Desa Cangkring, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu
merupakan daratan yang terletak di pesisir utara pulau Jawa Barat. Posisi Desa
Cangkring yang berada di pesisir menyebabkan lahan-lahan yang terdapat di desa
ini dijadikan lahan tambak, di mana dahulunya merupakan lahan sawah. Maka dari
itu, mata pencaharian yang sering dijumpai di desa ini adalah petambak dan
nelayan.Menurut pemaparan warga Desa Cangkring, dahulu lahan yang berada di
Desa Cangkring kebanyakan adalah lahan sawah. Namun, pada tahun 1921, aliran sungai Cimanuk pindah menuju ke Waledang.
Hal ini menyebabkan perubahan di mana kondisi
air berubah yaitu dengan fenomena naiknya air asin. Sekitar 200 hektar lahan
sawah terkena dampak air asin yang kemudian dijadikan tambak oleh para petani.
Diperkirakan pada
tahun 1921, 300 hektar menjadi tambak dan kini semuanya berubah menjadi tambak.
Hal ini dikarenakan sawah dinilai tidak menghasilkan terkait kadar air, sawah
memerlukan air tawar sementara di Desa Cangkring kadar airnya tercampur antara
air tawar dan air asin, di mana air asin menempati posisi bawah dan air tawar
menempati posisi atas yang tidak cocok untuk lahan sawah. Alih fungsi lahan
sawah menjadi lahan tambak tentunya juga dikarenakan penghasilan yang
menjanjikan atau dalam rangka memperoleh keuntungan yang lebih besar daripada
menanam padi.
Selain
itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan lahan sawah menjadi lahan
tambak. Pertama adalah rusaknya pintu air yang menyebabkan air asin masuk ke
lahan sawah dan menjadikan sawah menjadi tidak produktif. Faktor kedua adalah
meningginya harga udang pada tahun 1997. Saat terjadi krisis moneter, harga udang
mencapai Rp 130.000,00/kg. Melalui harga yang fantastis ini, sekitar 50% lahan
sawah berganti menjadi lahan tambak. Awalnya, fenomena ini dimulai saat seorang
petani menggarap tambak di pinggir sungai dan sawahnya, kemudian tambak
udangnya menuai hasil panen yang baik dan harga jualnya baik. Melihat
kesuksesan petani ini, hampir semua petani beralih menjadi petambak. Tambak
yang sering ditemui di Desa Cangkring diantaranya adalah tambak udang, di
antaranya udang windu dan vannamai (disebut paname oleh warga Desa Cangkring)
juga ikan bandeng.
Namun, fenomena tambak ini tidak berjalan
dengan mulus. Hal ini dikarenakan adanya kerentanan sistem tambak atau sustainibility yang tidak terjamin.
Penghasilan dari tambak udang berkurang mulai sekitar tahun 2000. Dikatakan
bahwa harga jual udang dari tahun 1998 hingga tahun 2000 mencapai harga jual
yang tinggi. Namun, setelah tahun 2000, harga udang jatuh. Tahun 1999 harga
udang turun hingga Rp 80.000,/kg, lalu tahun 2000 menjadi Rp 60.000,00/kg dan
kini harga udang menjadi Rp 40.000/kg.
Beralihnya lahan sawah
menjadi lahan tambak meskipun ada penurunan harga udang, memberikan gambaran
bahwa untuk tahun 1997 hingga sekarang diperlukan adanya berbagai macam cara
pengolahan lahan tambak agar kembali produktif dan memberikan penghasilan yang
menjanjikan. Tak hanya itu, kini kerentanan sistem tambak juga dihadapi oleh bermunculan
banyaknya jenis penyakit untuk udang. Sebelum tahun 1997, belum ada penyakit
yang menyerang udang. Pemakaian obat-obatan kimia atau pestisida yang memiliki
spektrum atau daya bunuh yang kuat banyak digunakan petambak untuk membuat
tambaknya menuai panen yang baik. Tentunya, pemakaian obat-obatan kimia
tersebut memberikan dampak pada tambak yang menyebabkan petambak harus memutar
otak untuk mencegah terjadinya gagal panen. Obat-obatan non kimia atau nabati
pun kini menjadi incaran petambak untuk digunakan pada tambak mereka. Hal ini
menggambarkan adanya perubahan dari beberapa petambak untuk penggunaan
obat-obatan kimia menjadi penggunaan obat non-kimia dalam sistem tambak.
Berdasarkan pemaparan di atas terkait perubahan
lahan sawah menjadi lahan tambak, kerentanan sistem tambak terkait pengaruh
lingkungan seperti air dan tanah juga bermunculannya banyak penyakit yang
menyerang ekosistem tambak, saya tertarik untuk mengkaji:
- Bagaimana
respon penambak terhadap ketidaktangguhan ekosistem tambak terkait
penggunaan pestisida?
- Mengapa
terjadi perubahan dalam pemilihan pestisida bagi beberapa petambak?
Melalui tulisan ini, saya bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah respon penambak terhadap
kerentanan atau ketidaktangguhan ekosistem tambak. Tentunya, pengetahuan
petambak (indigenous knowledge)
memainkan peran dalam memilih berbagai cara pengelolaan lahan tambak (rational choice). Mulai dari teknik
penanaman dan pengelolaan tambak, penggunaaan obat-obatan, pemberian pakan, hingga
salinitas air. Penulis juga ingin mengungkap apa saja penyebab beberapa
petambak mengubah penggunaan obat-obatan kimia atau pestisida menjadi
obat-obatan non-kimia dalam mengelola tambaknya.
Dalam melakukan penilitian ini, saya mengambil
lima informan yang bermata pencaharian sebagai petambak juga pemilik tambak di
sekitar Desa Cangkring. Informan pertama bernama Bapak Solihin yaitu petambak
udang paname sekaligus orang yang menanam jenis udang paname pertama di Desa
Cangkring. Informan kedua bernama Bapak Akronim yang mengolah tambak udang
windu, paname dan bandeng di Blok Karangkaji dan Desa Cantigi Sawah. Informan
ketiga yaitu Bapak Tirya yang memiliki tambak udang windu dan bandeng seluas 10
hektar di Desa Cangkring. Informan keempat yaitu Bapak Taufik yang merupakan
pemilik tambak bandeng imlek dan rumput laut sekaligus calon legislatif DPRD
Indramayu, Pak Taufik memiliki total lahan tambak seluas 25 hektar di Desa
Cangkring. Informan kelima yaitu Bapak Wanuri atau dikenal dengan nama Bapak
Lebe yang memiliki tambak udang paname dan windu secara bergantian juga
sesekali menanam bandeng.
1.1. Pengelolaan Lahan Tambak
Mengenai pengelolaan lahan tambak, petambak di
Desa Cangkring memiliki beberapa jenis tingkatan tanam udang, di antaranya
adalah tanam udang alami, tradisional, semi intensif dan intensif. Tanam udang
alami adalah sistem tanam udang yang tidak menggunakan bantuan apapun seperti
tidak menggunakan pakan, hanya ditanam lalu dibiarkan. Tanam udang tradisional
adalah tanam udang yang menggunakan bantuan pakan, pelet, atau pur. Tanam udang
semi intensif adalah tanam udang yang menggunakan pur juga kincir sederhana,
yaitu jumlah kincir hanya satu. Lalu, tanam udang intesif adalah tanam udang
yang menggunakan kincir dengan jumlah lebih banyak, biasanya dua hingga empat
kincir dalam satu tambak, juga menanam udang dengan populasi yang lebih banyak.
Tahap
pengelolaan tambak udang dan bandeng dimulai dari pembersihan tambak ketika
selesai panen. Tambak dibersihkan dengan mengeluarkan air, tetapi tidak sampai
asat atau habis airnya. Setelah itu, tambak diberikan pestisida atau
obat-obatan untuk menghilangkan atau mematikan hama yang ada, hama-hama yang
didapati di tambak diantaranya adalah ikan-ikan kecil, belut, hingga siput.
Lalu air tambak tersebut didiami dalam jangka waktu yang berbeda sesuai dengan
jenis pestisida atau obat-obatan yang digunakan. Setelah itu dimasukkan air
kembali dengan ukuran salinitas air yang berbeda, jika udang windu salinitas
yang baik adalah kisaran 10 hingga 30, jika udang paname salinitas yang baik
kisaran 30-40. Lain halnya dengan bandeng, bandeng adalah ikan yang bisa hidup
di air tawar maupun air asin. Setelah diisi air, benur atau bibit udang dan
bandeng siap ditebar dengan jumlah yang ditentukan oleh petambak. Setelah itu
dikelola dengan memberi pakan sesuai takaran dan siap dipanen, untuk udang
panennya kisaran dua hingga empat bulan, sedangkan bandeng kisaran enam bulan
hingga satu tahun.
Petambak di Desa Cangkring menggunakan pengetahuan
lokal mereka juga pengalaman dalam mengelola tambak mereka agar menuai panen
yang baik. Berbagai teknik atau pola penanaman benih udang maupun bandeng pun
dilakukan oleh para petambak. Tergambarkan bagaimana kefektifan pengeloalaan
sumber daya di Desa Cangkring mengenai keberlanjutan pengelolaan berasal dari
pengetahuan lokal atau indigeneous
knowledge, seperti bagaimana cara mengelola sumber daya tergantung pada
tempat, geografis, hingga karakteristik ekonomi.
Petambak di Desa Cangkring melihat proses adaptasi dari sudut pandang
lingkungan secara individu (dari masing-masing petambak) dan kelompok (sesama
petambak) dalam melakukan serangkaian pilihan teknik alternatif dan pola
strategis yang memiliki berbagai konsekuensi bagi sumber daya dan lingkungan.
Prinsip perilaku manusia dalam konteks penggunaan dan pengelolaan sumber daya
ini berakar pada psikologi manusia dan aspek ekonomi yang mencoba untuk
memahami tindakan sehari-hari yang ditemui di tambak.
Pada akhirnya, dalam mengelola tambak, petambak
dihadapkan pada suatu konsepsi yaitu rational choice yang merupakan salah satu aspek penting untuk
menganalisis komponen-komponen perilaku dari penggunaan sumber daya. Pilihan
tertentu dari tindakan atau tujuan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
berasal dari lingkungan atau proses sosial, dan bukan hanya karena kondisi
sumber daya itu sendiri. Rational
choice akan mengantarkan petambak untuk melakukan tindakan
yang dianggap dapat menguntungkan dengan melakukan kegiatan memilih suatu
teknik pengelolaan tambak dari berbagai jenis teknik pengelolaan yang ada.
Petambak di Desa Cangkring tentunya menemukan banyak pilihan dan alternatif
dalam mengelola tambak, namun melalui pengetahuan dan pengalaman masing-masing
petambak, pilihan pun akan berbeda namun dengan mengedepankan suatu tujuan
yaitu berupa keuntungan.
Di Desa Cangkring terdapat beberapa pemilihan pola
atau teknik pengelolaan tambak masing-masing seperti sistem tanam campur dan
sistem tebang gilir. Sistem
tanam campur adalah menanam udang dan bandeng dalam satu tambak untuk menghemat
lahan tambak. Contoh dari salah satu sistem pengelolaan tambak adalah
pengelolaan tambak milik Pak Akronim yang didapatkan dari pengalamannya
sendiri yaitu dengan sistem tebang
gilir. Tebang gilir diungkapkan oleh Pak Akronim sistemnya sama seperti pengelolaan
sawah, jika tanam padi sudah selesai maka ditanamlah umbi-umbian. Jika di
tambak, setelah udang selesai di panen, tambak langsung digunakan untuk bandeng
dalam empang kecil. Pak Akronim menyebut kegiatan ini dengan istilah ”ngetim” atau menimbun bandeng kecil.
Diakui juga oleh Pak Akronim, penimbunan bandeng ini walaupun keuntungannya
kecil, namun ketika dilepas di tambak hanya akan membutuhkan waktu dua bulan
dan sudah bisa dipanen. Tentunya, teknik ini menggambarkan bahwa adanya
kejelian dalam melihat peluang dalam penanaman udang dan bandeng yang akan
mengantarkan pada pendapatan yang menguntungkan. Dari pemaparan diatas,
tergambarkan bahwa Pak Akronim melakukan pilihan yang dianggap menguntungkan
berikut dengan konsekuensinya.
Gambar 1.1. Pak
Akromin sedang memberi pakan di tambak udang
Salinitas
air pun sangat berpengaruh dalam ekosistem tambak, air yang digunakan untuk
kehidupan tambak udang mempunyai takaran
seperti yang telah disebutkan di atas, 10-30 untuk udang windu dan 30-40 untuk
udang pana,e. Pak Tirya memiliki suatu alat untuk mengetes kadar air agar
tambak udang dan bandengnya memiliki salinitas air yang baik. Alat yang
dimiliki olehnya bernama pH Test Kit, suatu alat buatan Taiwan yang diperkenalkan
oleh Insinyur Budi Santoso saat berkunjung ke Desa Cangkring dalam penyuluhan
mengenai tambak. Cara mengetahui kadar air adalah dengan meneteskan air pada
tambak lalu diukur pHnya. Jika udang paname, kadar pH yang baik adalah kisaran
30. Sedangkan untuk udang windu adalah 10. Lalu, kadar air yang dites tersebut
juga harus dilihat warnanya. Untuk bandeng, warna yang baik adalah warna hijau,
sedangkan untuk udang warna yang baik adalah hijau daun atau biru laut.
Gambar 1.2 Alat pengukur kadar air untuk tambak udang dan bandeng,
pH Test Kit
Gambar 1.3 dan 1.4 Pengukur warna air untuk tambak
bandeng (atas) dan udang (bawah)
Pengelolaan
tambak juga dipengaruhi oleh pakan dari udang dan bandeng. Pak Taufik melihat
adanya kerentanan kehidupan ekosistem tambak bandengnya terkait pakan yang
diberikan. Bandeng memiliki masa mogok makan di mana akan mempengaruhi
keberlanjutan tambak bandeng. Jika terlalu banyak pakan yang diberikan, bandeng
akan mogok makan. Pada dasarnya, sistem pemberian pakan pada tambak Pak Taufik
selalu ditingkatkan satu karung pada tiap bulannya demi pertumbuhan bandeng
yang baik. Namun, tak jarang justru peningkatan pakan ini membuahkan aksi mogok
makan. Contohnya adalah ketika bandeng di tambak Pak Taufik menginjak usia enam
bulan, seharusnya pakan yang diberikan sebanyak enam karung, namun justru
berkurang menjadi empat karung.
Kesuburan tanah dan air juga memainkan
peranan penting dalam keberlangsungan sistem tambak. Pak Solihin mengungkapkan
bahwa untuk ekosistem tambak bandeng, kesuburan tanah sangat berpengaruh
dikarenakan pakan untuk bandeng tumbuh dari tanah. Contoh pakannya adalah klekap, yaitu sejenis lumut yang
bertekstur halus dan melekat di tanah. Jika kesuburan tanah dalam tambak
bandeng kurang, klekap tidak akan
tumbuh. Jika tanah dalam tambak bandeng tersebut subur, tentunya ketersediaan
makanan akan terjamin. Kini banyak tambak bandeng yang dibantu oleh pakan
seperti pakan pur untuk keberlanjutan pertumbuhan bandeng.
