Dalam dunia medis, terdapat istilah untuk terapi atau pengobatan yang tidak
memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien, istilah ini disebut placebo.
Placebo tidak hanya dalam bentuk obat-obatan saja, tetapi juga dalam bentuk
prosedur medis lainnya. Dalam kata lain, placebo merupakan sebuah tindakan
medis yang dipalsukan oleh penyembuh (dalam hal
ini dokter) yang dipercayai bahwa memiliki dampak positif bagi pasien yaitu
berupa kesembuhan. Efek dari placebo, melalui banyak penelitian telah menunjukkan
bahwa kekuatan pikiran adalah faktor yang terpenting dalam fungsi tubuh
manusia. Melalui kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan
seketika dalam pikiran manusia, efek obat dapat dan telah digantikan oleh hanya
dengan kekuatan keyakinan.
Placebo memang bertujuan untuk mengendalikan efek dari
sebuah harapan ditambah keyakinan dari pasien terhadap kesembuhan. Sebuah
keyakinan terhadap pengobatan akan tumbuh dalam diri manusia yang mana akan
membantu pasien menggerakan diri mereka sendiri untuk menyelesaikan
permasalahan, dalam hal ini berjuang pada penyakit yang diderita untuk mencapai
kesembuhan. Saat proses menyelesaikan permasalahan tersebut, pasien tidak
melihat apakah zat-zat yang mereka terima merupakan zat aktif secara kimiawi mengandung
unsur penyembuh atau tidak aktif.
Fenomena placebo ini sering dijalankan dalam kegiatan
penyembuhan profesional, seperti penyembuhan dari dokter di rumah sakit. Pasien
yang datang ke rumah sakit pastinya memiliki tujuan untuk berobat dan mendapati
kesembuhan. Setelah diperiksa oleh dokter, pastinya dokter akan memberikan
resep obat pada pasien. Tak jarang, resep tersebut berisikan pil atau tablet
gula, yaitu pil dan tablet yang faktanya tidak mengandung bahan obat-obatan
namun dikondisikan seperti obat-obatan dalam hal pada umumnya. Saat diberi
resep, dokter juga memberikan nasihat agar obat diminum sesuai prosedur agar
mendapatkan kesembuhan, biarpun sebenarnya penyakit yang diderita pasien tidak
perlu diberikan obat.
Dalam beberapa kasus penelitian, telah dibuktikan bahwa
orang-orang yang mengalami sakit dan kemudian diberikan resep obat tanpa
kandungan kimiawi apapun menciptakan kesembuhan sebenarnya karena keyakinan
yang tertanam saat telah meminum obat. Dari fenomena
placebo ini terbukti bahwa sikap dan perilaku pasien memainkan peranan penting
dalam proses penyembuhannya. Pasien yang percaya kepada dokter dan obat yang
diberikan, diyakini mempunyai peluang
lebih besar untuk sembuh dengan lebih cepat bahkan sembuh secara total
dibandingkan pasien yang bersikap atau mempunyai pikiran sebaliknya. Dalam
kegiatan penyembuhan ini, pasien akan menjadi lebih tenang dan percaya diri.
Pada akhirnya, mereka akan merasakan rasa sakitnya perlahan berkurang, pada
faktanya mereka sebenarnya tidak memperoleh obat yang memiliki kandungan zat
menyembuhkan.
(Photo: www.drugsdb.com)
Dari pemaparan di
atas terbukti bahwa kemampuan obat dalam hal menyembuhkan bukanlah hanya dari
kekuatan zat yang terkandung dalam obat tetapi juga dari kepercayaan pasien
terhadap obat tersebut bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan atau disebut
dengan bioligacilly efficacious.
Selain keyakinan dan
harapan yang datang dari diri pasien itu sendiri, saya melihat bahwa adanya pengaruh
dari peranan aspek sosial yang bermain dalam fenomena placebo. Aspek tersebut
berasal dari luar individu si penderita sakit, bisa keluarga maupun kerabat
lainnnya. Peran sosial tersebut berupa pernyataan yang bersifat memerintah
seperti perintah untuk meminum obat agar sembuh. Fenomena ini pun juga terjadi
pada keluarga saya di mana ibu saya sering berkata “Ayo obatnya di minum, bagaimana mau sembuh jika obatnya tidak
diminum.” Hal ini menurut saya merupakan salah satu pengaruh terhadap
pembentukan keyakinan dalam diri bahwa ketika kita telah meminum obat, kita
akan mendapatkan kesembuhan karena obat tersebut.
Perintah
tersebut membawa kita agar meyakini jika sakit kita harus pergi ke dokter dan
mendapatkan obat sesuai prosedur, lalu meminumnya agar sembuh. Kegiatan
tersebut tentunya akan sangat melekat di pikiran, setiap usai meminum obat akan
mendapatakan sugesti bahwasanya besok atau lusa akan terbebas dari penyakit.
Pernyataan yang melekat tersebut kemudian akan membawa kita pada kejadian
lainnya dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda terhadap kesembuhan
penyakit. Misal, saat teman atau adik sakit, pernyataan yang dibawa oleh orang
tua bahwa harus meminum obat agar lekas sembuh atau dalam kata lain obat akan
membawa kesembuhan akan membawa kita kembali terhadap keyakinan tersebut. Tak
jarang kita juga akan memberikan nasihat atau perintah yang sama jikalau di
lingkungan sekitar ada yang terkena penyakit. Menurut saya, dari hal tersebut
tergambarkan bagaimana pengaruh sosial terhadap keyakinan obat sebagai
penyembuh tertanamkan dalam pikiran dan dilanggengkan secara turun menurun.
Referensi:
1989. The Charm of Medicines:
Metaphors and Metonyms Medical Anthropology Quarterly, New Series.
William, WF.
2000.
Encyclopedia of Pseudoscience. New York : Book Builders
Inc.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar