Kamis, 01 Mei 2014

Maraknya Penggunaan Emoticon Dalam Aplikasi Chating Oleh Online Shop

Dewasa ini, berbagai bentuk komunikasi hadir dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan. Salah satu bentuk komunikasi yang kini marak digunakan oleh masyarakat adalah bentuk computer mediated communications (CMC), komunikasi melalui komputer telah hadir dengan berbagai bentuk di mana salah satunya adalah chatting. Chat  yang mengambil dari istilah percakapan dianggap tidak mudah untuk dipadankan dengan perbincangan tatap muka offline karena memiliki komposisi berupa teks dan berwujud lisan.

Kemudian, muncul fenomena emoticon dalam chatting yang merupakan sebuah perangkat simbolik. Kemunculan emoticon menggambarkan adanya perubahan dalam pesan yang sebelumnya adalah tekstual. Menanggapi fenomena tersebut, penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan mengenai kehadiran emoticon dalam chat melalui layanan instant messaging. Fenomena ini menggambarkan bahwa adanya perubahan dalam penyampaian pesan melalui chat yang sebelumnya tekstual kini dipenuhi oleh perangkat simbolik.

Dalam menelusuri fenomena penggunaan emoticon, penulis tertarik untuk mengambil ranah online shop terkait komunikasi antara pemilik/penjual online shop dan pembeli melalui instant messenger. Dalam kegiatan chat online shop, tergambarkan suatu fenomena menarik di mana adanya penggunaan emoticon pada hampir setiap chat antara penjual dan calon pembeli, di samping itu kedua pihak ini sebelumnya tidak saling kenal. Padahal, informasi yang disampaikan bisa cukup dengan bentuk tekstual tanpa tambahan emoticon.

Permasalahan yang akan dikaji di antaranya adalah (1) Bagaimana dan atas dasar apa emoticon hadir dan kini digunakan dengan marak oleh banyak pengguna layanan chatting? Lalu, (2) Mengapa penggunaan emoticon menjadi intens dalam dunia chating meskipun para pihak yang terlibat belum menjajaki masa perkenalan yang cukup intim? Untuk mengkaji fenomena ini, penulis mengambil pendekatan teoritik cyberculture, pola makna dalam simbol atau pattern of meaning milik Clifford Geertz, komunikasi fatik milik Malinowski, dan teori tanda juga semiotika dari Ferdinand de Saussure.

Online shop kini tengah marak hadir di tengah kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat urban. Online shop merupakan sebuah ruang atau medium dalam dunia internet yang menyediakan layanan jual beli secara virtual. Layanan online shop di Indonesia hadir melalui layanan social media seperti Facebook dan Instagram. Para pemilik online shop mengunggah foto barang yang dijual dengan mencantumkan keterangan barang dan harga. Dalam setiap profil layanan online shop juga dilengkapi dengan informasi mengenai instant messaging seperti Line dan Whatsapp guna layanan bertanya mengenai informasi barang juga media untuk melakukan pemesanan barang.

Instant messaging banyak digunakan oleh para pelaku online shop karena dinilai merupakan bentuk komunikasi yang efektif untuk melakukan kegiatan jual beli di internet. Para pelaku dalam ranah online shop, baik penjual maupun calon pembeli dan pembeli, mengetahui tata cara melakukan kegiatan jual beli tersebut melalui media chat. Dimulai dari melihat barang yang dijual, kemudian bertanya mengenai informasi barang dan tata beli melalui instant messaging, lalu terjadilah transaksi.

Layanan instant messaging dalam dunia online shop tentunya menggunakan aktifitas chat. Chatting merupakan komunikasi melalui internet dengan interaksi yang bersamaan waktunya, synchronous communication. Pola komunikasi dalam chatting antara kedua pihak ini menarik karena para penjual (online shop) menggunakan emoticon dalam komunikasi dengan pihak yang tidak dikenal sebelumnya. Ketika calon pembeli bertanya tentang keberadaan atau informasi barang, penjual akan menanggapinya dengan jawaban serta penggunaan emoticon smile. Jika barang yang diinginkan telah habis atau ternyata tidak sesuai, penjual akan menawarkan pilihan barang yang lain disertai dengan emoticon smile. Ketika calon pembeli membatalkan kegiatan membeli dari online shop, tak jarang penjual akan memberikan emoticon kecewa atau sedih, dan jika transaksi akhirnya terjadi, penjual akan memberikan emoticon smile, big smile, hingga emoticon tanda peluk atau cium.

Pada dasarnya, bentuk komunikasi terbagi menjadi dua yaitu komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal berupa kata-kata atau bahasa yang diucapkan. Sedangkan, komunikasi nonverbal berupa gerak isyarat, mimik atau ekspresi muka manusia, dan bahasa tubuh lainnya. Bentuk komunikasi nonverbal menambah banyaknya makna yang tidak dapat dikomunikasikan oleh unsur-unsur verbal saja. Pada awalnya, unsur non-verbal tidak ditemukan dalam komunikasi online (chat) karena hanya dapat saling berkomunikasi dengan kata-kata. Namun, kini para pengguna komunikasi secara online dapat menambahkan emoticon sebagai bentuk komunikasi nonverbal untuk menunjukkan atau mengekspresikan perasaannya.

Pertama, penulis akan menggunakan pendekatan teoritik yaitu cyberculture. Bentuk komunikasi CMC tentunya diawali dengan fenomena cyberculture yang merupakan kebudayaan yang telah muncul, atau muncul, dari penggunaan jaringan komputer untuk komunikasi, hiburan dan bisnis. Cyberculture juga merupakan studi tentang berbagai fenomena sosial yang berhubungan dengan internet dan bentuk-bentuk baru komunikasi jaringan lainnya, seperti komunitas online (Manovich, 2003: 13-25).  Online shop dengan memiliki layanan instant messaging adalah salah satu contoh nyata dari CMC.

Pola komunikasi CMC yang tidak langsung ini diperlukan pemahaman dan kejelian komunikator terkait penggunaan bahasa CMC. Jika dalam komunikasi langsung, seseorang dapat membaca body language, perubahan mimik, atau nada suara, lain halnya dalam CMC. Diperlukan kejelian untuk bisa mengenali dalam suasana hati atau keadaan seperti apakah chat diketik oleh pengirim pesan. Cyberculture dapat menciptakan suatu bahasa dan simbol yang akhirnya dapat digunakan atau dipahami secara universal yaitu melalui emoticon yang merupakan suatu aplikasi pesan berupa simbol-simbol ekspresi emosi dalam pesan elektronik.

Berbicara mengenai simbol, penulis juga melakukan pendekatan teoritik milik Clifford Geertz yang mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol. Emoticon sebagai bentuk komunikasi simbolik tentunya memiliki pola-pola makna di dalamnya. Emoticon dalam merepresentasikan suatu makna dapat menjadi “pola dari” (model of ) dan “pola bagi” (model for).

Emoticon menjadi “pola dari” ekspresi emosi penggunanya. Simbol-simbol emosi dalam emoticon kemudian digunakan untuk membuat ekspresi dalam chatting. Hal tersebut menujukkan bahwa emoticos menjadi “pola bagi” cara-cara pengekspresian emosi secara visual non-verbal. Geertz menjelaskan bahwa suatu peristiwa atau fenomena yang sama dapat dimaknai secara berbeda, untuk dapat memahami makna seseorang harus melakukan thick description (diumpamakan dengan “lukisan mendalam”) yaitu melakukan interpretasi.

Emoticon dapat mengungkapkan perasaan penulis pesan tanpa harus menjabarkannya dengan kalimat. Manfaat menggunakan emoticon, pemberi pesan tidak perlu lagi mengetik kalimat untuk mengungkapkan suasana hati kepada orang yang akan diberi pesan. Bila tidak ada emoticon, pesan yang dikirim akan dirasa datar. Penulis mengambil pendekatan teoritik ini dengan tujuan mengungkapkan adanya suatu kegiatan pemberian dan pencarian makna mengenai penggunaan berbagai macam emoticon dalam aktifitas chat di online shop.

Dalam berkomunikasi tentunya memiliki sesuatu hal yang harus dipahami, salah satunya adalah tanda.  Teori yang membahas tanda adalah semiotik milik Saussure. Saussure berpendapat bahwa bukan dengan melihat simbol-simbol yang ada, tetapi melihat kesatuan yang ada. Dalam penggunaan emoticon, tindakan non-verbal tidak dapat menyampaikan pesan tanpa terlebih dahulu dijelaskan dengan cara-cara lain. Pesan yang terkandung hanya dapat dipahami dengan mengingat bahwa pikiran manusoia melakukan transformasi-transformasi (sintagmatik-paradigmatik atau metonomik-metaforik). Penulis menggunakan pendekatan teoritik ini untuk mengungkapkan bahwa penggunaan emoticon tidaklah bisa dipahami dengan hanya melihat bentuk simbol, namun harus dilihat dari kesatuan yang ada seperti pesan yang sebelumnya disampaikan oleh penjual di online shop.

Selain itu, penggunaan emoticons sebagai sebuah bentuk komunikasi dapat mempererat hubungan sosial masyarakat dalam berkomunikasi. Bentuk komunikasi seperti ini adalah bentuk komunikasi yang disebut oleh Malinowski sebagai komunikasi fatik. Komunikasi fatik merupakan suatu cara untuk mempertahankan hubungan dalam suatu masyarakat (Malinowski, 1923). Dalam hal ini, penjual di online shop menggunakan emoticon diduga untuk menjalin hubungan yang baik dengan pembeli agar mengantarkan keuntungan untuknya.

REFERENSI:
Geertz, Clifford
            1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Hakken, David
2004. The Cyberspace Anthropology: A Foreward, Antropologi Indonesia, Th XXVIII, No. 73, Januari-April 2004, hal iv-xvi
Malinowski, Bronislaw.
1923. The Meaning of Meaning. London: Routledge Press.

Internet:
Artikel Ferdinand de Saussure, On Signifying Signs di cdli.ucla.edu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar