Sabtu, 10 Mei 2014

Perubahan Penggunaan Obat Kimia Menjadi Non-Kimia Pada Lahan Tambak Desa Cangkring, Indramayu

Desa Cangkring, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu merupakan daratan yang terletak di pesisir utara pulau Jawa Barat. Posisi Desa Cangkring yang berada di pesisir menyebabkan lahan-lahan yang terdapat di desa ini dijadikan lahan tambak, di mana dahulunya merupakan lahan sawah. Maka dari itu, mata pencaharian yang sering dijumpai di desa ini adalah petambak dan nelayan.Menurut pemaparan warga Desa Cangkring, dahulu lahan yang berada di Desa Cangkring kebanyakan adalah lahan sawah. Namun, pada tahun  1921, aliran sungai Cimanuk pindah menuju ke Waledang. Hal ini menyebabkan perubahan di mana kondisi air berubah yaitu dengan fenomena naiknya air asin. Sekitar 200 hektar lahan sawah terkena dampak air asin yang kemudian dijadikan tambak oleh para petani.

Diperkirakan pada tahun 1921, 300 hektar menjadi tambak dan kini semuanya berubah menjadi tambak. Hal ini dikarenakan sawah dinilai tidak menghasilkan terkait kadar air, sawah memerlukan air tawar sementara di Desa Cangkring kadar airnya tercampur antara air tawar dan air asin, di mana air asin menempati posisi bawah dan air tawar menempati posisi atas yang tidak cocok untuk lahan sawah. Alih fungsi lahan sawah menjadi lahan tambak tentunya juga dikarenakan penghasilan yang menjanjikan atau dalam rangka memperoleh keuntungan yang lebih besar daripada menanam padi.

            Selain itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan lahan sawah menjadi lahan tambak. Pertama adalah rusaknya pintu air yang menyebabkan air asin masuk ke lahan sawah dan menjadikan sawah menjadi tidak produktif. Faktor kedua adalah meningginya harga udang pada tahun 1997. Saat terjadi krisis moneter, harga udang mencapai Rp 130.000,00/kg. Melalui harga yang fantastis ini, sekitar 50% lahan sawah berganti menjadi lahan tambak. Awalnya, fenomena ini dimulai saat seorang petani menggarap tambak di pinggir sungai dan sawahnya, kemudian tambak udangnya menuai hasil panen yang baik dan harga jualnya baik. Melihat kesuksesan petani ini, hampir semua petani beralih menjadi petambak. Tambak yang sering ditemui di Desa Cangkring diantaranya adalah tambak udang, di antaranya udang windu dan vannamai (disebut paname oleh warga Desa Cangkring) juga ikan bandeng.

            Namun, fenomena tambak ini tidak berjalan dengan mulus. Hal ini dikarenakan adanya kerentanan sistem tambak atau sustainibility yang tidak terjamin. Penghasilan dari tambak udang berkurang mulai sekitar tahun 2000. Dikatakan bahwa harga jual udang dari tahun 1998 hingga tahun 2000 mencapai harga jual yang tinggi. Namun, setelah tahun 2000, harga udang jatuh. Tahun 1999 harga udang turun hingga Rp 80.000,/kg, lalu tahun 2000 menjadi Rp 60.000,00/kg dan kini harga udang menjadi Rp 40.000/kg.

            Beralihnya lahan sawah menjadi lahan tambak meskipun ada penurunan harga udang, memberikan gambaran bahwa untuk tahun 1997 hingga sekarang diperlukan adanya berbagai macam cara pengolahan lahan tambak agar kembali produktif dan memberikan penghasilan yang menjanjikan. Tak hanya itu, kini kerentanan sistem tambak juga dihadapi oleh bermunculan banyaknya jenis penyakit untuk udang. Sebelum tahun 1997, belum ada penyakit yang menyerang udang. Pemakaian obat-obatan kimia atau pestisida yang memiliki spektrum atau daya bunuh yang kuat banyak digunakan petambak untuk membuat tambaknya menuai panen yang baik. Tentunya, pemakaian obat-obatan kimia tersebut memberikan dampak pada tambak yang menyebabkan petambak harus memutar otak untuk mencegah terjadinya gagal panen. Obat-obatan non kimia atau nabati pun kini menjadi incaran petambak untuk digunakan pada tambak mereka. Hal ini menggambarkan adanya perubahan dari beberapa petambak untuk penggunaan obat-obatan kimia menjadi penggunaan obat non-kimia dalam sistem tambak.

Berdasarkan pemaparan di atas terkait perubahan lahan sawah menjadi lahan tambak, kerentanan sistem tambak terkait pengaruh lingkungan seperti air dan tanah juga bermunculannya banyak penyakit yang menyerang ekosistem tambak, saya tertarik untuk mengkaji:
  1. Bagaimana respon penambak terhadap ketidaktangguhan ekosistem tambak terkait penggunaan pestisida?
  2. Mengapa terjadi perubahan dalam pemilihan pestisida bagi beberapa petambak?

Melalui tulisan ini, saya bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah respon penambak terhadap kerentanan atau ketidaktangguhan ekosistem tambak. Tentunya, pengetahuan petambak (indigenous knowledge) memainkan peran dalam memilih berbagai cara pengelolaan lahan tambak (rational choice). Mulai dari teknik penanaman dan pengelolaan tambak, penggunaaan obat-obatan, pemberian pakan, hingga salinitas air. Penulis juga ingin mengungkap apa saja penyebab beberapa petambak mengubah penggunaan obat-obatan kimia atau pestisida menjadi obat-obatan non-kimia dalam mengelola tambaknya.

Dalam melakukan penilitian ini, saya mengambil lima informan yang bermata pencaharian sebagai petambak juga pemilik tambak di sekitar Desa Cangkring. Informan pertama bernama Bapak Solihin yaitu petambak udang paname sekaligus orang yang menanam jenis udang paname pertama di Desa Cangkring. Informan kedua bernama Bapak Akronim yang mengolah tambak udang windu, paname dan bandeng di Blok Karangkaji dan Desa Cantigi Sawah. Informan ketiga yaitu Bapak Tirya yang memiliki tambak udang windu dan bandeng seluas 10 hektar di Desa Cangkring. Informan keempat yaitu Bapak Taufik yang merupakan pemilik tambak bandeng imlek dan rumput laut sekaligus calon legislatif DPRD Indramayu, Pak Taufik memiliki total lahan tambak seluas 25 hektar di Desa Cangkring. Informan kelima yaitu Bapak Wanuri atau dikenal dengan nama Bapak Lebe yang memiliki tambak udang paname dan windu secara bergantian juga sesekali menanam bandeng.

1.1. Pengelolaan Lahan Tambak

Mengenai pengelolaan lahan tambak, petambak di Desa Cangkring memiliki beberapa jenis tingkatan tanam udang, di antaranya adalah tanam udang alami, tradisional, semi intensif dan intensif. Tanam udang alami adalah sistem tanam udang yang tidak menggunakan bantuan apapun seperti tidak menggunakan pakan, hanya ditanam lalu dibiarkan. Tanam udang tradisional adalah tanam udang yang menggunakan bantuan pakan, pelet, atau pur. Tanam udang semi intensif adalah tanam udang yang menggunakan pur juga kincir sederhana, yaitu jumlah kincir hanya satu. Lalu, tanam udang intesif adalah tanam udang yang menggunakan kincir dengan jumlah lebih banyak, biasanya dua hingga empat kincir dalam satu tambak, juga menanam udang dengan populasi yang lebih banyak.

      Tahap pengelolaan tambak udang dan bandeng dimulai dari pembersihan tambak ketika selesai panen. Tambak dibersihkan dengan mengeluarkan air, tetapi tidak sampai asat atau habis airnya. Setelah itu, tambak diberikan pestisida atau obat-obatan untuk menghilangkan atau mematikan hama yang ada, hama-hama yang didapati di tambak diantaranya adalah ikan-ikan kecil, belut, hingga siput. Lalu air tambak tersebut didiami dalam jangka waktu yang berbeda sesuai dengan jenis pestisida atau obat-obatan yang digunakan. Setelah itu dimasukkan air kembali dengan ukuran salinitas air yang berbeda, jika udang windu salinitas yang baik adalah kisaran 10 hingga 30, jika udang paname salinitas yang baik kisaran 30-40. Lain halnya dengan bandeng, bandeng adalah ikan yang bisa hidup di air tawar maupun air asin. Setelah diisi air, benur atau bibit udang dan bandeng siap ditebar dengan jumlah yang ditentukan oleh petambak. Setelah itu dikelola dengan memberi pakan sesuai takaran dan siap dipanen, untuk udang panennya kisaran dua hingga empat bulan, sedangkan bandeng kisaran enam bulan hingga satu tahun.

Petambak di Desa Cangkring menggunakan pengetahuan lokal mereka juga pengalaman dalam mengelola tambak mereka agar menuai panen yang baik. Berbagai teknik atau pola penanaman benih udang maupun bandeng pun dilakukan oleh para petambak. Tergambarkan bagaimana kefektifan pengeloalaan sumber daya di Desa Cangkring mengenai keberlanjutan pengelolaan berasal dari pengetahuan lokal atau indigeneous knowledge, seperti bagaimana cara mengelola sumber daya tergantung pada tempat, geografis, hingga karakteristik ekonomi.

Petambak di Desa Cangkring melihat proses adaptasi dari sudut pandang lingkungan secara individu (dari masing-masing petambak) dan kelompok (sesama petambak) dalam melakukan serangkaian pilihan teknik alternatif dan pola strategis yang memiliki berbagai konsekuensi bagi sumber daya dan lingkungan. Prinsip perilaku manusia dalam konteks penggunaan dan pengelolaan sumber daya ini berakar pada psikologi manusia dan aspek ekonomi yang mencoba untuk memahami tindakan sehari-hari yang ditemui di tambak.

Pada akhirnya, dalam mengelola tambak, petambak dihadapkan pada suatu konsepsi yaitu rational choice yang merupakan salah satu aspek penting untuk menganalisis komponen-komponen perilaku dari penggunaan sumber daya. Pilihan tertentu dari tindakan atau tujuan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan atau proses sosial, dan bukan hanya karena kondisi sumber daya itu sendiri. Rational choice akan mengantarkan petambak untuk melakukan tindakan yang dianggap dapat menguntungkan dengan melakukan kegiatan memilih suatu teknik pengelolaan tambak dari berbagai jenis teknik pengelolaan yang ada. Petambak di Desa Cangkring tentunya menemukan banyak pilihan dan alternatif dalam mengelola tambak, namun melalui pengetahuan dan pengalaman masing-masing petambak, pilihan pun akan berbeda namun dengan mengedepankan suatu tujuan yaitu berupa keuntungan.

Di Desa Cangkring terdapat beberapa pemilihan pola atau teknik pengelolaan tambak masing-masing seperti sistem tanam campur dan sistem tebang gilir. Sistem tanam campur adalah menanam udang dan bandeng dalam satu tambak untuk menghemat lahan tambak. Contoh dari salah satu sistem pengelolaan tambak adalah pengelolaan tambak milik Pak Akronim yang didapatkan dari pengalamannya sendiri  yaitu dengan sistem tebang gilir. Tebang gilir diungkapkan oleh Pak Akronim sistemnya sama seperti pengelolaan sawah, jika tanam padi sudah selesai maka ditanamlah umbi-umbian. Jika di tambak, setelah udang selesai di panen, tambak langsung digunakan untuk bandeng dalam empang kecil. Pak Akronim menyebut kegiatan ini dengan istilah ”ngetim” atau menimbun bandeng kecil. Diakui juga oleh Pak Akronim, penimbunan bandeng ini walaupun keuntungannya kecil, namun ketika dilepas di tambak hanya akan membutuhkan waktu dua bulan dan sudah bisa dipanen. Tentunya, teknik ini menggambarkan bahwa adanya kejelian dalam melihat peluang dalam penanaman udang dan bandeng yang akan mengantarkan pada pendapatan yang menguntungkan. Dari pemaparan diatas, tergambarkan bahwa Pak Akronim melakukan pilihan yang dianggap menguntungkan berikut dengan konsekuensinya.

Gambar 1.1. Pak Akromin sedang memberi pakan di tambak udang

      Salinitas air pun sangat berpengaruh dalam ekosistem tambak, air yang digunakan untuk kehidupan tambak udang  mempunyai takaran seperti yang telah disebutkan di atas, 10-30 untuk udang windu dan 30-40 untuk udang pana,e. Pak Tirya memiliki suatu alat untuk mengetes kadar air agar tambak udang dan bandengnya memiliki salinitas air yang baik. Alat yang dimiliki olehnya bernama pH Test Kit, suatu alat buatan Taiwan yang diperkenalkan oleh Insinyur Budi Santoso saat berkunjung ke Desa Cangkring dalam penyuluhan mengenai tambak. Cara mengetahui kadar air adalah dengan meneteskan air pada tambak lalu diukur pHnya. Jika udang paname, kadar pH yang baik adalah kisaran 30. Sedangkan untuk udang windu adalah 10. Lalu, kadar air yang dites tersebut juga harus dilihat warnanya. Untuk bandeng, warna yang baik adalah warna hijau, sedangkan untuk udang warna yang baik adalah hijau daun atau biru laut.

 Gambar 1.2 Alat pengukur kadar air untuk tambak udang dan bandeng, pH Test Kit


Gambar 1.3 dan 1.4 Pengukur warna air untuk tambak bandeng (atas) dan udang (bawah)

      Pengelolaan tambak juga dipengaruhi oleh pakan dari udang dan bandeng. Pak Taufik melihat adanya kerentanan kehidupan ekosistem tambak bandengnya terkait pakan yang diberikan. Bandeng memiliki masa mogok makan di mana akan mempengaruhi keberlanjutan tambak bandeng. Jika terlalu banyak pakan yang diberikan, bandeng akan mogok makan. Pada dasarnya, sistem pemberian pakan pada tambak Pak Taufik selalu ditingkatkan satu karung pada tiap bulannya demi pertumbuhan bandeng yang baik. Namun, tak jarang justru peningkatan pakan ini membuahkan aksi mogok makan. Contohnya adalah ketika bandeng di tambak Pak Taufik menginjak usia enam bulan, seharusnya pakan yang diberikan sebanyak enam karung, namun justru berkurang menjadi empat karung.

      Kesuburan tanah dan air juga memainkan peranan penting dalam keberlangsungan sistem tambak. Pak Solihin mengungkapkan bahwa untuk ekosistem tambak bandeng, kesuburan tanah sangat berpengaruh dikarenakan pakan untuk bandeng tumbuh dari tanah. Contoh pakannya adalah klekap, yaitu sejenis lumut yang bertekstur halus dan melekat di tanah. Jika kesuburan tanah dalam tambak bandeng kurang, klekap tidak akan tumbuh. Jika tanah dalam tambak bandeng tersebut subur, tentunya ketersediaan makanan akan terjamin. Kini banyak tambak bandeng yang dibantu oleh pakan seperti pakan pur untuk keberlanjutan pertumbuhan bandeng.

      Rentannya kehidupan tambak di Desa Cangkring juga tergambarkan dari pemaparan Pak Solihin mengenai bagaimana ia mengelola tambaknya. Menurutnya, mengelola tambak adalah salah satu kegiatan yang susah. Tahun 1997, Pak Solihin pernah melakukan pengaplikasian pengolahan tambak dari tahun ke tahun demi mendapatkan hasil yang baik. Ia mengatakan jika teknik mengelola sawah dari musim ke musim bisa diaplikasikan dan menuai hasil yang sama. Lain halnya dengan tambak, kelangsungan hidup tambak dengan pengaplikasian yang sama selalu menuai hasil yang berbeda, entah dicoba dengan jumlah udang yang ditanam, kadar air, hingga penanaman pada musim yang sama, hasilnya selalu berbeda.

Rhoades dan Bebbington (1995) dalam Seeds of Knowledge menegaskan bahwa petani menciptakan solusi mereka sendiri, bukan hanya menjadi pengadopsi teknologi yang telah diperkenalkan. Petani adalah peneliti dan inovator yang aktif dalam memproses, menilai, dan menggabungkan informasi untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan kondisi yang ada. Dalam kasus Pak Solihin mengamati kehidupan tambaknya mulai dari penanaman hingga panen dan bentuk uji coba pengaplikasian yang sama dari masa tanam ke masa tanam lainnya menggambarkan pernyataan dari Rhoades dan Bebbington. Pak Solihin menggabungkan informasi yang ada dari tiap masa tanam untuk memenuhi kebutuhannya.


1.2. Munculnya Berbagai Macam Penyakit Dalam Ekosistem Tambak

Dalam ekosistem tambak, petani harus menghadapi kerentanan atau ketidaktangguhan sistem tambak mereka yang disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi kerentanan sistem tambak terkait dengan keberlangsungan (sustainibility) adalah bermunculannya berbagai penyakit yang menyerang ekosistem tambak, terutama tambak udang. Tambak pada tahun 1995 hingga 1996 menjanjikan penghasilan yang baik. Namun, pada tahun 1997 hingga sekarang, sistem tambak diserang oleh bermunculannya beberapa jenis penyakit yang menyerang udang. Hal ini menyebabkan petambak harus waspada terhadap keberlangsungan tambak mereka.

            Penyakit yang umumnya menyerang udang di Desa Cangkring terbagi menjadi empat penyakit, diantaranya adalah MBV, white spot, penyakit kunang, dan stroke. Penyakit yang dinamakan MBV merupakan singkatan dari Monodon Baculovirus, yaitu penyakit yang menyerang udang windu yang menyebabkan udang menjadi berwarna merah kecoklatan. Lalu, penyakit white spot merupakan jenis penyakit yang menyebabkan tubuh udang berbintik-bintik putih. Penyakit kunang merupakan penyakit yang menyerang udang windu di mana ketika malam tiba, udang ini akan menyala seperti kunang-kunang. Terakhir, penyakit stroke yaitu penyakit yang menyerang separuh tubuh udang mati, yaitu dari tengah ke ekor.

Diakui oleh Pak Solihin, penyakit  yang menyerang udang ini belum diketahui penyebab pastinya. Menurutnya, bisa saja penyakit tersebut datang dari limbah seperti limbah Pertamina dan juga pemakaian pestisida yang berlebihan. Namun, penyakit-penyakit tersebut tidak membahayakan ketika dikonsumsi. Hanya saja, penyakit ini berpengaruh pada penghasilan petambak. Untuk penyakit kunang-kunang dan stroke masih bisa dijual, namun harganya menjadi jatuh. Sedangkan, udang yang terkena penyakit MBV dan white spot tidak laku untuk dijual, maka dari itu petambak mengonsumsinya sendiri.

Udang pun memiliki masa stress, hal ini dipaparkan oleh Pak Solihin yang bisa saja menjadi salah satu faktor udang terkena penyakit. Stress yang dialami oleh udang biasanya terjadi karena pengaruh lingkungan seperti adanya perubahan lingkungan. Contohnya adalah ketika dalam suatu tambak terdapat banyak udang dan tidak adanya angin pada malam hari, kondisi ini menyebabkan udang akan mengalami stress. Hal ini dikarenakan oksigen tidak bisa masuk dalam air dan volume oksigen pada air berkurang yang menyebabkan udang naik ke permukaan air untuk mencari udara. Jika tidak direspon dengan cepat akan menyebabkan udang mati. Maka dari itu, banyak petambak yang memberikan kincir di tambak untuk mengantisipasi kestabilan oksigen dalam air.
  
1.3. Penggunaan Obat-Obatan Kimia Atau Pestisida Dan Efek Samping

Dalam pengelolaan lahan tambak, tentunya semua petambak menginginkan kehidupan tambaknya berjalan dengan lancar yaitu dengan tidak terserang penyakit dan hama, menuai panen yang sukses, dan meraup keuntungan yang banyak. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa kehidupan tambak juga memiliki kerentanan dari beberapa faktor seperti salinitas air, kesuburan tanah, dan terutama adalah penyakit atau hama yang menyerang ekosistem tambak. Untuk menghindari kejadian yang akan menyebabkan gagal panen, para petambak melakukan berbagai macam pencegahan seperti yang telah dibahas di sub-bab sebelumnya. Namun, penggunaan obat-obatan kimia atau sering disebut dengan pestisia juga menjadi pilihan yang digunakan oleh banyak petambak Desa Cangkring. Tak jarang obat-obatan kimia atau pestisida yang digunakan oleh petambak memiliki spektrum atau daya bunuh yang luar biasa.

Telah dipaparkan mengenai rational choice di atas, penggunaan pestisida atau obat-obatan kimia merupakan salah satu pilihan yang diambil oleh para petambak di Desa Cangkring untuk menghasilkan keuntungan dengan segala konsekuensi yang ada. Faktor ekonomi merupakan salah satu permasalahan dari ekologi mengenai pengaruh pilihan dari strategi pengelolaan sumber daya.

Penggunaan pestisida biasanya dilakukan ketika tambak dikeringkan dengan kondisi masih ada sedikit air di tambak. Hal ini dilakukan karena di tambak terdapat ikan-ikan yang bisa menjadi hama bagi udang. Maka dari itu, ikan harus dibunuh dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang sering ditemui di Desa Cangkring diantaranya bernama Teodan, Akodan, dan Indodan.

Seperti pengalaman Pak Solihin dalam mengelola tambak udangnya, Pak Solihin mengakui menggunakan beberapa jenis pestisida yang bernama Teodan dengan pemakaian terakhir pada tahun 2011. Akodan didapatkan oleh Pak Solihin di toko dengan harga Rp 20.000,00/botol. Padahal, Teodan adalah salah satu pestisida yang dilarang dari Inpres karena berspektrum luas yaitu daya bunuhnya atau resistensinya di lahan berjangka waktu lama dan bisa membunuh bibit-bibit baru. Dipaparkan oleh Pak Solihin, Teodan masih dijual bebas pada tahun 2011 dengan harga yang cukup tinggi, yaitu Rp 400.000,00/100ml.

Pak Akronim juga mengakui bahwa dirinya menggunakan Teodan untuk mengusir hama di tambak udangnya saat dikeringkan. Tak hanya Teodan, Pak Akromin juga menggubakan Akodan. Akodan digunakan untuk mematikan hama yang ada pada tambaknya seperti ikan mujair, ikan lundu, hingga belut. Pestisida yang dikemas dalam kaleng dan berbentuk cair juga berwarna putih ini diakui Pak Akronim memiliki efek samping pada kehidupan tambak. Penggunaan  pestisida Akodan memakan waktu yang lama untuk pengeringannya yaitu setelah pestisida digunakan, lahan tambak harus didiami selama satu minggu kemudian airnya dibuang dan diisi air baru kembali, setelah itu baru bisa menanam kembali. Hal ini dikarenakan kandungan pestisida Akodan bisa membunuh udang dan bandeng, maka dari itu diperlukan waktu satu minggu untuk menghilangkan racun yang menempel pada lahan tambak.

Pak Akronim juga pernah menggunakan pestisida bernama Bentan untuk membunuh siput. Siput adalah salah satu hama bagi tambak udang dan bandeng. Siput dinilai menganggu pertumbuhan udang dan bandeng karena siput turut memakan pelet untuk udang dan bandeng. Selain itu, siput hidup di lumpur yang menyebabkan air tambak menjadi keruh. Keberadaan siput membuat pertumbuhan udang dan bandeng menjadi rusak karena tidak akan tumbuh besar. Penggunaan Bentan pada satu hektar lahan tambak diperlukan sekitar setengah kilogram. Efek samping dari Bentan sama seperti Akodan, namun memerlukan waktu yang lebih lama yaitu sekitar setengah bulan untuk didiamkan agar racun yang menempel hilang, jika perhitungan waktu tidak tepat akan mematikan udang dan bandeng.

Telah dijelaskan sebelumnya pada sub-bab sebelumnya, beberapa petambak di Desa Cangkring menggunakan sistem tanam campur yaitu antara udang dan bandeng dalam satu tambak. Kehidupan tambak udang di Desa Cangkring kebanyakan memakan waktu dua bulan lalu panen, sedangkan bandeng dari enam bulan hingga satu tahun. Dalam sistem tanam campur, tentunya waktu panen yang berbeda ini menghasilkan pengelolaan yang berbeda juga ketika panen. Beberapa petambak Desa Cangkring menggunakan obat kimia bernama Ripcord untuk melakukan panen udang. Ripcord ditaburkan di lahan tambak yang kemudian akan mematikan udang, namun tidak mematikan bandeng yang ada di tambak tersebut juga.

Gambar 1.5 Ripcord, obat kimia untuk membunuh udang saat panen dalam sistem tanam campur dengan bandeng

Pak Lebe adalah salah satu petambak yang mengaplikasikan sistem tanam campur udang windu dan bandeng. Saat ia ingin memanen udang windu, lahan dihisap namun jangan terlalu asat, lalu ditaburkan Ripcord di sekelilingnya. Beberapa saat, udang akan mati akibat terkena Ripcord, namun bandeng yang ada tidak akan mati karena Ripcord hanya mematikan binatang berdarah putih. Dikatakan bahwa jika tidak memakai Ripcord, panen udang bisa saja tidak tuntas karena ada yang terlewat. Pemakaian Ripcord pada lahan tambak juga dilakukan oleh Pak Akronim yang turut mengaplikasikan sistem tanam campur.

Berbeda lagi dengan lahan tambak milik Pak Taufik, tambak bandeng Imlek miliknya lebih dekat dengan laut dibandingkan lahan tambak informan penulis lainnya. Tambak milik Pak Taufik lebih rentan terkena hama berupa ikan-ikan kecil karena letaknya dekat dengan pintu air dan sirkulasi air berasal dari air laut, hal ini menyebabkan ikan-ikan kecil yang masuk ke tambak milik Pak Taufik lebih banyak. Untuk mencegah tambaknya dari hama, ia menggunakan beberapa obat-obatan seperti Supersit dan Ripcord. Supersit digunakan agar ikan mujaer mati sehingga tidak menganggu pertumbuhan bandeng Imlek. Selain itu, Pak Taufik menggunakan pestisida bernama Darmasan yang berguna untuk membunuh hama berupa ikan-ikan kecil. Diakuinya, ikan-ikan kecil ini akan membuat air tambak menjadi keruh.

Dalam argumen rational choice, akar masalah dapat ditemukan dalam pilihan yang dibuat oleh individu dalam proses memuaskan keinginannya. Beanett dalam  Human Ecology as Human Behavior mengamati dari sudut pandang individu, bahwa kegiatan memilih ini adalah dasar dari teori ekonomi modern. Kemungkinan bahwa kepuasan tersebut dapat mengakibatkan kekurangan atau hilangnya kapasitas sumber daya. Selain masalah hilangnya kapasitas sumber daya, kerusakan lingkungan juga bisa terjadi dari sistem pengelolaan tambak dengan menggunakan pestisida atau obat-obatan kimia.


1.4. Perubahan Penggunaan Obat Kimia Menjadi Obat Non-Kimia

Perubahan penggunaan obat kimia dalam pengelolaan lahan tambak di Desa Cangkring ditemui dalam lahan tambak informan penelitian ini. Telah dipaparkan diatas bahwa rata-rata para petambak menggunakan obat-obatan kimia atau pestisida untuk mengusir hama seperti ikan-ikan kecil, belut, hingga siput. Hampir semua pestisida yang digunakan tentunya mempunyai efek samping seperti spektrum atau daya bunuhnya yang luar biasa, di mana dibutuhkan waktu yang lama untuk mendiami atau mengeringkan lahan tambak guna racunnya hilang atau tidak menempel lagi di tambak.

Kini, rata-rata para petambak di Desa Cangkring beralih menggunakan obat non-kimia untuk pengelolaan lahan tambak, yaitu dengan memakai Samponi. Samponi merupakan obat non kimia yang digunakan untuk pengelolaan tambak untuk mengusir hama yaitu ikan-ikan kecil. Diakui oleh Pak Solihin, Samponi merupakan bibit teh yang penjualannya diletakan di dalam karung dengan tidak ada pencantuman keterangan komposisinya. Samponi berbentuk bubuk, tetapi banyak butiran kasar dan penggunanaanya melalui cara disebar di tambak. Samponi juga memiliki manfaat lain terutama untuk tambak udang, Samponi dapat menjadi vitamin untuk udang sekaligus mempercepat pergantian kulit udang.

Gambar 1.6. Samponi, obat pengusir hama yang berasal dari bibit teh sekaligus vitamin bagi udang

Pak Solihin adalah salah satu petambak yang mengubah pemakaian obat-obatan kimia untuk tambak menjadi obat-obatan non kimia. Sejak tahun 2011, Pak Solihin yang sebelumnya memakai Teodan untuk pengusir hama di tambaknya, kini beralih menggunakan Samponi. Perubahan ini diakui oleh Pak Solihin saat dahulu memakai Teodan, udang yang ada di tambaknya terkadang mati. Mengenai kerentanan ekosistem tambak udangnya, ia juga memaparkan bahwa semenjak tidak menggunakan Teodan, penyakit yang menyerang udangnya justru jarang muncul. Dari pemaparan tersebut, tergambarkan bahwa penggunaan pestisida justru bisa membuat udang terkena penyakit. Namun, di satu sisi Pak Solihin berkata penghasilannya terkadang tidak menentu, bisa lebih banyak dari yang menggunakan pestisida, bisa juga lebih sedikit.

Tahun 2012, Pak Solihin mulai mengamati dan mencatat hal-hal yang terjadi pada tambak udangnya. Pak Solihin mengalami hanya satu kali gagal panen  udang paname pada tahun 2012, dengan total enam kali panen semenjak tidak menggunakan Teodan. Rata-rata keberhasilan panen pak Solihin mencapai angka 20.000 udang paname, sedangkan saat gagal panen mencapai angka 16.000 udang paname. Dikatakan kegagalan panen ini dikarenakan penyakit, Pak Solihin tidak memberikan pencegahan seperti penggunaan obat-obatan karena paname belum diketahui penyakitnya. Penyakit udang seperti MBV, white spot, stroke, dan kunang-kunang adalah penyakit yang menyerang udang windu. Paname adalah jenis udang yang termasuk baru di Desa Cangkring. Tahun 2000, Pak Solihin adalah petambak pertama di Desa Cangkring yang menanam udang paname. Bibit udang ini pertama kali di dapat dari PT. Bratasena, Lampung, Sumatra Selatan dan harganya Rp 36,00/ekor saat itu. Pak Solihin juga mengaku saat ia dahulu membuka tambak bandeng, sekitar tahun 1983 ia menggunakan pestisida, namun semenjak tahun 1990 pemakaian dihentikan. Dengan tidak menggunakan pestisida, Pak Solihin berkata bahwa bandengnya jarang terkena penyakit.

Sama halnya dengan Pak Akronim yang sering melakukan sistem tanam campur pada tambaknya yaitu udang windu dan bandeng. Pada tahun 2010, Pak Akronim sering menggunakan Ripcord untuk membunuh udang saat masa panen udang. Namun, di tahun 2011 Pak Akronim sudah mulai tidak mengggunakan Ripcord karena pengalamannya terdahulu ketika kadar air sedang terlalu asin dan diberikan Ripcord, bandeng dalam tambak bisa mati. Kini, Pak Akronim hanya menggunakan Samponi untuk mencegah bandeng dalam tambaknya mati. Selain itu, perubahan ini dilakukan karena menggunakan Samponi hanya butuh satu hari untuk menghilangkan racun di tambak, berbeda dengan Akodan yang membutuhkan waktu satu minggu untuk menghilangkan racun.

Pak Taufik juga melakukan perubahan penggunaan obat-obatan untuk tambaknya, kini ia hanya menggunakan Samponi untuk mengusir hama berupa ikan-ikan kecil. Selain itu, diakuinya bahwa rumput laut yang ada di tambaknya juga membantu pertumbuhan ikan bandeng. Hal ini dikarenakan rumput laut mencegah kotoran, biasanya bandeng mencari makan dengan menyusupi lumpur dan membuat air tambak menjadi keruh. Pak Taufik mengungkapkan bahwa penggunaan pestisida bisa membahayakan tambaknya karena mengandung bahan kimia. Memang pastinya sekarang belum dirasakan apa kerugiannya, namun untuk kedepannya pasti terdapat hal-hal yang mengubah ekosistem tambak, jadi mulai kini Pak Taufik sudah tidak memakai pestisida berbahan kimia untuk menghindari rusaknya ekosistem tambak di masa depan.

Gambar 1.7. Tambak Pak Taufik, tambak bandeng dan tambak rumput laut

Begitupula dengan Pak Lebe, kini ia hanya menggunakan Samponi ditambah dengan Ursal, yaitu penambah nafsu makan yang berbentuk cair. Pak Lebe mengatakan bahwa pemakaian pestisida seperti Ripcord berbahaya karena mengandung zat kimia. Untuk membunuh hama, setelah panen Pak Lebe menyebarkan Samponi pada tambaknya dan baru memasukan benur (bibit ikan) saat ikan kecil sudah mati. Penggunaan Samponi pada lahan tambak udangnya juga dilakukan setiap satu setengah bulan.

            Kesadaran mengenai kefektifan pengelolaan sumber daya di Desa Cangkring yaitu terkait keberlanjutan pengelolaan juga menjaga lingkungan dan integritas ekosistem tambak didapatkan dari pengetahuan dan pengalaman para petambak. Pengalaman petambak menggunakan berbagai macam obat-obatan kimia atau pestisida memberikan pengetahuan dalam hal pengelolaan tambak. Petambak memerhatikan bagaimana perubahan demi perubahan terjadi dalam hal penggunaan obat-obatan kimia yaitu dampak bagi keberlangsungan tambak udang dan bandeng mereka.

Hal ini menunjukan adanya dynamic nature of knowledges formation dalam Seeds of Knowledge yang menghasilkan pengetahuan dan penjelasan bagaimana variabelnya dan bagaiamana keanekaragaman menjadi acuan untuk berubah. Lalu, proses dari knowledges formation ini dibutuhkan untuk menggabungkan variasi dan memberi tingkatan dari peristiwa, tindakan, pengalaman, dan untuk menunjukan bagaimana perubahan yang terjadi. Hal yang menjadi fokus dari proses ini adalah: 1) bagaimana pengetahuan menjadi pedoman dalam bertindak, 2) bagaimana peristiwa, tindakan, dan interaksi berada diantara pengetahuan petambak dan pengaruh dari perilaku dalam pengelolaan sumber daya, 3) bagaimana perubahan terjadi pada level tertentu.

