Kamis, 01 Mei 2014

Status Wanita Di Malaysia Terkait Tenaga Kerja Akibat Kapitalisme

Keterlibatan wanita dalam pasar tenaga kerja bisa dirujuk pada persepektif Karl Marx yaitu perkembangan sistem kapitalis. Sistem kapitalis sangat bergantung pada akumulasi modal yang kemudian menyebabkan kedudukan buruh sebagai tenaga kerja hanya merupakan komoditi yang dinilai dengan nilai tukar di pasar bebas. Dalam target perolehan keuntungan terbesar, maka harus ada penekanan biaya proses seminimal mungkin yang berimbas pada praktek upah tenaga kerja dibayar murah. Namun, tenaga kerja harus memberikan waktu yang panjang dalam bekerja untuk kepentingan kapitalis. Hal itu yang menyebabkan kapitalis memperoleh keuntungan yang besar sehingga bisa menjadi modal untuk mengembangkan usaha. Pengembangan usaha juga memerlukan penambahan jumlah tenaga kerja, jika tenaga kerja sudah tidak memadai, maka kekurangan tenaga kerja diambil dari keluarga buruh. Hal tersebut melibatkan anggota keluarga mereka. Marx dan Engles mengemukakan istilah kelas proletar, terutama pada ekonomi individu dalam kelas buruh yang memprihatinkan, sehingga istri dan anak-anak terpaksa bekerja dengan waktu yang panjang demi mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Terdapat kecenderungan mengenai penetrasi kapitalisme masyarakat Dunia Ketiga untuk mereproduksi dan mengintensifkan hubungan sosial yang ada. Salah satu contohnya adalah berhubungan dengan posisi wanita. Dalam masyarakat di mana wanita dikatakan posisinya tidak setara dengan laki-laki, penetrasi kapitalisme tampaknya dalam kebanyakan kasus, lebih melemahkan posisi wanita. Mengenai efek penetrasi kapitalisme, telah ditemukan bukti ketergantungan ekonomi yang meningkat pada wanita, penggantian bertahap dari sistem pertanian ekonomis di mana wanita memainkan peran penting dengan didominasi laki-laki industri pertanian. Meskipun banyak lapangan kerja baru, di setiap sektor ekonomi yang rendah, kurang dihargai dan peran kerja yang kurang bergengsi ditugaskan untuk wanita. Pada akhirnya, wanita terkonsentrasi di tingkat yang lebih rendah dalam setiap hirarki kerja.

Diskriminasi terhadap wanita dalam lingkup ketenagakerjaan bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Dimana wanita menempati tingkatan yang rendah dalam lingkup tenaga kerja, sistem upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki, dan pembagian kerja yang tidak adil serta konsepsi pekerjaan yang hanya cocok bagi laki-laki. Selain itu, suatu konsep bahwa wanita hendaknya tidak bekerja melainkan mengerjakan pekerjaan domestik seperti mengurus rumah tangga juga masih diaplikasikan dalam masyarakat sekarang. Hal tersebut terkait dengan sistem kapitalisme yang dibawa oleh kolonial Barat. Makalah ini akan mengupas bagaimana kapitalisme mempengaruhi status dan posisi wanita dalam lingkup tenaga kerja terkait kapitalisme dengan mengambil masalah dan studi penelitian masyarakat di Malaysia.

 Formasi Sosial Pra-Kapitalisme di Malaysia

Formasi sosial pra-kapitalisme di Malaysia tidak sesuai dengan tipe ekonomi subsisten ideal. Sebagian besar wilayah yang cukup mandiri, seperti produksi ikan dan garam yang bisa diolah sendiri, hanya diproduksi di daerah pesisir. Beras, sebagai makanan andalan, tidak selalu diproduksi dalam jumlah yang diizinkan swasembada. Di samping itu, barang-barang tertentu seperti senjata api, buku agama, pakaian, beberapa tekstil tidak pernah diproduksi secara lokal tetapi dibeli dari luar negeri.

Keberadaan bahasa komersial di era pra-kolonial dalam bukti lebih lanjut dari tingkat perkembangan ekonomi melebihi tingkat subsistensi (Swift, 1963). Meskipun beberapa produksi diarahkan untuk pertukaran, mayoritas penduduk telah terlibat dalam produksi atau keperluan militer. Sebagian besar penduduk memiliki akses atas tanah dan sarana utama produksi, sebagian besar memiliki beberapa kontrol atas apa yang mereka hasilkan, hal ini membuktikan bahwa mereka bukanlah tenaga kerja 'terasing'.

Mengenai pembagian kerja, kegiatan ekonomi utama di Malaysia diarahkan terhadap produksi beras, kelapa, buah-buahan, sayuran, penangkapan ikan, berbagai industri cottage, beberapa pertambangan, pembangunan jalan dan bangunan. Terdapat pembagian kerja secara umum, yaitu sebuah divisi dari produksi yang umum, misalnya pertanian, pertambangan, manifaktur, dan pembagian kerja khusus, yaitu pemisahan divisi tersebut menjadi jenis yang luas dan sub-jenis (Marx, 1976 :455).

Sebagai suatu kelompok gender, wanita memiliki tanggung jawab utama untuk perawatan anak-anak dan sebagian besar tugas-tugas yang berhubungan dengan rumah tangga. Wanita di Malaysia digambarkan mengurus kebun dan ayam peliharaan di rumah. Wanita juga memiliki tanggung jawab atas penyajian makanan, pengambilan air, pembersihan alat-alat dapur, dan pakaian. Pekerjaan domestik tersebut bukan suatu lingkup yang terpisah, tetapi merupakan bagian dari masyarakat yang lebih luas. Peran wanita dalam lingkup kerja di sekitar rumah telah diakui sebagai kegiatan ekonomi. Di samping ini tenaga kerja dalam lingkup domestik, wanita dan anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi yang umumnya dilakukan di wilayah mereka dan dengan kelas mereka, yaitu wanita berpartisipasi dalam produksi pertanian, perikanan, dan kerajinan.

Beberapa tugas tampaknya telah dilakukan hampir secara eksklusif oleh laki-laki (misalnya memancing di laut yang dalam), wanita yang terlibat dalam penangkapan ikan, mereka memperbaiki jaring, mengupas kulit ikan, mengasinkan ikan, mengolahnya dan dijual di toko-toko. Tidak disebutkan wanita berpartisipasi dalam menangkap ikan di laut seperti naik perahu. Dalam berburu, pekerjaan ini menghalangi partisipasi wanita karena melibatkan jangka waktu yang lama dan jauh dari rumah. Di luar rumah, ada juga tugas (hanya di wilayah tertentu) yang dilakukan hampir secara eksklusif oleh wanita. Swift menyebutkan di daerah matrilineal, Negri Sembilan, menanam padi secara eksklusif dilakukan oleh wanita. Seperti halnya dengan semua kegiatan ekonomi lain, ada pembagian gender pada lingkup tenaga kerja di usaha produktif. Dalam literatur, hanya laki-laki yang disebutkan keterlibatannya dalam membajak sawah, wantia  diposisikan sebagai yang bertanggung jawab untuk pembibitan benih, menananam bibit ke ladang 'padi', menyiangi tanaman dan menampi gandum. Sebagian besar laporan menyebutkan bahwa terdapat pembagian kerja dan keterlibatan pada laki-laki dan wanita pada saat panen.

Penetrasi Kapitalisme dan Kolonial Inggris

Penetrasi kapitalisme di Malaysia yang rumit berkaitan dengan kapitalisme pedagang Inggris dan pemerintahan kolonial. Hal ini bermula pada kekuatan luar pertama yang mengontrol wilayah tersebut. Malaysia telah menjadi bagian dari Sriwijaya sebelumnya dan kerajaan Majapahit. Dengan tambahan perdagangan dari Arab, Cina, India, dan pengusaha lainnya sudah lama sering berdagang di wilayah tersebut, lalu Portugis dan Belanda telah menduduki Malaka (Hall, 1968). Penambang timah Cina juga memperluas skala operasi mereka di wilayah tersebut pada saat Inggris sedang mendirikan pos perdagangan pertama mereka (Jackson, 1961). Muncul pertanyaan berapa lama Semenanjung Malaysia telah ditarik ke dalam sistem kapitalisme dunia tanpa campur tangan kolonial Inggris? Kolonial Inggris merupakan faktor yang signifikan.

Keterlibatan Inggris di Semenanjung Malaysia dapat dilihat dari berdirinya Pulau Penang pada tahun 1786. Dalam waktu 40 tahun, kontrol Inggris telah diperpanjang ke pulau Singapura dan Malaka, yang dikelompokkan bersama-sama pada tahun 1826 menjadi Straits Settlements. Sepanjang abad ke-19, kontrol politik dan administrasi Inggris ekonomi diperluas, tahun 1920 seluruh Malaysia berada di bawah kekuasaan kolonial langsung. Penetrasi kapitalis memperluas jangkauan kegiatan pasar yang dilakukan di Semenanjung Malaysia. Penggunaan uang sebagai alat tukar menjadi lebih luas, barang semakin banyak diproduksi di luar negeri, terjadinya persaingan barang, pajak baru  bersama dengan pajak dari periode pra-kapitalisme harus dibayar tunai. tanah menjadi komoditas. Kemudian, tanpa hak turun-temurun terhadap akses tanah, penduduk Semenanjung Malaysia telah kehilangan hak-hak tersebut, mereka harus membeli atau menyewa tanah (Cowan 1962; Emerson 1964).

Di Malaysia, penetrasi kapitalisme tampak pada awalnya dalam memperkuat ekonomi pribumi, pada saat yang sama menciptakan kondisi yang membuat bentuk-bentuk sosial semakin sulit untuk mereproduksi diri mereka sendiri. Hubungan produksi kapitalisme sebagian besar terdapat pada tambang dan perkebunan sepanjang abad ke-19 hinga abad ke-20. Buruh imigran dari Cina, Asia Selatan dan Asia Tenggara memproduksi timah, tanaman tropis seperti kopi, gula, lada, dan karet. Para petani pribumi Malaysia sebagian besar dibatasi masuk ke dalam angkatan kerja yang diberikan upah. Kemudian, produksi tanaman tertentu seperti karet dalam penanamannya diberikan kombinasi kebijakan legislatif kolonial yang merupakan praktek bisnis dan saran dari penguasa tradisional mereka.  (Jackson, 1961; Swift, 1965; Jomo, 1977; Lim, 1977).

Sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, mayoritas penduduk terus terlibat dalam produksi pertanian, sebagian besar pada beberapa tanah yang mereka miliki sendiri atau yang mereka kendalikan. Dominasi kolonial, bagaimanapun, meningkatkan hubungan produksi kapitalis yang menjadi lebih luas dan sistem ekonomi muncul sebagai suatu bidang yang berbeda dari kehidupan sosial. Namun, pasar tenaga kerja kecil tumbuh berkembang. Pasar tenaga kerja berkembang dengan adanya kecenderungan yang meningkat terhadap tugas dan peran yang lebih baik,  pekerjaan yang diberi upah, yang paling bergengsi dan paling memuaskan bagi mereka yang telah memiliki akses ke pendidikan formal dan pelatihan yang sesuai.


Pendidikan di Malaysia Terkait Posisi Wanita dalam Lingkup Ketenagakerjaan

Pendidikan tidak menghasilkan kelas, tetapi pendidikan merupakan salah satu mekanisme utama untuk pelatihan dan sertifikasi di berbagai kategori tenaga kerja (Poulantzas, 1979). Pada periode pra-kapitalisme, pendidikan formal sangat terbatas ketersediannya di Malaysia. Terdapat sekolah Qur’an untuk orang Melayu, yang bertujuan menanamkan pengetahuan agama. Anak-anak Cina di beberapa wilayah ini memiliki les privat dalam bahasa Cina (Chelliah, 1947).

Pemerintah kolonial menganggap Malaysia negara vernakular yaitu negara pribumi. Sesuai dengan istilah tersebut, sekolah-sekolah vernakular didirikan di daerah pedesaan yang menyediakan pendidikan dasar gratis bagi anak-anak dari para petani Malaysia, tetapi tidak begitu banyak pendidikan bagi orang pedesaan Malaysia untuk meningkatkan peran pekerjaan di pasar tenaga kerja modern. Fenomena ini berkaitan dengan rendahnya kualitas sekolah dan minimnya penduduk Malaysia mengirim anak-anak mereka untuk sekolah. Pemerintah kolonial tidak secara aktif menentang pendirian sekolah bahasa Cina atau India, tetapi hibah atau sumbangan untuk sekolah tersebut lebih kecil dibanding sekolah vernakular dan sekolah yang didirikan kolonial (O’Brien, 1979).

Sepanjang paruh pertama abad ke-20, terdapat ekspansi besar kesempatan pendidikan bagi semua penduduk ke British-Malaysia dan Singapura Colony juga sekolah lainnya, dimana terdapat guru yang lebih banyak jumlahnya, ketersediaan pendidikan menengah, dan kesetaraan pendidikan yang lebih baik. Sepanjang periode ini, pendidikan formal dan sertifikasi semakin diperlukan untuk perekrutan ke posisi yang lebih baik di pasar tenaga kerja. Beberapa orang tua di Malaysia mengirim anak perempuannya untuk menjalankan pendidikan sekolah, beberapa yang lainnya tidak siap untuk menginvestasikan sumber daya keuangan yang terbatas dalam pendidikan untuk anak-anak perempuan mereka. Hal ini disebabkan anak perempuan akan meninggalkan rumah tangga mereka kelak saat sudah menikah. Sistem patrilokal, yaitu menetap di rumah laki-laki setelah menikah, merupakan alasan mengapa tak perlu memberikan pendidikan kepada anak perempuan. Hal ini yang membuat para orang tua di Malaysia berpikir bahwa akan sia-sia mengeluarkan sejumlah hartanya untuk menyekolahkan anak perempuan mereka. Tidak melek huruf dan tidak bisa berbahasa dengan baik kemudian terjadi pada anak perempuan ini hingga ia dewasa, yang menyebabkan susah untuk mendapatkan posisi di lingkup ketenagakerjaan sebagai persyaratannya.

Eksistensi Tenaga Kerja Wanita di Pasar Tenaga Kerja

Jika ditelusuri, ada dua faktor yang menyebabkan keterlibatan wanita dalam pasar tenaga kerja, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor pendorong untuk bekerja karena desakan atas kesulitan ekonomi keluarga. Fator eksternal merupakan faktor penarik untuk bekerja karena adanya kesempatan kerja yang ditawarkan oleh kapitalis. Dalam struktur kapitalis, kedudukan seseorang ditentukan oleh penguasaan alat produksi. Dalam kasus pekerja kelas bawah, maka kedudukan seseorang ditentukan oleh kemampuan untuk menghasilkan produksi berdasarkan pekerjaannya. Dalam kapitalisme, pembagian kerja dalam perusahaan ditentukan oleh dorongan efesiensi produksi untuk memaksimalkan keuntungan (Marx: Anthonny Giddens: 1987: 122). Penempatan posisi seseorang dalam dalam struktur ketenagakerjaan ditentukan oleh tingkat produktifitas dan ketrampilan, kemudian memperlihatkan variasi upah yang berbeda berdasarkan tingkat produktifitas. Siapa yang mampu bekerja lebih keras dalam jangka waktu yang panjang akan menghasilkan produksi yang lebih banyak berarti akan memperoleh upah yang lebih besar.

Akibat dari sistem tersebut pada tenaga kerja wanita adalah kriteria yang disampaikan sebelumnya tidak menguntungkan. Wanita dari golongan ekonomi lemah secara umum identik dengan kemiskinan dan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah, maka saat wanita memutuskan untuk terlibat bekerja di sektor publik, ia harus mau menerima jenis pekerjaan apa saja yang ditawarkan kapitalis. Umumnya kapitalis menempatkan wanita pada pekerjaan yang tidak memerlukan ketrampilan khusus dan berupah rendah. Di lain sisi, terikat pada pekerjaan domestik menyebabkan waktu yang akan digunakan untuk bekerja di sektor publik sangat terbatas. Hal ini makin membuat kesempatan kerja bagi wanita terbatas pada pekerjaan berupah rendah dan keterbatasan waktu yang akan diluangkan oleh wanita menempatkan pada posisi yang rendah dalam struktur ketenagakerjaan. Lain halnya dengan laki-laki, mereka memperoleh posisi yang lebih baik karena bisa memberikan waktunya secara penuh untuk bekerja di sektor publik karena tidak terbebani oleh pekerjaan domestik. Maka dari itu, laki-laki dapat memperoleh upah lebih besar dari wanita. Pada akhirnya, laki-laki selalu mendominasi wanita di tiap sektor tenaga kerja. Hal ini juga menyebabkan ketergantungan wanita pada laki-laki untuk memenuhi kebutuhan materialnya. Selain itu sistem patriarkal makin menempatkan wanita pada posisi yang terdominasi dan tereksploitasi dalam sistem kapitalis.

Status Tenaga Kerja Wanita di Malaysia

Keterlibatan wanita di Malaysia dalam lingkup tenaga kerja terlihat di kalangan ekonomi rendah. Malaysia merupakan negara agraris dan wanita menguasai sektor ini pada awalnya. Pekerjaan laki-laki terbatas pada pengolahan lahan, wanita menanam, merawat hingga memanen hasil dari pertanian. Pada tahun 1970, mekanisasi masuk ke dalam sektor pertanian. Banyak pekerjaan bagi wanita beralih menjadi pekerjaan laki-laki karena pemakaian mekanisasi dan teknik modern di sektor pertanian memerlukan cara pengerjaan yang dianggap lebih pantas untuk dikerjakan oleh laki-laki. Akibatnya, terjadi penurunan drastis dalam penyerapan tenaga kerja wanita di sektor pertanian.

Penurunan drastis penyerapan tenaga kerja wanita di sektor pertanian menyebabkan wanita terpaksa bekerja di sektor publik terutama di sektor industi. Sektor ini dipilih karena menganut orientasi padat karya, yaitu menyerap tenaga kerja lebih banyak. Pada sektor industri, jenis pekerjaan dan upah didasarkan oleh kemampuan atau skill. Pada struktur kerja primer, individu harus memiliki pendidikan, keterampilan, dan waktu bekerja yang disiplin agar dapat masuk ke dalamnya. Sedangkan, sektor sekunder ditandai dengan pekerjaan yang tidak memerlukan ketrampilan khusus dan berupah rendah juga bersifat musiman. Akibat tidak memiliki pendidikan dan ketrampilan khusus, wanita cenderung bekerja di sektor sekunder.

Sektor industrialisasi dalam sistem kapitalis sangat peka terhadap fluktuasi pasar sehingga jenis dan jumlah barang yang diproduksi sangat tergantung kepada permintaan pasar, sebagai pekerja musiman di sektor sekunder, posisi tenaga kerha wanita sangat tergantung pada fluktuasi pasar. Jika terjadi krisis ekonomi, pabrik harus mengurangi jumlah tenaga kerjanya yang berimbas pada wanita yang akan dikorbankan.

Sejauh mana wanita Malaysia berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi masyarakat yang memberi mereka beberapa tingkat kontrol atas hasil kerja mereka, bahkan ketika mereka terlibat dalam koperasi produksi. Hal yang menjadi semakin kaku adalah pembagian kerja berdasarkan gender, semakin besar kemungkinan bahwa akan ada “daerah pengaruh wanita”, bahkan jika wanita tidak memiliki akses ke posisi formal kekuasaan dalam masyarakat. Wanita memiliki tanggung jawab untuk kinerja domestik, memiliki beberapa derajat kekuasaan dan kontrol atas keluarga (Bott, 1957; Sanday, 1973, 1974).

Kegiatan ekonomi mempunyai arti dari kategori kegiatan yang berkaitan langsung dengan akumulasi modal, kegiatan lainnya tidak bisa dikatakan sebagai kegiatan ekonomi. Jadi, hanya mereka yang melakukan aktivitas tersebut dikategorikan sebagai dalam angkatan kerja. Kegiatan yang tidak secara langsung menghasilkan nilai lebih diklasifikasikan sebagai kegiatan non ekonomi. Mereka yang melakukan peran pekerjaan tersebut - umumnya wanita - adalah bukan angkatan kerja. Pada tahun 1980, 64% dari populasi wanita dari Semenanjung Malaysia berusia 10 tahun ke atas digolongkan sebagai bukan angkatan kerja, hal ini dibandingkan dengan 30% dalam kasus laki-laki. Begitu banyak wanita bekerja yang tidak diberikan pengakuan sosial dan tidak dihargai. Hal ini, adalah masalah bagi wanita. Fenomena ini memberi arti bahwa wanita menghabiskan energi pada kegiatan yang tidak memberikan mereka sarana untuk beroperasi dalam hal realitas ekonomi masyarakat. Masalah ini diperparah oleh sulitnya wanita dalam memperoleh akses ke pekerjaan yang diberi upah yang berakibat tingkat pengangguran untuk wanita lebih tinggi daripada laki-laki.

Pembagian Kerja

Sementara kapitalisme telah berakar di Malaysia, pembagian kerja kemudian telah menjadi lebih jelas. Kegiatan ekonomi sekarang terdiri dari sejumlah sektor diskrit pertanian, pertambangan, manufaktur, konstruksi, dan angkatan kerja tidak didistribusikan secara merata ke seluruh sektor-sektor. Pada tahun 1980, proporsi tertinggi dari angkatan kerja (40%) masih dapat ditemukan di sektor pertanian, meskipun lapangan kerja di daerah ini menurun relatif terhadap daerah lain, terutama manufaktur dan layanan. Ketika diteliti perbedaan gender dalam angkatan kerja, terlihat bahwa pwanita telah bergerak keluar dari pertanian lebih cepat dibandingkan laki-laki. Di luar sektor pertanian, tenaga kerja wanita lebih terkonsentrasi daripada  laki-laki. Tabel 1 menunjukkan bahwa wanita memiliki tingkat yang lebih tinggi konsentrasi dari laki-laki. Dalam hal distribusi kerja, konsentrasi agak lebih tinggi bagi wanita juga berlaku. Hal ini ditunjukkan dalam tabel 2.

TABEL 1:
Industri Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dam Pengalaman: Semenanjung Malaysia. 1957 1970 1980 (Distribusi Persentase)

Industry
1957
1970
1980
Males (%)
Females (%)
Total (%)
Males (%)
Females (%)
Total (%)
Males (%)
Females (%)
Total (%)
Agriculture, Forestry, Hunting, Fishing
26
30
27
21
24
22
13
11
12
Agriculture Products Requiring Substansial Processing
27
46
31
24
35
27
18
29
22
Total Agriculture
(52)
(76)
(58)
(45)
(59)
(50)
(31)
(40)
(31)
Mining & Quarrying
3
2
3
3
1
2
1
-
1
Manifacturing
7
4
6
10
9
9
16
21
18
Construction
4
1
3
3
1
2
8
1
6
Electricity, Gas, Water & Sanutary Services
1
-
1
1
-
1
2
-
2
Commerce
11
4
9
12
6
10
16
12
15
Transport, Storage & Communication
5
-
4
5
1
4
6
1
4
Services
16
12
15
18
16
17
19
24
21
Industry not adequately described
2
1
2
4
9
5
-
-
-
Total Expereienced Labour Force
=100%

Sumber: Malaysia, Chander, 1977:433 dan Malaysia, Khoo, 1983.


TABEL 2:
Persentase Distribusi Berdasarkan Strata, Jenis Kelamin, dan Pekerjaan, Semenanjung Malaysia, 1980

Industry
ALL STRATA
URBAN
RURAL
Males
Females
Total
Males
Females
Total
Males
Females
Total
GRAND TOTAL
100
100
100
100
100
100
100
100
100
Professional, Technical & Related Workers
6.3
7.9
6.9
8.5
11.6
9.5
5.2
6.2
5.6
Administrative & Managerial Workers
2.7
0.4
1.9
4.4
0.6
3.1
1.9
0.3
1.3
Clerical & Related Workers
7.2
11.0
8.5
11.0
20.3
14.1
5.3
6.7
5.8
Sales & Related Workers
11.3
8.7
10.4
16.8
13.0
15.6
8.6
6.7
8.0
Service Workers
8.3
11.7
9.4
11.7
20.8
14.8
6.6
7.6
6.9
Agricultural, Animal Husbandary & Forestry, Fisherman & Hunters
29.7
39.0
32.9
4.0
4.6
4.2
42.1
54.9
46.5
Production & Related Workers, Transport Equiment Operators & Labourers
34.6
21.4
30.1
43.4
29.1
38.7
30.3
17.9
26.0
Unknown Occupation
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
Sumber: Malaysia, Khoo, 1983


TABEL 3:
Persentase Distribusi Laki-laki dan Wanita dalam Bidang Pekerjaan Terkait Profesional dan Teknis, Semenanjung Malaysia, 1973

Occupational Field
Percentage Man
(N= 78,069)
Percentage Women
(N= 45.310)
Health and welfare
6.38
23.71
Education
57.72
68.69
Science
7.21
2.41
Engineering
15.53
0.47
Architecture and Building
5.36
0.64
Commerce
3.12
0.84
Law
0.81
0.16
Religion
0.50
0.15
Arts/Entertainment
1.69
0.52
Miscelanious ‘Professional, Technical, and Related
1.68
2.41
Sumber: Manpower Survey 1973
  
  
Dalam hal pendefinisian mengenai status wanita, hal ini melibatkan sebuah penggabungan abstrak faktor ekonomi, politik dan ideologi. Pertama, banyak kegiatan wanita yang tidak diakui secara sosial atau dihargai sebagai tenaga kerja. Kedua, ketika wanita mencari pekerjaan merujuk pada sistem upah, mereka memiliki lebih banyak kesulitan dalam mencari pekerjaan daripada laki-laki. Ini adalah bukti tingginya angka pengangguran bagi wanita dibandingkan laki-laki. Ketiga, dalam hal penyediaan tenaga kerja, tingkat pendidikan yang lebih rendah bagi wanita membatasi pilihan pekerjaan mereka. Keempat, dari sisi permintaan, kesempatan kerja bagi wanita jelas lebih terbatas daripada peluang kerja bagi laki-laki. Konsentrasi yang lebih besar pada wanita daripada tenaga kerja laki-laki mencerminkan lebih terbatas pekerjaan yang dianggap 'cocok' bagi wanita. Kelima, ketika wanita berhasil menemukan pekerjaan, mereka kurang mungkin dibandingkan laki-laki yang harus dibayar untuk usaha mereka, seperti yang dibuktikan oleh proporsi yang lebih tinggi dari wanita dibandingkan pria antara 'pekerja keluarga yang tidak dibayar'. Kurangnya pekerjaan membuktikan bahwa wanita, sebagai kelompok gender, memiliki akses lebih terbatas daripada laki-laki mengenai upah. Hal ini berimbas pada medium pertukaran dalam perekonomian kapitalisme dimana uang sebagai mediumnya. Beberapa penelitian ini telah mengungkapkan bahwa bahkan dalam contoh-contoh di mana wanita hadir pada kualifikasi yang sama atau lebih baik dalam lingkup pekerjaan, mereka cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan posisi pekerjaan yang baik dan menerima upah atau gaji lebih rendah untuk pekerjaan yang sama nilainya dengan laki-laki. Dalam istilah ekonomi murni, penetrasi kapitalisme telah mengurangi status wanita merujuk sifat partisipasi wanita dalam proses produksi dan kepemilikan mereka yang terbatas dan pengendalian alat-alat produksi.

 Referensi:
Chandler, Glen and Norma Sullivan, Jan Branson
1988. Development and Displacement: Women In Southeast Asia. Australia: Monash University.
Sudarwati, Lina
2003. Wanita dan Struktur Sosial. Sumatera Utara: FISIP Universitas Sumatera Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar