Sabtu, 10 Mei 2014

Gerakan Metal Satu Jari: Agama Sebagai Produk Globalisasi dan Fenomena Perang Ideologi Melawan Westernisasi

Tak bisa dipungkiri lagi dalam masa kini batasan-batasan antar negara makin kabur atau bisa dikatakan menghilang. Hal ini disebabkan adanya seperangkat proses yang menciptakan kondisi di mana setiap pojok bumi menjadi terhubung atau dengan kata lain terciptanya interkoneksitas. Seperti apa yang dikatakan oleh Malcom Waters dalam bukunya yaitu Globalization (London: Routledge,. 1995), ia mengatakan bahwa globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma di dalam kesadaran orang.
Berbicara mengenai globalisasi, pastinya tak lepas dari pembicaraan dampak yang diakibatkan oleh proses ini. Mengkategorikan dampak positif maupun negatif dan membandingkan hal mana yang lebih berpengaruh adalah sebuah perspektif awam. Hal ini dikarenakan globalisasi adalah sebuah konstruksi di mana terdapat friksi-friksi yang menyebabkan resistensi dan kemudian muncul sekelompok masyarakat yang merasa terancam, yang mengakibatkan munculnya gerakan militan seperti militan agama.
Sejarah tak luput dari pembahasan mengenai globalisasi karena sejarah juga terkoneksi dengan dunia global atau menyebabkan jalinan interkoneksitas dan tidak bisa terpisahkan dari sejarah manusia. Dalam hal ini, relevansi bagi antropologi mencakup transformasi tatanan politik dan ekonomi  yang mengakibatkan transformasi sosial juga transformasi budaya.
Sejarah proses akumulasi global yang dimulai sejak imperialisme Barat pada abad ke-15 telah membawa ketimpangan relasi kekuasaan maupun penumpukan kekayaan secara tidak seimbang dalam skala global. Namun, banyak perspektif mengenai globalisasi yang sarat akan pada isu-isu ekonomi di mana isu-isu yang lain seperti dikesampingkan atau tidak berpengaruh kuat terhadap proses globalisasi ini. Globalisasi tidak hanya merupakan isu-isu ekonomi saja, tetapi juga bersinggungan dengan berbagai macam isu, salah satunya adalah isu agama. Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan sebuah fenomena yang berkaitan dengan isu agama dan isu seni musik yaitu mengenai kemunculan dan eksistensi dari One Finger Movement atau Gerakan Metal Satu Jari dalam komunitas Salam Satu Jari di Indonesia.

Agama Sebagai Produk Globalisasi

      Tulisan ini akan memaparkan mengenai fenomena agama Islam di tengah hingar-bingarnya proses globalisasi. Tak jarang, globalisasi dianggap sebagai hal yang negatif karena sarat akan ekspansi dari negara-negara adikuasa seperti kapitalisme yang merajalela. Fenomena kapitalisme menggambarkan bagaimana negara-negara tersebut mampu mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara Dunia Ketiga tidak mampu bersaing dengan digempurnya berbagai macam kegiatan yang mengarah ke kapitalisme. Tak hanya itu, globalisasi juga mempengaruhi dimensi budaya karena adanya perkembangan interaksi melalui media massa seperti dari televisi, musik, dan film. Sajian hiburan tersebut tentunya akan dikonsumsi oleh seluruh dunia yang akan memberikan perspektif baru terhadap diri kita.
Agama juga merupakan produk dari globalisasi di mana ada suatu keteraturan umum yang dibangun dalam lingkup tersebut dan adanya pemahaman kita mengenai dunia. Dalam dimensi agama, Clifford Geertz mengatakan bahwa dalam suatu religi atau agama terdapat konsep moods and motivation lalu ada kegiatan ritual, simbol, dan emosi yang merupakan karakter dari definisi agama. Pondasi dasar dari agama adalah untuk memahami dunia, maka dari itu globalisasi memiliki relasi yang kuat dalam lingkup agama.
Dalam subjek modern, agama dipahami sebagai sebuah istilah untuk mendefinisikan suatu gejala umum yang terjadi pasca abad pencerahan di Eropa. Orang-orang Eropa tentunya melakukan kontak pertama dengan wilayah koloni, di mana harus memahami konteks masyarakat yang berbeda seperti mereka memiliki agama dan aktifitas ekonomi yang berbeda. Adanya kebudayaan atau peradaban tertentu ditengah kebudayaan yang dijumpai. Dalam hal ini, adanya kegiatan mengkategorisasikan the others yang merupakan konstruksi orang Eropa terhadap yang ”lain”. Eropa memposisikan diri mereka menjaci yang paling utama, yang paling maju, dan paling beradab di mana sarat akan konsep modern.
Merujuk pada kategoriasi terhadap ”yang lain” atau the others, hal ini membuktikan bahwa adanya cara melihat dunia atau cara melihat yang lain dalam kategoriasi terhadap orang yang berbeda dengan diri kita. Islam kemudian menjadi salah satu contoh yang menjadikan adanya subjek modern. Terbentuknya konsepsi ini bersamaan dengan kekuasaan dan ekspansi karena harus mengontrol, harus mendefinisi, dan harus melihat permasalahan. Contohnya adalah ketika koloni datang, masih ada orang-orang yang percaya terhadap aliran animisme. Dari ekspansi tersebut adanya kegiatan mengkategorikan. Secara moral, orang-orang tradisional tersebut salah atau dianggap orang sesat, maka dari itu mereka harus dimasukkan ke dalam peradaban modern. Konsepsi ini menggunakan idiom yang berangkat dari agama Islam dan Kristen yang memiliki ciri untuk memahami ”manusia yang lain” sebagai suatu objek yang dicerahkan.

Modernitas sebagai moral order

Dahulu kafir ----------------------------à sekarang beragama
                                                          ’moral time’

Bagi orang Eropa, animisme adalah masa di mana adalah ”masa mereka di masa lalu”. Istilah kolonialisme dan gospel selalu berhubungan karena adanya justifikasi moral dan religi yang digunakan untuk melihat dan membuat, yang dilakukan oleh koloni menjadi legitimate, dalam konteks kolonialisasi. Dalam konteks Islam pun juga mengalami hal yang serupa.
Di lingkup kajian agama dan negara, suatu agama dikatakan adalah agama jika memiliki Tuhan, kitab suci, dan umat.  Agama juga memainkan peranan penting dalam narasi pembangunan. Agama menjadi penting karena mereka harus ikut dalam narasi pembangunan. Menjadi beragama adalah menjadi modern dan menjadi maju, inilah yang disebut program pembinaan agama. Di Indonesia, pada masa orde baru, agama menjadi penting sebagai identitas yang disajikan dalam Kartu Tanda Penduduk sebagai konteks administratif. Negara juga mendisiplinkan yang tidak terima terhadap agama modern. Kini, kebangkitan adat atau aliran kepercayaan menjadi respons agama modern karena agama dicirikan sebagai identitas modern.
Seperti yang telah dipaparkan di atas mengenai globalisasi mengakibatkan munculnya gerakan militan seperti militan agama karena terdapat friksi-friksi yang menyebabkan resistensi dan kemudian muncul sekelompok masyarakat yang merasa terancam. Gerakan militan Islam dapat dilihat dari beberapa aspek seperti teologi, politik, budaya, dan pendidikan. Dalam aspek teologis,  ajaran Islam sangat resisten terhadap perbedaan pandangan tentang sekularisasi. Dalam fenomena modern dianggap bahwa sekularisasi hanya akan menghilangkan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Agama dan sekularisasi sering diposisikan sebagai dua entitas yang berlawanan.
Tak jarang juga diamati dari berbagai literatur maupun media massa, globalisasi dianggap sebagai kelanjutan dominasi dan hegemoni Barat dari sisi intelektual Muslim. Dikutip dari tulisan Respon Umat Islam Terhadap Globalisasi dari Institut Pemikiran dan Peradaban Islam Surabaya, dikatakan bahwa Amerika memanfaatkan globalisasi untuk meruntuhkan norma-norma politik, ekonomi, dan budaya yang eksis di negara-negara non Barat. Dalam konteks ini, Amerika juga menggunakan yayasan-yayasan budaya dan ideologi globalisasi yang mana bertujuan untuk merealisasikan tujuan-tujuan imperialismenya tanpa menyebabkan reaksi-reaksi revolusioner, seperti yang pernah dilakukan oleh imperialisme Barat pada masa lalu. Fine power merupakan istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan pemanfaatan yayasan-yayasan milik Amerika tersebut.
Dalam bukunya Mark Levine yaitu Heavy Metal Islam (2008), ia mengatakan bahwa pengalaman umat Islam terkait globalisasi dimaknai sebagai sebuah ‘a post-modern culturalism yang erat dengan kulturalisasi politik dan ekonomi, sebagai momen yang menegaskan terjadinya globalisasi kontemporer. Dalam menghadapi diskursus semacam ini, intelektual Muslim meminta apa yang dinamakan ”hak untuk berbeda” secara kultural yang merujuk pada istilah the others yang sudah dipaparkan sebelumnya.
Penolakan umat Islam tehadap globalisasi lebih diasosiasikan dengan westernisasi, yang mana merekonstruksi nilai-nilai non Barat dan oleh para intelektual Muslim, globalisasi dianggap sebagai ghazwul fikri yaitu perang pemikiran). Westernisasi merupakan adanya proses pengadopsian budaya Barat dalam bidang industri, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, abjad, agama, filsafat, serta nilai-nilai.

Kemunculan Gerakan ”Salam Satu Jari” Dalam Memerangi Ideologi Barat Melalui Musik Metal

To whom it may concern, which testify to Syahadat. Israel had declared a war by throwing words.  Let’s fight in the name of Allah, jihad fi sabilillah. (Bagi siapa pun yang merasa telah bersaksi dan menyebut Syahadat. Israel telah menyatakan perang dengan menggunakan kata-kata atau ideologi, mari berperang dengan atas nama Allah. Mari berjihad di jalan Allah)
[Jihad – Tengkorak]
               
Salah satu bentuk gerakan yang muncul akibat fenomena globalisasi terutama peperangan melawan westernisasi dalam lingkup agama yaitu agama Islam adalah kehadiran Gerakan Metal Satu Jari atau One Finger Movement. Di Indonesia, gerakan ini menamakan diri mereka Salam Satu Jari yang mana anggotanya adalah personil band underground juga penikmat musik underground yang mencoba melawan westernisasi di mana dianggap tidak sesuai dengan akidah Islam dan budaya di Indonesia.  Komunitas ini lahir dari sebuah acara bertajuk Garage Festival, sebuah konser musik metal yang khusus diperuntukkan untuk korban kemanusiaan di Palestina.
Dilansir dari situs Jaringan Berita Terluas Di Indonesia dalam artikel Berjihad Lewat Musik Underground, Ubah Salam Metal Jati Satu Jari Tauhid dikatakan bahwa dalam komunitas Salam Satu Jari, salam metal yang sarat dipraktekan dengan dua jari yaitu jari telunjuk dan jari kelingking, kini dipraktekkan hanya menjadi satu jari. Hal ini menandakan satu makna yaitu tauhid atau satu Tuhan yang merujuk pada Laailaha Illallah dengan tujuan membela Islam, tidak yang lain dan hanya ada satu Tuhan yaitu Allah Yang Maha Esa. Salam metal dua jari dipercaya sebagai simbol pemujaan setan, maka dari itu komunitas Salam Satu Jari ingin mengubah persepektif tersebut menjadi suatu kebenaran.
Mempraktekan simbol metal dengan dua jari bagi komunitas ini merupakan konsep satanisme. Salah satu vokalis band metal yang tergabung dalam komunitas ini yaitu vokalis dari band Tengkorak, Ombat, mengatakan bahwa konsep satanisme digunakan oleh band-band metal sebagai sebuah kreativitas dalam aksi panggung. Seiring berjalannya waktu dengan perkembangan teknologi yang tinggi dan menghilangkan batasan-batasan antar belahan dunia, membuat musik metal menyebar dan berkembang yang kemudian meraup banyak penggemar musik ini. Tak ayal, banyak dari band-band metal ini secara tak sadar menggerakan massa untuk menggunakan simbol yang menyekutukan Tuhan. Fenomena ini juga dianggap sebagai cara penjajahan baru yang digunakan zionis dan kaum sekuler untuk menjauhkan anak muda dari agama.

Metal Satu Jari Ala Tengkorak (Photo: Hai Online)

Kini, komunitas Salam Satu Jari menjadi sebuah gerakan metal muslim yang menjunjung nilai-nilai keislaman dan telah tersebar di penjuru Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, hingga Makassar. Kegiatan gerakan Salam Satu Jari ini diantaranya adalah ketika pertunjukan musik underground sedang berlangsung, mereka akan mengumandangkan takbir di sela-sela pertunjukan. Mereka juga menghentikan acara ketika adzan berkumandang dan melaksanakan salat secara berjamaah.
Salah satu band metal ternama Indonesia yang juga tergabung dalam gerakan ini adalah Purgatory yang menyisipkan pesan positif dalam setiap liriknya. Purgatory menyatakan bahwa mereka berbeda dengan band-band metal lainnya karena mengajak para penikmat musik metal untuk berpegangan pada tauhid yang murni.  Pada album-albumnya, Purgatory secara terang-terang menyerukan taujih ruhiyah, obsesi terhadap akhirat, dengan musik mereka. Semua lagu yang mereka gemakan mengandung nilai amar ma’ruf nahi munkar, sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat dan dalam syariat Islam hukumnya adalah wajib.
Pada abad ke-14, di tanah Jawa terdapat sebuah kegiatan penyebaran agama Islam oleh wali songo yang berdakwah dengan wayang kulit, gamelan, dan filosofi simbol pada orang-orang kejawen, yang pada saat itu masih menganut animisme dan dinamisme. Terkait dengan dakwah agama Islam pada masa kini, Purgatory melalui Salam Satu Jari juga berdakwah dengan musik metal kepada orang-orang metal untuk membebaskan mereka dari paham sesat yang sering terdapat dalam lagu-lagu metal bersimbol kepala kambing dan pentagram.
Band-band metal yang tergabung dalam gerakan Salam Satu Jari ini menyatakan diri mereka berbeda dengan kebanyakan band metal lainnya, merujuk pada  prinsip dan idealisme Islam dan anti-Zionis yang diusung. Dari segi lirik, tentunya juga terdapat perbedaan dengan lirik lagu metal lain yang bertema anti Tuhan, memuja setan, dan kebebasan. Contohnya, lirik-lirik lagu Tengkorak yang berpedoman pada sirah nabawi, Al-Quran, dan hadist yang merupakan perjuangan anak band underground untuk berjihad dengan musik.
Dikatakan juga bahwa awal kemunculan gerakan Salam Satu Jari terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu di mana beberapa band metal seperti Tengkorak dan Purgatory mendapatkan hidayah dan tersadar bahwa karya musik mereka adalah konspirasi Barat untuk merusak generasi muda. Sejak saat itu, mereka memutuskan membawakan aliran musik tauhid. Meskipun alirannya tetap metal yaitu terdiri dari komposisi musik yang keras dan tempo yang cepat, lirik yang disajikan memiliki pesan anti pemurtadan oleh Israel dan Amerika Serikat.
Di masa kini dengan gempuran globalisasi yang makin menghilangkan batasan-batasan, gerakan Salam Satu Jari meyakini bahwa menyebarnya kajian seni, dalam hal ini musik metal, yang dialirkan dari Barat memiliki makna-makna tersembunyi. Gerakan ini meyakini bahwa negeri Zionis dan Amerika Serikat tidak memerlukan serangan fisik untuk menghancurkan negara-negara Muslim, melainkan hanya menyerang melalui budaya yang meliputi seni dan gaya hidup seperti penggunaaan obat-obatan terlarang, minuman keras, dan aliran musik underground yang mendewakan simbol setan dan anti-Tuhan. Dalam dunia musik internasional, banyak penikmat musik underground yang benar-benar menyembah simbol-simbol setan, dajjal, dan simbol okultisme atau aliran ilmu sihir yang berasal dari Yahudi. 
Dari fenomena tersebut, gerakan metal satu jari tersadarkan bahwa musik bisa menjadi alat dan doktrin untuk pembodohan. Maka dari itu, gerakan Salam Satu Jari hadir sebagai sarana dan wadah yang membangun perspektif baru yaitu bermusik, tetapi punya moralitas dan tetap religius. Gerakan ini sangat meyakini bahwa Islam adalah agama universal dan diterima semua kalangan bahkan meyakini bahwa pemuja setan dapat bertobat dan memeluk Islam jika media dakwah yang disampaikan sesuai dengan kehendak hati mereka. 