Dengan adanya perubahan penggunaan pestisida dan obat-obatan kimia, tergambarkan juga adanya upaya terkait keberlanjutan ekosistem tambak yang baik (sustainibility). David Henley dalam Natural Resource Management: Historical Lessons from Indonesia mengungkapkan bahwa terdapat suatu konsepsi tragedy mengenai perubahan pengelolaan ekosistem, dalam konteks ini adalah perubahan penggunaan pestisida menjadi ke obat-obatan non-kimia. Beberapa alasan yang diungkapkan petambak mengenai alasan peralihan penggunaan pestisida ini dikatakan bahwa pestisida bisa merusak ekosistem untuk keberlanjutan hidupnya.

Hal ini menunjukan adanya penghindaran terhadap tragedy of indifference yaitu mengetahui apa akibat akan penyalahgunaan obat-obatan kimia terhadap tambak, tetapi belum mengalaminya. Seperti yang dikatakan Pak Taufik di atas, ia memang belum merasakan kerugiannya saat ini, namun untuk kedepannya ia berpikir akan terdapat hal-hal yang mengubah ekosistem tambak jika memakai pestisda, jadi mulai kini Pak Taufik sudah tidak memakai pestisida berbahan kimia untuk menghindari rusaknya ekosistem tambak di masa depan.

1.5. Kesimpulan

Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan petambak (indigenous knowledge) sangat memainkan peranan penting dalam hal pengelolaan tambak, bagaimana pengetahuan masyarakat asli tentang lingkungan ikut serta dalam pengelolaan ekosistem tambak. Hal ini didasarkan karena setiap masyarakat punya pandangan tersendiri atau pengetahuan terhadap lingkungannya atau disebut self consciousness. Pengalaman dalam mengelola tambak udang dan bandeng dari tahun ke tahun dengan segala perubahan membuat petambak merumuskan beberapa teknik atau pola pengelolaan tambak yang tersedia dan memilih suatu teknik pengelolaan tambak dengan tujuan ekonomi, yaitu menghasilkan keuntungan.

Adanya dinamika pengetahuan dari petambak sendiri, juga sesama petambak lainnya, bahkan dari penyuluhan yang diberikan ahli atau insinyur dirumuskan hingga menemukan suatu teknik pengelolaan tambak yang dianggap menguntungkan. Dinamika pengetahuan ini kemudian mengantarkan petambak dalam melakukan tindakan yang dianggapdapat memberikan keuntungan (rational choice), seperti pemilihan teknik penanaman tradisional, semi intensif, maupun intensif juga sistem tanam campur dan tebang gilir dengan dirumuskan keuntungan dan berbagai konsekuensinya.

Perubahan pengelolaan tambak dari penggunaan obat-obatan kimia atau pestisida menjadi obat-obatan non-kimia pun diaplikasikan karena adanya dynamic nature of knowledges formation. Konsep ini menghasilkan pengetahuan dan penjelasan mengenai konsekuensi atau efek samping penggunaan pestisida bagi keberlanjutan sistem tambak mereka (sustainibility) menjadi acuan untuk melakukan perubahan, seperti membuat udang atau bandeng para petambak mati karena terkena sisa racun saat mengusir hama.

Melalui pengetahuan dan pengalaman, petambak menciptakan solusi dengan hanya tidak mengadopsi beberapa pilihan pencegahan yang tersedia, namun juga dengan meneliti, menilai, dan menggabungkan informasi untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan kondisi ekosistem tambak mereka pada masa kini, seperti apa yang dikatakan oleh Rhoades dan Bebbington (1995). Tentunya perubahan penggunaan obat-obatan untuk tambak ini bertujuan untuk keberlanjutan ekosistem tambak yang lebih baik di masa depan.



 Referensi:

Bennett, J.W,
            1980. Human Ecology As Human Behavior. New York: Plenum Press.
 Dove, M.R. & Carpenter
            2008. Environmental Anthropology: A Historical Reader. Malden, Oxford, Carlton: Blackwell Publishing.
Dove, Michael R.
            2006. Indigenous People and Environmental Politics. New Haven: Yale University.
 Henley, David
            2008. Natural Resource Management: Historical Lessons from Indonesia. Netherland: Springer.
 Winarto, Y.T.
            2004. Seeds of Knowledge: The Beginning of Intergrated Pest Management In Java. New Haven: Yale Southeast Asia Studies Monograph.


3 komentar:

  1. Tidak mencantumkan aturan pakai samponi yg berfungsi sebagai vitamin bagi udang dan ikan

    BalasHapus
  2. Supersit sekarang sudah tidak ada.

    BalasHapus