‘a post-modern culturalism yang erat dengan kulturalisasi politik dan ekonomi, sebagai momen yang menegaskan terjadinya globalisasi kontemporer. Dalam menghadapi diskursus semacam ini, intelektual Muslim meminta apa yang dinamakan ”hak untuk berbeda” secara kultural yang merujuk pada istilah the others yang sudah dipaparkan sebelumnya.
Penolakan umat Islam tehadap globalisasi lebih diasosiasikan dengan westernisasi, yang mana merekonstruksi nilai-nilai non Barat dan oleh para intelektual Muslim, globalisasi dianggap sebagai ghazwul fikri yaitu perang pemikiran). Westernisasi merupakan adanya proses pengadopsian budaya Barat dalam bidang industri, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, abjad, agama, filsafat, serta nilai-nilai.

Kemunculan Gerakan ”Salam Satu Jari” Dalam Memerangi Ideologi Barat Melalui Musik Metal

To whom it may concern, which testify to Syahadat. Israel had declared a war by throwing words.  Let’s fight in the name of Allah, jihad fi sabilillah. (Bagi siapa pun yang merasa telah bersaksi dan menyebut Syahadat. Israel telah menyatakan perang dengan menggunakan kata-kata atau ideologi, mari berperang dengan atas nama Allah. Mari berjihad di jalan Allah)
[Jihad – Tengkorak]
               
Salah satu bentuk gerakan yang muncul akibat fenomena globalisasi terutama peperangan melawan westernisasi dalam lingkup agama yaitu agama Islam adalah kehadiran Gerakan Metal Satu Jari atau One Finger Movement. Di Indonesia, gerakan ini menamakan diri mereka Salam Satu Jari yang mana anggotanya adalah personil band underground juga penikmat musik underground yang mencoba melawan westernisasi di mana dianggap tidak sesuai dengan akidah Islam dan budaya di Indonesia.  Komunitas ini lahir dari sebuah acara bertajuk Garage Festival, sebuah konser musik metal yang khusus diperuntukkan untuk korban kemanusiaan di Palestina.
Dilansir dari situs Jaringan Berita Terluas Di Indonesia dalam artikel Berjihad Lewat Musik Underground, Ubah Salam Metal Jati Satu Jari Tauhid dikatakan bahwa dalam komunitas Salam Satu Jari, salam metal yang sarat dipraktekan dengan dua jari yaitu jari telunjuk dan jari kelingking, kini dipraktekkan hanya menjadi satu jari. Hal ini menandakan satu makna yaitu tauhid atau satu Tuhan yang merujuk pada Laailaha Illallah dengan tujuan membela Islam, tidak yang lain dan hanya ada satu Tuhan yaitu Allah Yang Maha Esa. Salam metal dua jari dipercaya sebagai simbol pemujaan setan, maka dari itu komunitas Salam Satu Jari ingin mengubah persepektif tersebut menjadi suatu kebenaran.
Mempraktekan simbol metal dengan dua jari bagi komunitas ini merupakan konsep satanisme. Salah satu vokalis band metal yang tergabung dalam komunitas ini yaitu vokalis dari band Tengkorak, Ombat, mengatakan bahwa konsep satanisme digunakan oleh band-band metal sebagai sebuah kreativitas dalam aksi panggung. Seiring berjalannya waktu dengan perkembangan teknologi yang tinggi dan menghilangkan batasan-batasan antar belahan dunia, membuat musik metal menyebar dan berkembang yang kemudian meraup banyak penggemar musik ini. Tak ayal, banyak dari band-band metal ini secara tak sadar menggerakan massa untuk menggunakan simbol yang menyekutukan Tuhan. Fenomena ini juga dianggap sebagai cara penjajahan baru yang digunakan zionis dan kaum sekuler untuk menjauhkan anak muda dari agama.

Metal Satu Jari Ala Tengkorak (Photo: Hai Online)

Kini, komunitas Salam Satu Jari menjadi sebuah gerakan metal muslim yang menjunjung nilai-nilai keislaman dan telah tersebar di penjuru Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Kegiatan gerakan Salam Satu Jari ini diantaranya adalah ketika pertunjukan musik underground sedang berlangsung, mereka akan mengumandangkan takbir di sela-sela pertunjukan. Mereka juga menghentikan acara ketika adzan berkumandang dan melaksanakan salat secara berjamaah.
Salah satu band metal ternama Indonesia yang juga tergabung dalam gerakan ini adalah Purgatory yang menyisipkan pesan positif dalam setiap liriknya. Purgatory menyatakan bahwa mereka berbeda dengan band-band metal lainnya karena mengajak para penikmat musik metal untuk berpegangan pada tauhid yang murni.  Pada album-albumnya, Purgatory secara terang-terang menyerukan taujih ruhiyah, obsesi terhadap akhirat, dengan musik mereka. Semua lagu yang mereka gemakan mengandung nilai amar ma’ruf nahi munkar, sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat dan dalam syariat Islam hukumnya adalah wajib.
Pada abad ke-14, di tanah Jawa terdapat sebuah kegiatan penyebaran agama Islam oleh wali songo yang berdakwah dengan wayang kulit, gamelan, dan filosofi simbol pada orang-orang kejawen, yang pada saat itu masih menganut animisme dan dinamisme. Terkait dengan dakwah agama Islam pada masa kini, Purgatory melalui Salam Satu Jari juga berdakwah dengan musik metal kepada orang-orang metal untuk membebaskan mereka dari paham sesat yang sering terdapat dalam lagu-lagu metal bersimbol kepala kambing dan pentagram.
Band-band metal yang tergabung dalam gerakan Salam Satu Jari ini menyatakan diri mereka berbeda dengan kebanyakan band metal lainnya, merujuk pada  prinsip dan idealisme Islam dan anti-Zionis yang diusung. Dari segi lirik, tentunya juga terdapat perbedaan dengan lirik lagu metal lain yang bertema anti Tuhan, memuja setan, dan kebebasan. Contohnya, lirik-lirik lagu Tengkorak yang berpedoman pada sirah nabawi, Al-Quran, dan hadist yang merupakan perjuangan anak band underground untuk berjihad dengan musik.
Dikatakan juga bahwa awal kemunculan gerakan Salam Satu Jari terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu di mana beberapa band metal seperti Tengkorak dan Purgatory mendapatkan hidayah dan tersadar bahwa karya musik mereka adalah konspirasi Barat untuk merusak generasi muda. Sejak saat itu, mereka memutuskan membawakan aliran musik tauhid. Meskipun alirannya tetap metal yaitu terdiri dari komposisi musik yang keras dan tempo yang cepat, lirik yang disajikan memiliki pesan anti pemurtadan oleh Israel dan Amerika Serikat.
Di masa kini dengan gempuran globalisasi yang makin menghilangkan batasan-batasan, gerakan Salam Satu Jari meyakini bahwa menyebarnya kajian seni, dalam hal ini musik metal, yang dialirkan dari Barat memiliki makna-makna tersembunyi. Gerakan ini meyakini bahwa negeri Zionis dan Amerika Serikat tidak memerlukan serangan fisik untuk menghancurkan negara-negara Muslim, melainkan hanya menyerang melalui budaya yang meliputi seni dan gaya hidup seperti penggunaaan obat-obatan terlarang, minuman keras, dan aliran musik underground yang mendewakan simbol setan dan anti-Tuhan. Dalam dunia musik internasional, banyak penikmat musik underground yang benar-benar menyembah simbol-simbol setan, dajjal, dan simbol okultisme atau aliran ilmu sihir yang berasal dari Yahudi. 
Dari fenomena tersebut, gerakan metal satu jari tersadarkan bahwa musik bisa menjadi alat dan doktrin untuk pembodohan. Maka dari itu, gerakan Salam Satu Jari hadir sebagai sarana dan wadah yang membangun perspektif baru yaitu bermusik, tetapi punya moralitas dan tetap religius. Gerakan ini sangat meyakini bahwa Islam adalah agama universal dan diterima semua kalangan bahkan meyakini bahwa pemuja setan dapat bertobat dan memeluk Islam jika media dakwah yang disampaikan sesuai dengan kehendak hati mereka. 

Salam Satu Jari (Photo: kaskus.co.id)

Melalui fenomena gerakan Salam Satu Jari ini tergambarkan bahwa konsep agama sebagai produk globalisasi makin terlihat, telah dijelaskan sebelumnya bahwa adanya suatu keteraturan umum yang dibangun dalam lingkup tersebut dan adanya pemahaman mengenai dunia. Hal ini didasarkan pada pondasi dasar dari agama adalah untuk memahami dunia yang membuat globalisasi memiliki relasi yang kuat dalam lingkup agama. Agama dalam subjek modern merupakan istilah untuk mendefinisikan gejala umum yang membuat manusia harus memahami konteks masyarakat yang berbeda. Muncullah kegiatan mengkategorisasikan the others yang merupakan konstruksi individu terhadap yang ”lain” yang membuktikan bahwa adanya cara melihat dunia atau cara melihat yang lain dalam kategoriasi terhadap orang yang berbeda dengan diri kita.
Gerakan Salam Satu Jari menjadi contoh dari kajian subjek agama modern karena mereka membedakan ”yang lain” yaitu yang menganut konsep satanisme, zionis, juga bisa disebut ajaran sesat atau orang kafir. Karena ada pengkategorisasian terhadap ”yang lain” dan dianggap sesat atau tidak benar, gerakan Salam Satu Jari bermaksud untuk ”mencerahkan” manusia yang lain tersebut. Terjadi moral time di mana gerakan Salam Satu Jari ini memberikan pesan-pesan yang mereka anggap positif dan mengajak penikmat musik underground untuk mengikuti jalan yang benar atau dengan kata lain ”mencerahkan” melalui salam satu jari yang berarti Tuhan hanyalah satu, yaitu Allah.
Peperangan melawan westernisasi juga tergambarkan dari bagimana gerakan ini memerangi ideologi Barat, dalam kasus ini adalah westernisasi. Dikatakan bahwa gerakan Salam Satu Jari menentang keras ideologi-ideologi Barat yang mereka bawa ke seluruh dunia melalui media massa seperti film, musik, dan buku seperti kegiatan memuja minuman keras dan seks bebas. Metal yang sebelumnya militan, kini dianggap tidak militan karena sudah masuk dalam dunia hedonis, yang dalam hal ini merupakan konsepsi masyarakat Barat. Gerakan Salam Satu Jari memiliki misi untuk mengubah pespektif dunia metal dan musik underground agar tidak terjerumus dalam dunia gelap seperti yang dianut oleh masyarakat Barat. Strategi ini dianggap oleh pengikut gerakan Salam Satu Jari dengan perang ideologi yang mana musik menjadi sebuah senjata untuk melawan dan bertahan dari fenomena westernisasi.
Dalam hal ini, terlihat adanya transformasi sosial yang disebabkan oleh proses akumulasi global yaitu westernisasi yang seolah-olah “menyerang” seluruh belahan dunia, terutama ke Asia yang notabenenya merupakan negara dunia ketiga. Transformasi sosial ini disebabkan karena adanya kontak dengan kebudayaan lain yaitu melalui musik. Transformasi yang terjadi dalam aspek budaya yaitu lingkup seni musik beraliran metal dan underground, di mana biasanya metal didefinisikan sebagai aliran musik yang sesat karena sarat akan simbol-simbol pemujaan setan. Dari fenomena yang telah tertanam oleh banyak orang tersebut, gerakan Salam Satu Jari membuat perubahan mengenai perspektif metal sebagai aliran musik yang ternyata tidak sarat akan perkumpulan orang sesat, namun juga bisa menjadi suatu gerakan yang mengajarkan kebenaran dan sarana ”mencerahkan” terhadap ”yang lain”.

Referensi:

Escobar, A.
1995. Encountering Development. New Jersey: Princeton University Press.
Geertz, Clifford
1966. Anthropological Approaches to the Study of Religion. London: Tavistock Publications
Madjid, Nurcholis
1998. Islam, Kemodernan, dan Keindoonesiaan. Bandung: Penerbit Mizan.

Internet:
Artikel Berjihad Lewat Musik Underground, Ubah Salam Metal Jadi Satu Jari Tauhid dalam situs Jaringan Berita Terluas di Indonesia http://www.jpnn.com/read/2011/03/09/86165/Berjihad-lewat-Musik-Underground,-Ubah-Salam-Metal-jadi-Satu-Jari-Tauhid- 

Artikel Respon Umat Islam Terhadap Globalisasi dalam situs Institut Pemikiran dan Peradaban Islam Surabaya http://inpasonline.com/new/respon-umat-islam-terhadap-globalisasi/ 

Artikel The Black Revolution, A Review of Heavy Metal Islam: Rock, Resistance, and the Struggle for the Soul of Islam by Mark LeVine http://www.criticalglobalisation.com/Issue%201/141_144_JCGS1_HOUWELINGEN_HEAVYMETALISLAM.pdf 


Kamis, 01 Mei 2014

Jogja Hip Hip Foundation: Pengaplikasian Musik Hip-Hop Dari Narasi Global Secara Lokal

Dalam memahami proses globalisasi, penting untuk melihat fenomena perubahan ekonomi, politik, dan budaya di seluruh belahan dunia. Selain itu, kemunculan teknologi informasi seperti internet dan media massa turut menyemarakkan kehadiran proses globalisasi yang menjadikan seluruh negara di berbagai belahan dunia terhubung dan menembus batasan-batasan antar negara yang kini makin kabur dan menyebabkan terjadinya diaspora.

Globalisasi sering dianggap sebagai hal yang negatif karena sarat akan ekspansi dari negara-negara adikuasa seperti kapitalisme yang merajalela. Fenomena kapitalisme menggambarkan bagaimana negara-negara tersebut mampu mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara Dunia Ketiga tidak mampu bersaing dengan digempurnya berbagai macam kegiatan yang mengarah ke kapitalisme.

Tak hanya itu, globalisasi juga mempengaruhi dimensi budaya karena adanya perkembangan interaksi melalui media massa seperti dari televisi, musik, dan film. Sajian hiburan tersebut tentunya akan dikonsumsi oleh seluruh dunia yang akan memberikan perspektif baru terhadap masing-masing manusia. Dalam Modernity At Large, Appadurai mengatakan bahwa peran teknologi informasi terutama media menjadi salah satu faktor utama dalam mengubah dunia.

Globalisasi tak jarang dianggap memiliki dampak negatif pada warisan budaya sehingga dapat menghilangkan identitas sebuah kelompok masyarakat seperti bangsa. Anggapan ini lah yang kemudian membuat banyak negara memiliki berbagai macam penguatan budaya-budaya lokal, tak terkecuali Indonesia. Fenomena ini tergambarkan dalam paparan Appadurai dalam Modernity At Large yaitu adanya production of locality. Appadurai juga memaparkan bahwa dua faktor utama dalam globalisasi diantaranya adalah migrasi besar-besaran dan mediasi elektronik yang kemudian melahirkan modernisasi, postindustrialisasi, hingga postmodernisme.

Dalam penyebaran warisan budaya, globalisasi memainkan peranan penting dalam ranah ekonomi, politik, dan budaya yang kemudian dipertemukan dalam tipe pertukaran dengan adanya ruang atau space. Dalam ranah ekonomi, pertukaran terlihat dalam perdagangan dan akumulasi kapital. Dalam ranah politik, Walter dalam Iluminations mengatakan bahwa hubungan pertukaran politik dikembangkan ke territorial yaitu menggunakan sumber-sumber di teritorial untuk integrasi atau ekspansi. Dalam pertukaran budaya, proses komunikasi seperti berbagai macam bentuk teknologi informasi menjadikannya faktor utama yang membebaskan hubungan sosial dari ruang.

Teknologi informasi yang masuk dari berbagai negara melahirkan bemacam-macam cara dari anak muda untuk mengolah informasi. Salah satu contohnya adalah munculnya peluang baru atau alternatif dalam ranah musik dunia karena adanya partisipasi besar dari suatu kelompok. Tentunya alternatif ini memiliki suatu tujuan atau kepentingan tersendiri dari tiap-tiap pelakunya. Tulisan ini akan mengkaji fenomena mengenai musik hip-hop yaitu musik perjuangan dari masyarakat kulit hitam di Amerika juga Afrika yang kini diaplikasikan oleh salah satu grup hip-hop asal Yogyakarta, Jogja Hip Hop Foundation. Grup hip hop ini melahirkan sebuah identitas kultural di mana mereka membawakan musik hip-hop yang dibesarkan dalam narasi global (musik dari Amerika dan Afrika), tetapi diaplikasikan secara lokal (dengan bahasa Jawa dan alat musik tradisional Jawa).

Teknologi Informasi, Diaspora, dan Identitas Kultural

Appadurai dalam Modernity At Large memaparkan bahwa proyek modernitas, salah satu fenomena globalisasi, melahirkan peluang baru karena adanya partisipasi besar. Salah satu contohnya adalah timbulnya alternatif baru seperti gerakan sosial, musik barat, dan musik hip-hop akibat adanya dominasi dari pihak Barat. Telah dipaparkan di atas bahwa keterkaitan atau hubungan antara ranah politik, ekonomi, dan budaya dalam kehidupan sosial masyarakat di seluruh belahan dunia terhubungkan dan membuat batasan menjadi kabur. Hubungan globalisasi ini menubah tatanan lokal yang kemudian melahirkan ketergantungan antara yang lokal dan global.

Dalam memahami fenomena globalisasi, Appadurai memaparkan mengenai konsep ruang atau space, diantaranya adalah ethnoscape, mediascape, technoscape, financescape, dan ideoscape (2006: 589). Ethnoscapes adalah kelompok atau aktor yang memainkan peran penting dalam pergeseran-pergeseran yang melibatkan gerakan aktual dan fantasi-fantasi tentang pergerakan. Technoscapes adalah konfigurasi global dari teknologi bergerak dengan kecepatan tinggi melintasi berbagai jenis batasan yang ada. Financescapes adalah proses yang melibatkan pasar, bursa saham nasional, dan spekulasi komoditas yang menggerakkan megamonies melalui batas-batas nasional dengan kecepatan tinggi.

Mediascapes adalah distribusi kapabilitas elektronik untuk menghasilkan dan menyebarkan informasi seperti koran, majalah, televisi, internet yang tersedia untuk kepentingan publik dan swasta. Ideoscapes adalah rangkaian imaji yang bersifat politik dan berkaitan dengan ideologi negara, kontraideologi dan gerakan gerakan yang cara eksplisit berorientasi untuk merebut kekuasaan negara atau sebagian dari kckuasaan itu (Ritzer, Goodman, 2003: 598)  Konsep ruang atau space ini dipaparkan Appadurai sebagai alat untuk mengangkut materi-materi kultural melintasi berbagai batas yang ada, seperti batas nasional dan batas kebudayaan.

Menurut Fernandez (Fernandez 2009; Waters 2000), salah satu ciri globalisasi adalah deterritorialisasi yang menunjukan adanya kemungkinan interaksi antar individu dan kelompok tanpa memandang lokasi. Saling keterhubungan dan deterritorialisasi merupakan dua konsep yang menjelaskan bagaimana peristiwa mempengaruhi yang lokal dan sebaliknya. Negara-negara dari berbagai belahan dunia semakin terhubungkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi seperti internet yang dapat melahirkan kelompok-kelompok untuk tujuan tertentu.

Perkembangan teknologi informasi ini memberikan dampak pada budaya-budaya lokal. Budaya lokal yang terdiri atas praktek, media simbolik seperti tata nilai dan tradisi menjadi ungkapan identitas secara linguistik, geografis dan historis, begitu pula dengan lokalitas. Menurut Stuart Hall dalam Cultural Identity and Diaspora, identitas adalah budaya milik bersama, dimiliki secara bersama-sama oleh orang yang memiliki sejarah dan asal-usul yang sama. Identitas diyakini akan selalu mengalami perubahan karena adanya perkembangan teknologi informasi yang menyebabkan diaspora.

Dalam identitas pascamodern terdapat tiga wacana diantaranya adalah (1) wacana geopolitik yaitu konsep negara-bangsa sebagai sebuah perekat identitas, (2) wacana sosio ekonomi yaitu konsep sistem ekonomi khususnya ekonomi kapitalis global dimana membuat perubahan identitas yang menggiring pada berbagai paradoks identitas, dan terakhir (3) Wacana kultur-spiritual yaitu kehidupan keberagamaan dan spiritualitas, bagaimana identitas dipertahankan, dipelihara, dan dilestarikan.

Dalam ranah ekonomi, globalisasi memberikan identitas baru yaitu budaya konsumerisme yang membuat semakin tersegmentasinya masyarakat ke dalam berbagai kelompok gaya hidup dan semakin terdiferensiasikannya budaya dalam subbudaya. Memasuki tahun 70-an, berbagai gerakan sosial seperti munculnya subkultur menjamur dalam kehidupan sosial. Subkultur adalah sebuah cara untuk merebut dan membangun identitas budaya dalam bingkai ideologi yang baru. Selain itu, juga sebagai sebuah gerakan budaya dalam upaya mengekpresikan diri kelompok dan identitasnya.

Salah satu fenomena yang berkaitan erat dengan globalisasi adalah modernitas, sebuah fenomena yang menandakan adanya integrasi masyarakat ke modernitas kapitalis dengan semua implikasinya terhadap ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Di dunia Ketiga, modernitas hampir identik dengan penaklukan yang melibatkan proyek-proyek kekuasaan seperti penyebaran imperialisme, dominasi kapitalisme Barat, hingga upaya-upaya kontemporer ke arah homogenisasi dan pencapaian konsensus global terhadap berbagai ide dan etika produk modernitas Barat seperti Marxisme, kapitalisme, liberalisme, dan positivisme.

Di masa kini, fenomena yang serupa bisa terlihat dari globalisasi, revolusi teknologi, dan demokratisasi di mana teknologi informasi memainkan peran yang cukup penting. Free trade atau pasar global yang muncul akibat revolusi teknologi seperti pengembangan komunikasi digital dan internet membuat fenomena globalisasi makin menjadi-jadi. Teknologi informasi memainkan peran penting dalam operasi skala global dengan membiarkan produk-produk media didistribusikan ke seluruh dunia. Teknologi informasi seperti media massa ditujukan untuk menyebarkan standar nasional dalam bahasa, budaya, dan perilaku.

Mengenai hubungan antara modernitas dan globalisasi, Anthony Giddens memaparkan bahwa modernitas melibatkan lebih dari sekedar difusi berbagai institusi Barat di seluruh penjuru dunia yang mengeliminasi budaya lokal. Melalui media televisi, sebagai contoh saluran televisi MTV, menampilkan fenomena dunia yang sedang menjadi trend di seluruh belahan dunia, salah satunya adalah musik hip-hop.

Musik Hip-Hop: Lahirnya Alternatif Baru Akibat Dominasi Barat

Dalam menelusuri musik hip-hop, wilayah Bronx yaitu bagian selatan New York City pada tahun 70-an adalah saksi sejarah terbentuknya subkultur ini. Diawali dengan fenomena pengungusian masyarakat kulit hitam di Bronx dalam sebuah proyek pembaharuan Amerika. Proyek tersebut menyebabkan adanya relokasi besar dari masyarakat kulit hitam yang tidak memiliki sumber daya dan terbatasnya atas kekuasaan politik. Wilayah Bronx menjadi terkenal dengan gambaran hidup yang terpinggirkan.

Hip hop adalah kombinasi dari dua istilah yang terpisah yaitu "hip" yang memiliki arti saat ini dan "hop" untuk gerakan melompat. Pada tahun 1970-an, sebuah gerakan bawah tanah perkotaan (underground) yaitu  hip hop mulai berkembang di Bronx. Pada akhir 1970-an, subkultur ini telah mendapatkan perhatian media dengan dilirik majalah Billboard yang mencetak sebuah artikel berjudul "B Beats Bombarding Bronx". Artikel tersebut mengomentari fenomena lokal dari subkultur hip hop dan menyebutkan tokoh-tokoh yang berpengaruh seperti Kool Herc.



A classic rapper and DJ set at a Bronz a park. Photo by Henry Chalfant (henrychalfant.com)

Hip hop yang merupakan sebuah subkultur merupakan penggabungan musik antara unsur-unsur lokal dan populer seperti aliran musik yang sebagian diambil dari Amerika juga dari Jamaika. Hip hop diakui mengikuti jejak aliran musik Amerika awal seperti blues, soul, funk, salsa, jazz, dan rock and roll dengan menjadi salah satu aliran musik yang sangat diperhitungkan di seluruh dunia. Musik hip-hop juga merupakan gerakan kebudayaan yang dikembangkan oleh masyarakat Afro-Amerika dan Latin-Amerika.

Kelompok masyarakat kulit hitam, terutama generasi muda yang direlokasi kemudian menyalurkan kreativitas mereka dalam beberapa cara, diantaranya adalah dengan musik hip-hop. Subkultur ini dikenal dengan kumpulan pemuda kulit hitam yang menyukai kegiatan rap, break dance, dan graffiti (Rose, 33-34). Pada awalnya, para pelaku subkultur ini, terutama rapper, menyuarakan rasa keprihatinan mereka merujuk pada kehidupan masyarakat kulit hitam yang tertindas, tidak berdaya, dan kurang terwakili di wilayah tersebut akibat adanya dominasi Barat. Pada awalnya, para rapper membuat kritik terhadap lembaga-lembaga polisi, pemerintah, dan media, serta diskriminasi yang dihadapi oleh orang kulit hitam dalam lagu-lagu mereka yang meawakili penderitaan orang kulit hitam (Rose, 106). Salah satunya adalah Boogie Down Productions pada tahun 1989 yang merilis lagu ”Who Protects Us From You?” sebuah lagu hip-hop yang mengomentari kebrutalan polisi dan rasisme .

Dengan mewakili kelompok masyarakat kulit hitam, penduduk Afrika yang mayoritas kulit hitam juga merupakan salah satu pelaku subkultur ini. Dalam konteks globalisasi kontemporer, identitas masyarakat Afrika melalui subkultur hip hop memberikan peluang dan tantangan bagi pemuda Afrika Timur untuk menegaskan idenititasnya. Melalui hip hop, pemuda Afrika menjadikan subkultur ini sebagai kendaraan paling jitu  untuk masuk dalam partisipasi politik. Musik diekspresikan oleh mereka sebagai sistem untuk masuk atau berpartisipasi dalam dunia politik. Lirik-lirik yang diciptakan seputar korupsi, kekuasaan kelas politik, hingga penipuan politisi.

Para pelaku subkultur hip hop mengecam ketidakadilan yang marajelala di lingkungan mereka, ditambah dengan fenomena marjinalisasi dan perampasan massa. Hip hop menjadi sebuah komponen yang berkembang pesat dari budaya kaum muda yang menyediakan forum untuk mengatasi masalah dan mengekspresikan identitas lokal dan global. Kini, subkultur hip hop telah menyebar ke perkotaan hingga pinggiran kota di seluruh dunia melalui teknologi informasi yang berkembang dengan pesat melalui media televisi (MTV) dan internet.

Glokalitas Dari Jogja Hip Hop Foundation

Dalam ranah global, kelompok baru dan sekumpulan orang yang berasal dari latar belakang dan budaya yang berbeda dapat mengambil keuntungan dalam subkultur hip hop sebagai bentuk suara untuk permasalahan yang dihadapi seperti masalah pemerintahan, penindasan, marjinalisasi, dan isu-isu sosial lainnya. Penyebaran musik hip-hop dapat memberikan masyarakat dan kelompok sosial yang kurang terwakili di negara-negara lain dan membentuk suatu identitas. Kini, hip hop terbuka untuk semua kalangan dan menerima kelompok baru yang menjangkau seluruh dunia melalui empat elemen yaitu rap, DJ, break dance, dan graffiti. Bisa dikatakan subkultur hip-hop kini berkembang menjadi budaya pop atau pop culture. 

Telah dipaparkan sebelumnya mengenai deteritorialisasi budaya. Budaya dalam perspektif tradisional selalu diidentikkan dengan lokal atau masyarakat tertentu kini dianggap mulai menghilang. Kini yang terjadi adalah saling tukar-pinjam (exchange) unsur-unsur antar kebudayaan-kebudayaan yang ada di dunia. Budaya-budaya yang sebelumnya dianggap saling terpisah antara satu sama lain kini tidak lagi demikian, batas-batasan tersebut menjadi kabur. Jika musik dipandang sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan, maka dapat dikatakan bahwa berbagai perubahan yang dialami oleh masyarakat dan kebudayaan akan berpengaruh pula terhadap musik yang terdapat di dalamnya.

Hal tersebut mengantarkan pada sebuah konsep glokalisasi. Glokal merupakan sebuah proses yang  mengevaluasi pengaruh-pengaruh global dalam konteks lokal. Friedman mengatakan bahwa glokalitas adalah:  The ability of a culture when it encounters other strong cultures, to absorb influences thatnaturally fit into and can enrich that culture, to resist those things that are truly alien and to compartementalize those things that, while different can nevertheles be enjoyed and celebrated asdifferent (Friedman 2000).

Seperti yang telah dikatakan pada bagian awal, sebagian kelompok menganggap globalisasi akan membawa dampak negatif. Hal tersebut menandakan ada kelompok yang merasa globalisasi menekan mereka, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh hegemonisme masyarakat negara adikuasa. Globalisasi adalah sebuah fenomena yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, masyarakat harus berupaya memaksimalkan efek dampak positif dan meminimalkan dampak negatifnya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan keseimbangan antara yang global dan lokal atau sering disebut dengan proses glokalisasi.

Masyarakat dengan budaya yang mengamalkan konsep glokalisasi tentunya telah melakukan pertukaran budaya, yaitu mengambil elemen-elemen dari budaya lain dan meningkatkan serta memperkaya budaya mereka. Dalam menjalankan proses glokalisasi, diperlukan persiapan dalam menghadapi kekuatan-kekuatan global. Salah satunya dengan dialogisme (Fernandez 2009). Dalam dialog antar budaya, budaya-budaya mampu berinteraksi secara demokratis, di mana tiap budaya punya kemampuan untuk mengungkapkan dan mempertahankan praktik-praktik dan kepercayaan-kepercayaan serta menyelidiki dan mengadopsi praktik dan kepercayaan budaya lain.

Salah satu cara melakukan glokalisasi menurut Fernandez adalah melalui pengetahuan lokal. Cara ini penting karena pengetahuan tersebut telah dites dan divalidasi dalam konteks lokal. Di samping itu semakin dunia berhubungan, semakin penting individu dan kelompok mendapatkan pendidikan dalam pengetahuan budaya lokal karena akan membangun suatu kerangka dari individu dan kelompok kolektif untuk mampu mengerti dan menginterpretasi dunia di sekeliling mereka. Pengetahuan lokal individu dan kelompok sosial membantu masyarakat menyaring pengaruh eksternal globalisasi.  Begitu individu dan kelompok sosial dapat merangkul pengaruh asing globalisasi dan mengintegrasikan aspek-aspek apa saja yang bernilai dan perlu bagi budayanya maka budaya-budaya lokal tidak akan tergantikan oleh pengaruh globalisasi. Dengan mengembangkan kerangka kultural yang kuat lewat pengetahuan dapat membantu individu dan kelompok sosial dalam melindungi kepentingan lokal dan membantu suatu keseimbangan antara yang lokal dan global (Fernandez 2009).

Globalisasi budaya membawa dampak pada proses hibridisasi musik lokal dalam bentuk aliran musik yang ada di negara lain. Salah satu contohnya adalah kehadiran grup hip hop asal Yogyakarta, Jogja Hip Hop Foundation. Grup ini adalah grup musik hip hop yang memadukan musik hip hop yang dibesarkan secara narasi global (budaya urban masyarakat Amerika dan Afrika) namun diaplikasikan secara lokal, yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa dalam liriknya. Selain dari segi linguistik, Jogja Hip Hop Foundation juga memadukan musiknya dengan instrumen-instrumen daerah seperti gamelan dan angklung.

Pada pemaparan yang telah disebutkan di awal, globalisasi diyakini dapat membawa dampak yang positif juga negatif bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang dapat mengakses dan memanfaatkan fenomena globalisasi ini tentunya akan mendapatkan keuntungan di tengah persaingan global. Bagi yang tidak bisa memanfaatkannya, globalisasi dapat merugikan dan membuat masyarakat terpinggirkan.

Melalui modernitas, budaya lokal yang ada tidak saja bisa terpinggirkan namun juga masyarakatnya akan terpinggirkan. Dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat seperti internet dan televisi, dapat menyebabkan kebudayaan lokal tergerus dan terpinggirkan karena tidak mampunya masyarakat untuk mengakses dengan beberapa faktor, di antaranya adalah kurangnya pengetahuan lokal.

Jogja Hip Hop Foundation adalah salah satu bentuk dari pengaplikasian produk globalisasi yang dinarasikan secara lokal dan menuai keberhasilan. New England Foundation For The Arts (NEFA) memberikan sebutan bagi Jogja Hip Hop Foundation sebagai Indonesia’s foremost crew stands in the cultural cross-hairs, rapping across language and other borders. Dilansir dari situs berita Lampungku.com, Mohammad Marzuki yaitu salah satu pendiri Jogja Hip Hop Foundation mengakui bahwa grup ini terbentukan sebagai sebuah pertanggungjawaban dirinya terhadap menghidupkan bahasa ibu atau bahasa Jawa. Mohammad Marzuki mengungkapkan bahwa tujuannya memasukan unsur lokal yaitu bahasa Jawa dalam musik yang dibesarkan secara global (hip-hop) adalah menjadikan bahasa Jawa sebagai milik publik.


Jogja Hip Hop Foundation (Photo from killtheblog.com)

Diakui olehnya juga bahwa kegiatan menggeluti musik hip hop yang dipadukan dengan bahasa Jawa dialaminya saat ia tinggal di Perancis. Dengan alasan sedang berada di luar negeri dan dipisahkan oleh jarak dengan tanah kelahiran, maka bahasa dan budaya Jawa menjadi penting baginya. Perasaan malu dan sedih menggeluti hatinya ketika ia sadar ia tidak mengetahui seluk beluk bahasa ibunya sendiri. Di samping itu, sebuah fakta yang diterimanya mengenai bahasa Jawa adalah bahasa yang paling tidak diminati anak muda, Mohammad Marzuki berisi keras untuk menjadikan musik hip hop sebagai jembatannya mengenalkan puisi Jawa ke khalayak luas khusunya anak muda. Untuk mempertahankan keberadaan Bahasa Jawa, sebanyak 40 kitab berbahasa Jawa koleksinya menjadi sumber inspirasi bagi Mohammad Marzuki dalam membuat musik dengan Jogja Hip Hop Foundation.

Proyek modernitas yaitu salah satu produk globalisasi memunculkan peluang baru atau alternatif baru karena adanya partisipasi besar. Contoh kasus yang diambil oleh penulis pada paper ini adalah kemunculan musik hip hop di karena adanya dominasi Barat. Musik hip hop adalah subkultur hip hop adalah salah satu subkultur yang lahir akibat tertindasnya suatu kelompok masyarakat yaitu masyarakat kulit hitam yang terpinggirkan karena selalu mengalami diskriminasi sosial. Musik hip hop yang berkembang dari Amerika tepatnya wilayah Bronx dan Afrika, kini menjadi mendunia karena adanya perkembangan teknologi informasi yang pesat. Perkembangan ini meliputi internet dan televisi yang mengakibatkan subkultur hip hop dikenal oleh dunia dan menjadi sebuah budaya pop.

Dalam fenomena globalisasi tentunya ada dampak yang ditimbulkan, globalisasi sering dianggap sebagai suatu fenomena yang merugikan karena mengikis atau menggerus budaya-budaya lokal yang ada akibat berkembang pesatnya teknologi informasi. Tentunya budaya lokal adalah salah satu identitas bagi suatu kelompok masyarakat. Bagi masyarakat yang bisa mengolah pengaruht dari fenomena  globalisasi tentunya akan berhasil menggabungkan hal-hal yang bersifat global dan lokal yang kemudian disebut glokalisasi.

Jogja Hip Hop Foundation adalah salah satu contoh fenomena dalam ranah musik yang mengaplikasikan musik yang dibesarkan dalam narasi global, namun diaplikasikan secara lokal dengan tujuan tertentu. Jogja Hip Hop Foundation dapat menggambarkan sebuah fenomena yang berkaitan antara proses globalisasi dengan pengaruh perkembangan teknologi informasi yang pesat, pembangunan identitas kultural dengan menggabungkan narasi global dan pengaplikasian secara lokal. Hal tersebut dapat dilihat dari musik hip hop yang masuk ke Indonesia melalui televisi yaitu acara musik di MTV serta internet membuat para pelaku seni khususnya musisi ikut menyemarakan musik hip hop yang telah menjadi budaya pop. Budaya pop yang kemudian terhubungkan dengan keterkaitan identitas kultural sama-sama tergambarkan dalam fenomena hip hop di Amerika dan Afrika juga di Indonesia. Keduanya sama-sama membangun identitas kultural melalui musik hip-hop.

Pengaplikasian glokalisasi dapat dilihat dari penggunaan musik hip hop yang merupakan musik asal Afrika dan Amerika  dan bahasa Jawa serta penggunaan gamelan pada komposisi lirik dan musik yang dibuat. Tujuannya yang tak lain adalah pembangunan identitas kultural sesuai pemaparan Mohammad Marzuki yaitu membuat bahasa Jawa menjadi kembali dilirik dan digunakan oleh khalayak luas.


REFERENSI:
Appadurai, A.
            1996. Modernity At Large. Minneapolis: University of Minneosta Press.
Dir. Byron Hurt
2006. Hip-Hop: Beyond Beats and Rhymes.
Heath, Scott R.
2006. True Heads: Historicizing the Hip_Hop ‘Nation’ in Context.

Internet:
Artikel “Cultural Identity and Diaspora” oleh Stuart Hall di situs http://www.unipa.it/~michele.cometa/hall_cultural_identity.pdf
Artikel Review “East African Hip Hop: Youth, Culture and Globalization” oleh George Gathigi di situs
Artikel “Mohammad Marzuki, Lewat Hip Hop Merambah Luar Negeri di situs http://lampungku.com/gaul/mohammad-marzuki-lewat-hip-hop-merambah-luar-negeri/#.UsYEJdIW37Y