Rentannya
kehidupan tambak di Desa Cangkring juga tergambarkan dari pemaparan Pak Solihin
mengenai bagaimana ia mengelola tambaknya. Menurutnya, mengelola tambak adalah
salah satu kegiatan yang susah. Tahun 1997, Pak Solihin pernah melakukan
pengaplikasian pengolahan tambak dari tahun ke tahun demi mendapatkan hasil
yang baik. Ia mengatakan jika teknik mengelola sawah dari musim ke musim bisa
diaplikasikan dan menuai hasil yang sama. Lain halnya dengan tambak,
kelangsungan hidup tambak dengan pengaplikasian yang sama selalu menuai hasil
yang berbeda, entah dicoba dengan jumlah udang yang ditanam, kadar air, hingga
penanaman pada musim yang sama, hasilnya selalu berbeda.
Rhoades dan Bebbington (1995) dalam Seeds of Knowledge menegaskan bahwa
petani menciptakan solusi mereka sendiri, bukan hanya menjadi pengadopsi
teknologi yang telah diperkenalkan. Petani adalah peneliti dan inovator yang
aktif dalam memproses, menilai, dan menggabungkan informasi untuk memenuhi
kebutuhan mereka dengan kondisi yang ada. Dalam kasus Pak Solihin mengamati
kehidupan tambaknya mulai dari penanaman hingga panen dan bentuk uji coba
pengaplikasian yang sama dari masa tanam ke masa tanam lainnya menggambarkan
pernyataan dari Rhoades dan Bebbington. Pak Solihin menggabungkan informasi
yang ada dari tiap masa tanam untuk memenuhi kebutuhannya.
1.2. Munculnya Berbagai Macam Penyakit Dalam Ekosistem Tambak
Dalam ekosistem tambak, petani harus menghadapi
kerentanan atau ketidaktangguhan
sistem tambak mereka yang disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor
yang mempengaruhi kerentanan sistem tambak terkait dengan keberlangsungan (sustainibility) adalah bermunculannya
berbagai penyakit yang menyerang ekosistem tambak, terutama tambak udang.
Tambak pada tahun 1995 hingga 1996 menjanjikan penghasilan yang baik. Namun,
pada tahun 1997 hingga sekarang, sistem tambak diserang oleh bermunculannya
beberapa jenis penyakit yang menyerang udang. Hal ini menyebabkan petambak
harus waspada terhadap keberlangsungan tambak mereka.
Penyakit yang umumnya
menyerang udang di Desa Cangkring terbagi menjadi empat penyakit, diantaranya
adalah MBV, white spot, penyakit
kunang, dan stroke. Penyakit yang dinamakan MBV merupakan singkatan dari Monodon Baculovirus, yaitu penyakit yang
menyerang udang windu yang menyebabkan udang menjadi berwarna merah kecoklatan.
Lalu, penyakit white spot merupakan
jenis penyakit yang menyebabkan tubuh udang berbintik-bintik putih. Penyakit
kunang merupakan penyakit yang menyerang udang windu di mana ketika malam tiba,
udang ini akan menyala seperti kunang-kunang. Terakhir, penyakit stroke yaitu
penyakit yang menyerang separuh tubuh udang mati, yaitu dari tengah ke ekor.
Diakui oleh Pak Solihin, penyakit yang menyerang udang ini belum diketahui
penyebab pastinya. Menurutnya, bisa saja penyakit tersebut datang dari limbah seperti
limbah Pertamina dan juga pemakaian pestisida yang berlebihan. Namun,
penyakit-penyakit tersebut tidak membahayakan ketika dikonsumsi. Hanya saja,
penyakit ini berpengaruh pada penghasilan petambak. Untuk penyakit
kunang-kunang dan stroke masih bisa dijual, namun harganya menjadi jatuh.
Sedangkan, udang yang terkena penyakit MBV dan white spot tidak laku untuk dijual, maka dari itu petambak
mengonsumsinya sendiri.
Udang pun memiliki masa stress, hal ini dipaparkan
oleh Pak Solihin yang bisa saja menjadi salah satu faktor udang terkena
penyakit. Stress yang dialami oleh udang biasanya terjadi karena pengaruh
lingkungan seperti adanya perubahan lingkungan. Contohnya adalah ketika dalam
suatu tambak terdapat banyak udang dan tidak adanya angin pada malam hari, kondisi
ini menyebabkan udang akan mengalami stress. Hal ini dikarenakan oksigen tidak
bisa masuk dalam air dan volume oksigen pada air berkurang yang menyebabkan
udang naik ke permukaan air untuk mencari udara. Jika tidak direspon dengan
cepat akan menyebabkan udang mati. Maka dari itu, banyak petambak yang
memberikan kincir di tambak untuk mengantisipasi kestabilan oksigen dalam air.
1.3. Penggunaan Obat-Obatan Kimia Atau Pestisida Dan Efek Samping
Dalam pengelolaan lahan tambak, tentunya semua
petambak menginginkan kehidupan tambaknya berjalan dengan lancar yaitu dengan tidak
terserang penyakit dan hama, menuai panen yang sukses, dan meraup keuntungan
yang banyak. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa kehidupan tambak juga memiliki
kerentanan dari beberapa faktor seperti salinitas air, kesuburan tanah, dan
terutama adalah penyakit atau hama yang menyerang ekosistem tambak. Untuk menghindari kejadian yang akan
menyebabkan gagal panen, para petambak melakukan berbagai macam pencegahan
seperti yang telah dibahas di sub-bab sebelumnya. Namun, penggunaan obat-obatan
kimia atau sering disebut dengan pestisia juga menjadi pilihan yang digunakan
oleh banyak petambak Desa Cangkring. Tak jarang obat-obatan kimia atau
pestisida yang digunakan oleh petambak memiliki spektrum atau daya bunuh yang
luar biasa.
Telah dipaparkan mengenai rational choice di atas, penggunaan pestisida atau obat-obatan
kimia merupakan salah satu pilihan yang diambil oleh para petambak di Desa
Cangkring untuk menghasilkan keuntungan dengan segala konsekuensi yang ada.
Faktor ekonomi merupakan salah satu permasalahan dari ekologi mengenai pengaruh
pilihan dari strategi pengelolaan sumber daya.
Penggunaan pestisida biasanya dilakukan ketika
tambak dikeringkan dengan kondisi masih ada sedikit air di tambak. Hal ini dilakukan karena di tambak
terdapat ikan-ikan yang bisa menjadi hama bagi udang. Maka dari itu, ikan harus
dibunuh dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang sering ditemui di Desa
Cangkring diantaranya bernama Teodan, Akodan, dan Indodan.
Seperti pengalaman Pak Solihin dalam mengelola
tambak udangnya, Pak Solihin mengakui menggunakan beberapa jenis pestisida yang
bernama Teodan dengan pemakaian terakhir pada tahun 2011. Akodan didapatkan
oleh Pak Solihin di toko dengan harga Rp 20.000,00/botol. Padahal, Teodan
adalah salah satu pestisida yang dilarang dari Inpres karena berspektrum luas
yaitu daya bunuhnya atau resistensinya di lahan berjangka waktu lama dan bisa
membunuh bibit-bibit baru. Dipaparkan oleh Pak Solihin, Teodan masih dijual
bebas pada tahun 2011 dengan harga yang cukup tinggi, yaitu Rp 400.000,00/100ml.
Pak Akronim juga mengakui bahwa dirinya
menggunakan Teodan untuk mengusir hama di tambak udangnya saat dikeringkan. Tak
hanya Teodan, Pak Akromin juga menggubakan Akodan. Akodan digunakan untuk
mematikan hama yang ada pada tambaknya seperti ikan mujair, ikan lundu, hingga
belut. Pestisida yang dikemas dalam kaleng dan berbentuk cair juga berwarna
putih ini diakui Pak Akronim memiliki efek samping pada kehidupan tambak. Penggunaan pestisida Akodan memakan waktu yang lama
untuk pengeringannya yaitu setelah pestisida digunakan, lahan tambak harus
didiami selama satu minggu kemudian airnya dibuang dan diisi air baru kembali,
setelah itu baru bisa menanam kembali. Hal ini dikarenakan kandungan pestisida
Akodan bisa membunuh udang dan bandeng, maka dari itu diperlukan waktu satu
minggu untuk menghilangkan racun yang menempel pada lahan tambak.
Pak Akronim juga pernah menggunakan pestisida
bernama Bentan untuk membunuh siput. Siput adalah salah satu hama bagi tambak
udang dan bandeng. Siput dinilai menganggu pertumbuhan udang dan bandeng karena
siput turut memakan pelet untuk udang dan bandeng. Selain itu, siput hidup di
lumpur yang menyebabkan air tambak menjadi keruh. Keberadaan siput membuat
pertumbuhan udang dan bandeng menjadi rusak karena tidak akan tumbuh besar. Penggunaan
Bentan pada satu hektar lahan tambak diperlukan sekitar setengah kilogram. Efek
samping dari Bentan sama seperti Akodan, namun memerlukan waktu yang lebih lama
yaitu sekitar setengah bulan untuk didiamkan agar racun yang menempel hilang,
jika perhitungan waktu tidak tepat akan mematikan udang dan bandeng.
Telah dijelaskan sebelumnya pada sub-bab sebelumnya,
beberapa petambak di Desa Cangkring menggunakan sistem tanam campur yaitu
antara udang dan bandeng dalam satu tambak. Kehidupan tambak udang di Desa
Cangkring kebanyakan memakan waktu dua bulan lalu panen, sedangkan bandeng dari
enam bulan hingga satu tahun. Dalam sistem tanam campur, tentunya waktu panen yang
berbeda ini menghasilkan pengelolaan yang berbeda juga ketika panen. Beberapa
petambak Desa Cangkring menggunakan obat kimia bernama Ripcord untuk melakukan
panen udang. Ripcord ditaburkan di lahan tambak yang kemudian akan mematikan
udang, namun tidak mematikan bandeng yang ada di tambak tersebut juga.
Gambar 1.5 Ripcord, obat kimia untuk membunuh udang saat panen
dalam sistem tanam campur dengan bandeng
Pak Lebe adalah salah satu petambak yang
mengaplikasikan sistem tanam campur udang windu dan bandeng. Saat ia ingin
memanen udang windu, lahan dihisap namun jangan terlalu asat, lalu ditaburkan Ripcord
di sekelilingnya. Beberapa saat, udang akan mati akibat terkena Ripcord, namun
bandeng yang ada tidak akan mati karena Ripcord hanya mematikan binatang
berdarah putih. Dikatakan bahwa jika tidak memakai Ripcord, panen udang bisa
saja tidak tuntas karena ada yang terlewat. Pemakaian Ripcord pada lahan tambak
juga dilakukan oleh Pak Akronim yang turut mengaplikasikan sistem tanam campur.
Berbeda lagi dengan lahan tambak milik Pak Taufik,
tambak bandeng Imlek miliknya lebih dekat dengan laut dibandingkan lahan tambak
informan penulis lainnya. Tambak milik Pak Taufik lebih rentan terkena hama
berupa ikan-ikan kecil karena letaknya dekat dengan pintu air dan sirkulasi air
berasal dari air laut, hal ini menyebabkan ikan-ikan kecil yang masuk ke tambak
milik Pak Taufik lebih banyak. Untuk mencegah tambaknya dari hama, ia
menggunakan beberapa obat-obatan seperti Supersit dan Ripcord. Supersit
digunakan agar ikan mujaer mati sehingga tidak menganggu pertumbuhan bandeng
Imlek. Selain itu, Pak Taufik menggunakan pestisida bernama Darmasan yang
berguna untuk membunuh hama berupa ikan-ikan kecil. Diakuinya, ikan-ikan kecil
ini akan membuat air tambak menjadi keruh.
Dalam argumen rational
choice, akar masalah dapat ditemukan dalam pilihan yang dibuat oleh
individu dalam proses memuaskan keinginannya. Beanett dalam Human
Ecology as Human Behavior mengamati dari sudut pandang individu, bahwa
kegiatan memilih ini adalah dasar dari teori ekonomi modern. Kemungkinan bahwa
kepuasan tersebut dapat mengakibatkan kekurangan atau hilangnya kapasitas
sumber daya. Selain masalah hilangnya kapasitas sumber daya, kerusakan
lingkungan juga bisa terjadi dari sistem pengelolaan tambak dengan menggunakan
pestisida atau obat-obatan kimia.
1.4. Perubahan Penggunaan Obat Kimia Menjadi Obat
Non-Kimia
Perubahan penggunaan obat kimia dalam pengelolaan lahan
tambak di Desa Cangkring ditemui dalam lahan tambak informan penelitian ini.
Telah dipaparkan diatas bahwa rata-rata para petambak menggunakan obat-obatan
kimia atau pestisida untuk mengusir hama seperti ikan-ikan kecil, belut, hingga
siput. Hampir semua pestisida yang digunakan tentunya mempunyai efek samping
seperti spektrum atau daya bunuhnya yang luar biasa, di mana dibutuhkan waktu
yang lama untuk mendiami atau mengeringkan lahan tambak guna racunnya hilang
atau tidak menempel lagi di tambak.
Kini, rata-rata para petambak di Desa Cangkring
beralih menggunakan obat non-kimia untuk pengelolaan lahan tambak, yaitu dengan
memakai Samponi. Samponi merupakan obat non kimia yang digunakan untuk
pengelolaan tambak untuk mengusir hama yaitu ikan-ikan kecil. Diakui oleh Pak
Solihin, Samponi merupakan bibit teh yang penjualannya diletakan di dalam karung
dengan tidak ada pencantuman keterangan komposisinya. Samponi berbentuk bubuk,
tetapi banyak butiran kasar dan penggunanaanya melalui cara disebar di tambak.
Samponi juga memiliki manfaat lain terutama untuk tambak udang, Samponi dapat
menjadi vitamin untuk udang sekaligus mempercepat pergantian kulit udang.
Gambar 1.6. Samponi, obat pengusir
hama yang berasal dari bibit teh sekaligus vitamin bagi udang
Pak Solihin adalah salah satu petambak yang
mengubah pemakaian obat-obatan kimia untuk tambak menjadi obat-obatan non
kimia. Sejak tahun 2011, Pak Solihin yang sebelumnya memakai Teodan untuk
pengusir hama di tambaknya, kini beralih menggunakan Samponi. Perubahan ini
diakui oleh Pak Solihin saat dahulu memakai Teodan, udang yang ada di tambaknya
terkadang mati. Mengenai kerentanan ekosistem tambak udangnya, ia juga
memaparkan bahwa semenjak tidak menggunakan Teodan, penyakit yang menyerang
udangnya justru jarang muncul. Dari pemaparan tersebut, tergambarkan bahwa
penggunaan pestisida justru bisa membuat udang terkena penyakit. Namun, di satu
sisi Pak Solihin berkata penghasilannya terkadang tidak menentu, bisa lebih
banyak dari yang menggunakan pestisida, bisa juga lebih sedikit.
Tahun 2012, Pak Solihin mulai mengamati dan
mencatat hal-hal yang terjadi pada tambak udangnya. Pak Solihin mengalami hanya satu kali gagal
panen udang paname pada tahun 2012,
dengan total enam kali panen semenjak tidak menggunakan Teodan. Rata-rata
keberhasilan panen pak Solihin mencapai angka 20.000 udang paname, sedangkan
saat gagal panen mencapai angka 16.000 udang paname. Dikatakan kegagalan panen
ini dikarenakan penyakit, Pak Solihin tidak memberikan pencegahan seperti
penggunaan obat-obatan karena paname belum diketahui penyakitnya. Penyakit
udang seperti MBV, white spot,
stroke, dan kunang-kunang adalah penyakit yang menyerang udang windu. Paname
adalah jenis udang yang termasuk baru di Desa Cangkring. Tahun 2000, Pak
Solihin adalah petambak pertama di Desa Cangkring yang menanam udang paname.
Bibit udang ini pertama kali di dapat dari PT. Bratasena, Lampung, Sumatra
Selatan dan harganya Rp 36,00/ekor saat itu. Pak Solihin juga mengaku saat ia
dahulu membuka tambak bandeng, sekitar tahun 1983 ia menggunakan pestisida,
namun semenjak tahun 1990 pemakaian dihentikan. Dengan tidak menggunakan
pestisida, Pak Solihin berkata bahwa bandengnya jarang terkena penyakit.
Sama halnya dengan Pak Akronim yang sering
melakukan sistem tanam campur pada tambaknya yaitu udang windu dan bandeng.
Pada tahun 2010, Pak Akronim sering menggunakan Ripcord untuk membunuh udang
saat masa panen udang. Namun, di tahun 2011 Pak Akronim sudah mulai tidak
mengggunakan Ripcord karena pengalamannya terdahulu ketika kadar air sedang
terlalu asin dan diberikan Ripcord, bandeng dalam tambak bisa mati. Kini, Pak
Akronim hanya menggunakan Samponi untuk mencegah bandeng dalam tambaknya mati.
Selain itu, perubahan ini dilakukan karena menggunakan Samponi hanya butuh satu
hari untuk menghilangkan racun di tambak, berbeda dengan Akodan yang
membutuhkan waktu satu minggu untuk menghilangkan racun.
Pak Taufik juga melakukan perubahan penggunaan
obat-obatan untuk tambaknya, kini ia hanya menggunakan Samponi untuk mengusir
hama berupa ikan-ikan kecil. Selain itu, diakuinya bahwa rumput laut yang ada
di tambaknya juga membantu pertumbuhan ikan bandeng. Hal ini dikarenakan rumput
laut mencegah kotoran, biasanya bandeng mencari makan dengan menyusupi lumpur
dan membuat air tambak menjadi keruh. Pak Taufik mengungkapkan bahwa penggunaan
pestisida bisa membahayakan tambaknya karena mengandung bahan kimia. Memang
pastinya sekarang belum dirasakan apa kerugiannya, namun untuk kedepannya pasti
terdapat hal-hal yang mengubah ekosistem tambak, jadi mulai kini Pak Taufik
sudah tidak memakai pestisida berbahan kimia untuk menghindari rusaknya
ekosistem tambak di masa depan.
Gambar 1.7. Tambak Pak Taufik, tambak bandeng dan tambak
rumput laut
Begitupula dengan Pak Lebe, kini ia hanya
menggunakan Samponi ditambah dengan Ursal, yaitu penambah nafsu makan yang
berbentuk cair. Pak Lebe mengatakan bahwa pemakaian pestisida seperti Ripcord
berbahaya karena mengandung zat kimia. Untuk membunuh hama, setelah panen Pak
Lebe menyebarkan Samponi pada tambaknya dan baru memasukan benur (bibit ikan)
saat ikan kecil sudah mati. Penggunaan Samponi pada lahan tambak udangnya juga
dilakukan setiap satu setengah bulan.
Kesadaran mengenai kefektifan pengelolaan sumber daya di Desa
Cangkring yaitu terkait keberlanjutan pengelolaan juga menjaga lingkungan dan
integritas ekosistem tambak didapatkan dari pengetahuan dan pengalaman para
petambak. Pengalaman petambak menggunakan berbagai macam obat-obatan kimia atau
pestisida memberikan pengetahuan dalam hal pengelolaan tambak. Petambak
memerhatikan bagaimana perubahan demi perubahan terjadi dalam hal penggunaan
obat-obatan kimia yaitu dampak bagi keberlangsungan tambak udang dan bandeng
mereka.
Hal ini menunjukan adanya dynamic nature of knowledges formation dalam Seeds of Knowledge yang menghasilkan pengetahuan dan penjelasan
bagaimana variabelnya dan bagaiamana keanekaragaman menjadi acuan untuk
berubah. Lalu, proses dari knowledges
formation ini dibutuhkan untuk menggabungkan variasi dan memberi tingkatan
dari peristiwa, tindakan, pengalaman, dan untuk menunjukan bagaimana perubahan
yang terjadi. Hal yang menjadi fokus dari proses ini adalah: 1) bagaimana
pengetahuan menjadi pedoman dalam bertindak, 2) bagaimana peristiwa, tindakan,
dan interaksi berada diantara pengetahuan petambak dan pengaruh dari perilaku
dalam pengelolaan sumber daya, 3) bagaimana perubahan terjadi pada level
tertentu.
Dengan adanya perubahan penggunaan pestisida dan
obat-obatan kimia, tergambarkan juga adanya upaya terkait keberlanjutan
ekosistem tambak yang baik (sustainibility).
David Henley dalam Natural Resource
Management: Historical Lessons from Indonesia mengungkapkan bahwa terdapat
suatu konsepsi tragedy mengenai
perubahan pengelolaan ekosistem, dalam konteks ini adalah perubahan penggunaan
pestisida menjadi ke obat-obatan non-kimia. Beberapa alasan yang diungkapkan
petambak mengenai alasan peralihan penggunaan pestisida ini dikatakan bahwa
pestisida bisa merusak ekosistem untuk keberlanjutan hidupnya.
Hal ini menunjukan adanya penghindaran terhadap tragedy of indifference yaitu mengetahui
apa akibat akan penyalahgunaan obat-obatan kimia terhadap tambak, tetapi belum
mengalaminya. Seperti yang dikatakan Pak Taufik di atas, ia memang belum merasakan
kerugiannya saat ini, namun untuk kedepannya ia berpikir akan terdapat hal-hal
yang mengubah ekosistem tambak jika memakai pestisda, jadi mulai kini Pak
Taufik sudah tidak memakai pestisida berbahan kimia untuk menghindari rusaknya
ekosistem tambak di masa depan.
1.5. Kesimpulan
Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan petambak (indigenous
knowledge) sangat memainkan peranan penting dalam hal pengelolaan tambak, bagaimana pengetahuan masyarakat asli tentang lingkungan ikut serta dalam pengelolaan ekosistem
tambak. Hal ini didasarkan karena setiap masyarakat punya
pandangan tersendiri atau pengetahuan terhadap lingkungannya atau disebut self consciousness. Pengalaman dalam
mengelola tambak udang dan bandeng dari tahun ke tahun dengan segala perubahan
membuat petambak merumuskan beberapa teknik atau pola pengelolaan tambak yang
tersedia dan memilih suatu teknik pengelolaan tambak dengan tujuan ekonomi,
yaitu menghasilkan keuntungan.
Adanya dinamika pengetahuan dari petambak sendiri,
juga sesama petambak lainnya, bahkan dari penyuluhan yang diberikan ahli atau
insinyur dirumuskan hingga menemukan suatu teknik pengelolaan tambak yang
dianggap menguntungkan. Dinamika pengetahuan ini kemudian mengantarkan petambak
dalam melakukan tindakan yang dianggapdapat memberikan keuntungan (rational choice), seperti pemilihan
teknik penanaman tradisional, semi intensif, maupun intensif juga sistem tanam
campur dan tebang gilir dengan dirumuskan keuntungan dan berbagai
konsekuensinya.
Perubahan pengelolaan tambak
dari penggunaan obat-obatan kimia atau pestisida menjadi obat-obatan non-kimia
pun diaplikasikan karena adanya dynamic nature of knowledges
formation. Konsep ini
menghasilkan pengetahuan dan penjelasan mengenai konsekuensi atau efek samping
penggunaan pestisida bagi keberlanjutan sistem tambak mereka (sustainibility) menjadi acuan untuk
melakukan perubahan, seperti membuat udang atau bandeng para petambak mati
karena terkena sisa racun saat mengusir hama.
Melalui pengetahuan dan
pengalaman, petambak menciptakan solusi dengan hanya tidak mengadopsi beberapa
pilihan pencegahan yang tersedia, namun juga dengan meneliti, menilai, dan menggabungkan informasi
untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan kondisi ekosistem tambak mereka pada
masa kini, seperti apa yang dikatakan oleh Rhoades dan Bebbington (1995).
Tentunya perubahan penggunaan obat-obatan untuk tambak ini bertujuan untuk
keberlanjutan ekosistem tambak yang lebih baik di masa depan.
Referensi:
Bennett, J.W,
1980. Human Ecology As Human Behavior. New York: Plenum Press.
Dove, M.R. & Carpenter
2008. Environmental Anthropology: A Historical Reader. Malden, Oxford,
Carlton: Blackwell Publishing.
Dove, Michael R.
2006. Indigenous People and Environmental Politics. New Haven: Yale
University.
Henley, David
2008. Natural Resource Management: Historical Lessons from Indonesia.
Netherland: Springer.
Winarto, Y.T.
2004. Seeds of Knowledge: The Beginning of Intergrated Pest Management In
Java. New Haven: Yale Southeast Asia Studies Monograph.







Kurang akeh kang tulisane
BalasHapusTidak mencantumkan aturan pakai samponi yg berfungsi sebagai vitamin bagi udang dan ikan
BalasHapusSupersit sekarang sudah tidak ada.
BalasHapus