Salam Satu Jari (Photo: kaskus.co.id)

Melalui fenomena gerakan Salam Satu Jari ini tergambarkan bahwa konsep agama sebagai produk globalisasi makin terlihat, telah dijelaskan sebelumnya bahwa adanya suatu keteraturan umum yang dibangun dalam lingkup tersebut dan adanya pemahaman mengenai dunia. Hal ini didasarkan pada pondasi dasar dari agama adalah untuk memahami dunia yang membuat globalisasi memiliki relasi yang kuat dalam lingkup agama. Agama dalam subjek modern merupakan istilah untuk mendefinisikan gejala umum yang membuat manusia harus memahami konteks masyarakat yang berbeda. Muncullah kegiatan mengkategorisasikan the others yang merupakan konstruksi individu terhadap yang ”lain” yang membuktikan bahwa adanya cara melihat dunia atau cara melihat yang lain dalam kategoriasi terhadap orang yang berbeda dengan diri kita.
Gerakan Salam Satu Jari menjadi contoh dari kajian subjek agama modern karena mereka membedakan ”yang lain” yaitu yang menganut konsep satanisme, zionis, juga bisa disebut ajaran sesat atau orang kafir. Karena ada pengkategorisasian terhadap ”yang lain” dan dianggap sesat atau tidak benar, gerakan Salam Satu Jari bermaksud untuk ”mencerahkan” manusia yang lain tersebut. Terjadi moral time di mana gerakan Salam Satu Jari ini memberikan pesan-pesan yang mereka anggap positif dan mengajak penikmat musik underground untuk mengikuti jalan yang benar atau dengan kata lain ”mencerahkan” melalui salam satu jari yang berarti Tuhan hanyalah satu, yaitu Allah.
Peperangan melawan westernisasi juga tergambarkan dari bagimana gerakan ini memerangi ideologi Barat, dalam kasus ini adalah westernisasi. Dikatakan bahwa gerakan Salam Satu Jari menentang keras ideologi-ideologi Barat yang mereka bawa ke seluruh dunia melalui media massa seperti film, musik, dan buku seperti kegiatan memuja minuman keras dan seks bebas. Metal yang sebelumnya militan, kini dianggap tidak militan karena sudah masuk dalam dunia hedonis, yang dalam hal ini merupakan konsepsi masyarakat Barat. Gerakan Salam Satu Jari memiliki misi untuk mengubah pespektif dunia metal dan musik underground agar tidak terjerumus dalam dunia gelap seperti yang dianut oleh masyarakat Barat. Strategi ini dianggap oleh pengikut gerakan Salam Satu Jari dengan perang ideologi yang mana musik menjadi sebuah senjata untuk melawan dan bertahan dari fenomena westernisasi.
Dalam hal ini, terlihat adanya transformasi sosial yang disebabkan oleh proses akumulasi global yaitu westernisasi yang seolah-olah “menyerang” seluruh belahan dunia, terutama ke Asia yang notabenenya merupakan negara dunia ketiga. Transformasi sosial ini disebabkan karena adanya kontak dengan kebudayaan lain yaitu melalui musik. Transformasi yang terjadi dalam aspek budaya yaitu lingkup seni musik beraliran metal dan underground, di mana biasanya metal didefinisikan sebagai aliran musik yang sesat karena sarat akan simbol-simbol pemujaan setan. Dari fenomena yang telah tertanam oleh banyak orang tersebut, gerakan Salam Satu Jari membuat perubahan mengenai perspektif metal sebagai aliran musik yang ternyata tidak sarat akan perkumpulan orang sesat, namun juga bisa menjadi suatu gerakan yang mengajarkan kebenaran dan sarana ”mencerahkan” terhadap ”yang lain”.

Referensi:

Escobar, A.
1995. Encountering Development. New Jersey: Princeton University Press.
Geertz, Clifford
1966. Anthropological Approaches to the Study of Religion. London: Tavistock Publications
Madjid, Nurcholis
1998. Islam, Kemodernan, dan Keindoonesiaan. Bandung: Penerbit Mizan.

Internet:
Artikel Berjihad Lewat Musik Underground, Ubah Salam Metal Jadi Satu Jari Tauhid dalam situs Jaringan Berita Terluas di Indonesia http://www.jpnn.com/read/2011/03/09/86165/Berjihad-lewat-Musik-Underground,-Ubah-Salam-Metal-jadi-Satu-Jari-Tauhid- 

Artikel Respon Umat Islam Terhadap Globalisasi dalam situs Institut Pemikiran dan Peradaban Islam Surabaya http://inpasonline.com/new/respon-umat-islam-terhadap-globalisasi/ 

Artikel The Black Revolution, A Review of Heavy Metal Islam: Rock, Resistance, and the Struggle for the Soul of Islam by Mark LeVine http://www.criticalglobalisation.com/Issue%201/141_144_JCGS1_HOUWELINGEN_HEAVYMETALISLAM.pdf 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar