Keterlibatan wanita dalam pasar tenaga
kerja bisa dirujuk pada persepektif Karl Marx yaitu perkembangan sistem
kapitalis. Sistem kapitalis sangat bergantung pada akumulasi modal yang
kemudian menyebabkan kedudukan buruh sebagai tenaga kerja hanya merupakan
komoditi yang dinilai dengan nilai tukar di pasar bebas. Dalam target perolehan
keuntungan terbesar, maka harus ada penekanan biaya proses seminimal mungkin
yang berimbas pada praktek upah tenaga kerja dibayar murah. Namun, tenaga kerja
harus memberikan waktu yang panjang dalam bekerja untuk kepentingan kapitalis.
Hal itu yang menyebabkan kapitalis memperoleh keuntungan yang besar sehingga
bisa menjadi modal untuk mengembangkan usaha. Pengembangan usaha juga
memerlukan penambahan jumlah tenaga kerja, jika tenaga kerja sudah tidak
memadai, maka kekurangan tenaga kerja diambil dari keluarga buruh. Hal tersebut
melibatkan anggota keluarga mereka. Marx dan Engles mengemukakan istilah kelas
proletar, terutama pada ekonomi individu dalam kelas buruh yang memprihatinkan,
sehingga istri dan anak-anak terpaksa bekerja dengan waktu yang panjang demi
mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Terdapat kecenderungan mengenai penetrasi kapitalisme masyarakat Dunia Ketiga untuk mereproduksi dan mengintensifkan hubungan sosial yang ada. Salah satu contohnya adalah berhubungan dengan posisi wanita. Dalam masyarakat di mana wanita dikatakan posisinya tidak setara dengan
laki-laki, penetrasi kapitalisme
tampaknya dalam kebanyakan kasus,
lebih melemahkan posisi
wanita. Mengenai efek penetrasi
kapitalisme, telah ditemukan bukti
ketergantungan ekonomi yang meningkat
pada wanita, penggantian bertahap dari sistem pertanian
ekonomis di mana wanita
memainkan peran penting dengan
didominasi laki-laki industri pertanian.
Meskipun banyak lapangan kerja
baru, di setiap sektor ekonomi
yang rendah, kurang dihargai dan peran kerja yang kurang
bergengsi ditugaskan untuk wanita.
Pada akhirnya, wanita terkonsentrasi di
tingkat yang lebih rendah dalam setiap
hirarki kerja.
Diskriminasi terhadap wanita
dalam lingkup ketenagakerjaan bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Dimana
wanita menempati tingkatan yang rendah dalam lingkup tenaga kerja, sistem upah
yang lebih rendah dibandingkan laki-laki, dan pembagian kerja yang tidak adil
serta konsepsi pekerjaan yang hanya cocok bagi laki-laki. Selain itu, suatu
konsep bahwa wanita hendaknya tidak bekerja melainkan mengerjakan pekerjaan domestik
seperti mengurus rumah tangga juga masih diaplikasikan dalam masyarakat
sekarang. Hal tersebut terkait
dengan sistem kapitalisme yang dibawa oleh kolonial Barat. Makalah ini akan
mengupas bagaimana kapitalisme mempengaruhi status dan posisi wanita dalam
lingkup tenaga kerja terkait kapitalisme dengan mengambil masalah dan studi
penelitian masyarakat di Malaysia.
Formasi Sosial Pra-Kapitalisme di Malaysia
Formasi sosial pra-kapitalisme di Malaysia tidak sesuai dengan tipe
ekonomi subsisten ideal. Sebagian besar wilayah yang cukup mandiri, seperti produksi ikan dan garam yang bisa diolah sendiri,
hanya diproduksi di
daerah pesisir. Beras, sebagai makanan andalan, tidak selalu diproduksi dalam jumlah yang diizinkan swasembada.
Di samping itu, barang-barang tertentu
seperti senjata api, buku agama, pakaian,
beberapa tekstil tidak pernah diproduksi secara lokal tetapi dibeli dari luar negeri.
Keberadaan bahasa komersial
di era pra-kolonial dalam bukti lebih lanjut dari tingkat perkembangan ekonomi
melebihi tingkat subsistensi (Swift, 1963).
Meskipun beberapa produksi diarahkan untuk pertukaran, mayoritas penduduk telah
terlibat dalam produksi atau keperluan
militer. Sebagian besar penduduk memiliki
akses atas tanah dan sarana utama
produksi, sebagian besar memiliki
beberapa kontrol atas apa yang
mereka hasilkan, hal ini membuktikan bahwa mereka bukanlah tenaga
kerja 'terasing'.
Mengenai pembagian kerja, kegiatan ekonomi utama di Malaysia diarahkan terhadap produksi beras, kelapa, buah-buahan,
sayuran, penangkapan ikan, berbagai industri cottage, beberapa
pertambangan, pembangunan jalan dan bangunan. Terdapat pembagian kerja secara umum, yaitu sebuah divisi dari produksi yang umum, misalnya pertanian,
pertambangan, manifaktur, dan pembagian kerja khusus, yaitu pemisahan divisi tersebut menjadi jenis yang luas dan sub-jenis
(Marx, 1976 :455).
Sebagai suatu kelompok gender, wanita
memiliki tanggung jawab utama untuk
perawatan anak-anak dan sebagian besar tugas-tugas yang berhubungan dengan rumah tangga. Wanita di Malaysia digambarkan mengurus kebun dan ayam peliharaan di rumah. Wanita juga memiliki tanggung jawab atas penyajian makanan, pengambilan air, pembersihan
alat-alat dapur, dan pakaian. Pekerjaan
domestik tersebut bukan suatu lingkup
yang terpisah, tetapi merupakan bagian
dari masyarakat yang lebih luas. Peran
wanita dalam lingkup kerja di sekitar
rumah telah diakui sebagai
kegiatan ekonomi. Di samping ini
tenaga kerja dalam lingkup domestik, wanita
dan anak-anak berpartisipasi dalam
kegiatan ekonomi yang
umumnya dilakukan di wilayah
mereka dan dengan kelas mereka, yaitu wanita berpartisipasi dalam produksi
pertanian, perikanan, dan kerajinan.
Beberapa tugas tampaknya telah dilakukan hampir secara eksklusif oleh laki-laki (misalnya memancing di laut yang dalam), wanita yang terlibat dalam penangkapan ikan,
mereka memperbaiki jaring, mengupas kulit ikan, mengasinkan ikan, mengolahnya dan dijual di
toko-toko. Tidak disebutkan wanita
berpartisipasi dalam menangkap ikan di laut seperti naik perahu.
Dalam berburu, pekerjaan ini menghalangi
partisipasi wanita karena melibatkan
jangka waktu yang lama dan jauh dari
rumah. Di luar rumah, ada juga
tugas (hanya di
wilayah tertentu) yang dilakukan hampir secara eksklusif oleh wanita. Swift menyebutkan
di daerah matrilineal,
Negri Sembilan, menanam padi secara eksklusif dilakukan oleh wanita. Seperti halnya dengan
semua kegiatan ekonomi lain, ada
pembagian gender pada
lingkup tenaga kerja di usaha produktif. Dalam literatur, hanya laki-laki yang disebutkan
keterlibatannya dalam membajak sawah,
wantia diposisikan sebagai yang bertanggung jawab
untuk pembibitan benih, menananam bibit ke
ladang 'padi', menyiangi
tanaman dan menampi
gandum. Sebagian besar laporan menyebutkan bahwa terdapat pembagian kerja dan
keterlibatan pada laki-laki dan wanita pada saat panen.
Penetrasi Kapitalisme dan
Kolonial Inggris
Penetrasi kapitalisme di Malaysia yang rumit berkaitan dengan kapitalisme
pedagang Inggris dan pemerintahan kolonial. Hal ini bermula pada kekuatan luar
pertama yang mengontrol wilayah tersebut. Malaysia telah menjadi bagian dari
Sriwijaya sebelumnya dan kerajaan Majapahit. Dengan tambahan perdagangan dari Arab,
Cina, India, dan pengusaha lainnya sudah lama sering berdagang di wilayah
tersebut, lalu Portugis dan Belanda telah menduduki Malaka (Hall, 1968). Penambang
timah Cina juga memperluas skala operasi mereka di wilayah tersebut pada saat
Inggris sedang mendirikan pos perdagangan pertama mereka (Jackson, 1961).
Muncul pertanyaan berapa lama Semenanjung Malaysia telah ditarik ke dalam
sistem kapitalisme dunia tanpa campur tangan kolonial Inggris? Kolonial Inggris
merupakan faktor yang signifikan.
Keterlibatan Inggris di Semenanjung Malaysia dapat dilihat dari berdirinya
Pulau Penang pada tahun 1786. Dalam waktu 40 tahun, kontrol Inggris telah
diperpanjang ke pulau Singapura dan Malaka, yang dikelompokkan bersama-sama
pada tahun 1826 menjadi Straits
Settlements. Sepanjang abad ke-19, kontrol politik dan administrasi Inggris
ekonomi diperluas, tahun 1920 seluruh Malaysia berada di bawah kekuasaan
kolonial langsung. Penetrasi kapitalis memperluas jangkauan kegiatan pasar yang
dilakukan di Semenanjung Malaysia. Penggunaan uang sebagai alat tukar menjadi
lebih luas, barang semakin banyak diproduksi di luar negeri, terjadinya persaingan
barang, pajak baru bersama dengan pajak
dari periode pra-kapitalisme harus dibayar tunai. tanah menjadi komoditas.
Kemudian, tanpa hak turun-temurun terhadap akses tanah, penduduk Semenanjung
Malaysia telah kehilangan hak-hak tersebut, mereka harus membeli atau menyewa
tanah (Cowan 1962; Emerson 1964).
Di Malaysia, penetrasi kapitalisme tampak pada
awalnya dalam memperkuat ekonomi pribumi, pada saat yang sama menciptakan kondisi yang
membuat bentuk-bentuk sosial semakin
sulit untuk mereproduksi diri
mereka sendiri. Hubungan produksi
kapitalisme sebagian besar terdapat
pada tambang dan perkebunan
sepanjang abad ke-19
hinga abad ke-20. Buruh imigran
dari Cina, Asia Selatan dan Asia Tenggara memproduksi timah, tanaman tropis seperti
kopi, gula, lada, dan karet. Para petani pribumi
Malaysia sebagian besar dibatasi masuk ke dalam
angkatan kerja yang diberikan upah.
Kemudian, produksi tanaman tertentu seperti
karet dalam penanamannya diberikan kombinasi kebijakan legislatif kolonial
yang merupakan praktek bisnis dan
saran dari penguasa tradisional mereka. (Jackson, 1961; Swift, 1965; Jomo, 1977; Lim,
1977).
Sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, mayoritas
penduduk terus terlibat
dalam produksi pertanian, sebagian besar pada beberapa tanah yang mereka
miliki sendiri atau yang mereka kendalikan. Dominasi
kolonial, bagaimanapun, meningkatkan
hubungan produksi kapitalis yang menjadi lebih luas dan sistem ekonomi muncul sebagai suatu bidang yang berbeda dari kehidupan sosial. Namun,
pasar tenaga kerja kecil tumbuh berkembang.
Pasar tenaga kerja berkembang
dengan adanya kecenderungan yang meningkat terhadap tugas
dan peran yang lebih baik, pekerjaan yang diberi upah,
yang paling bergengsi dan paling memuaskan bagi
mereka yang telah memiliki akses
ke pendidikan formal dan
pelatihan yang sesuai.
Pendidikan di Malaysia
Terkait Posisi Wanita dalam Lingkup Ketenagakerjaan
Pendidikan tidak menghasilkan kelas, tetapi pendidikan merupakan salah satu
mekanisme utama untuk pelatihan dan sertifikasi di berbagai kategori tenaga
kerja (Poulantzas, 1979). Pada periode pra-kapitalisme, pendidikan formal
sangat terbatas ketersediannya di Malaysia. Terdapat sekolah Qur’an untuk orang
Melayu, yang bertujuan menanamkan pengetahuan agama. Anak-anak Cina di beberapa
wilayah ini memiliki les privat dalam bahasa Cina (Chelliah, 1947).
Pemerintah kolonial menganggap Malaysia negara vernakular yaitu negara pribumi.
Sesuai dengan istilah tersebut, sekolah-sekolah vernakular didirikan di daerah
pedesaan yang menyediakan pendidikan dasar gratis bagi anak-anak dari para
petani Malaysia, tetapi tidak begitu banyak pendidikan bagi orang pedesaan
Malaysia untuk meningkatkan peran pekerjaan di pasar tenaga kerja modern.
Fenomena ini berkaitan dengan rendahnya kualitas sekolah dan minimnya penduduk
Malaysia mengirim anak-anak mereka untuk sekolah. Pemerintah kolonial tidak
secara aktif menentang pendirian sekolah bahasa Cina atau India, tetapi hibah
atau sumbangan untuk sekolah tersebut lebih kecil dibanding sekolah vernakular
dan sekolah yang didirikan kolonial (O’Brien, 1979).
Sepanjang paruh pertama abad ke-20, terdapat ekspansi besar kesempatan
pendidikan bagi semua penduduk ke British-Malaysia
dan Singapura Colony juga sekolah
lainnya, dimana terdapat guru yang lebih banyak jumlahnya, ketersediaan
pendidikan menengah, dan kesetaraan pendidikan yang lebih baik. Sepanjang
periode ini, pendidikan formal dan sertifikasi semakin diperlukan untuk
perekrutan ke posisi yang lebih baik di pasar tenaga kerja. Beberapa orang tua
di Malaysia mengirim anak perempuannya untuk menjalankan pendidikan sekolah, beberapa
yang lainnya tidak siap untuk menginvestasikan sumber daya keuangan yang
terbatas dalam pendidikan untuk anak-anak perempuan mereka. Hal ini disebabkan
anak perempuan akan meninggalkan rumah tangga mereka kelak saat sudah menikah.
Sistem patrilokal, yaitu menetap di rumah laki-laki setelah menikah, merupakan
alasan mengapa tak perlu memberikan pendidikan kepada anak perempuan. Hal ini
yang membuat para orang tua di Malaysia berpikir bahwa akan sia-sia
mengeluarkan sejumlah hartanya untuk menyekolahkan anak perempuan mereka. Tidak
melek huruf dan tidak bisa berbahasa dengan baik kemudian terjadi pada anak
perempuan ini hingga ia dewasa, yang menyebabkan susah untuk mendapatkan posisi
di lingkup ketenagakerjaan sebagai persyaratannya.
Eksistensi Tenaga Kerja
Wanita di Pasar Tenaga Kerja
Jika ditelusuri, ada dua faktor yang menyebabkan keterlibatan wanita dalam
pasar tenaga kerja, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor pendorong
untuk bekerja karena desakan atas kesulitan ekonomi keluarga. Fator eksternal
merupakan faktor penarik untuk bekerja karena adanya kesempatan kerja yang
ditawarkan oleh kapitalis. Dalam struktur kapitalis, kedudukan seseorang ditentukan
oleh penguasaan alat produksi. Dalam kasus pekerja kelas bawah, maka kedudukan
seseorang ditentukan oleh kemampuan untuk menghasilkan produksi berdasarkan
pekerjaannya. Dalam kapitalisme, pembagian kerja dalam perusahaan ditentukan
oleh dorongan efesiensi produksi untuk memaksimalkan keuntungan (Marx: Anthonny
Giddens: 1987: 122). Penempatan posisi seseorang dalam dalam struktur
ketenagakerjaan ditentukan oleh tingkat produktifitas dan ketrampilan, kemudian
memperlihatkan variasi upah yang berbeda berdasarkan tingkat produktifitas.
Siapa yang mampu bekerja lebih keras dalam jangka waktu yang panjang akan
menghasilkan produksi yang lebih banyak berarti akan memperoleh upah yang lebih
besar.
Akibat dari sistem tersebut pada tenaga kerja wanita adalah kriteria yang
disampaikan sebelumnya tidak menguntungkan. Wanita dari golongan ekonomi lemah
secara umum identik dengan kemiskinan dan tingkat pendidikan dan ketrampilan
yang rendah, maka saat wanita memutuskan untuk terlibat bekerja di sektor
publik, ia harus mau menerima jenis pekerjaan apa saja yang ditawarkan
kapitalis. Umumnya kapitalis menempatkan wanita pada pekerjaan yang tidak
memerlukan ketrampilan khusus dan berupah rendah. Di lain sisi, terikat pada
pekerjaan domestik menyebabkan waktu yang akan digunakan untuk bekerja di
sektor publik sangat terbatas. Hal ini makin membuat kesempatan kerja bagi
wanita terbatas pada pekerjaan berupah rendah dan keterbatasan waktu yang akan
diluangkan oleh wanita menempatkan pada posisi yang rendah dalam struktur ketenagakerjaan.
Lain halnya dengan laki-laki, mereka memperoleh posisi yang lebih baik karena
bisa memberikan waktunya secara penuh untuk bekerja di sektor publik karena
tidak terbebani oleh pekerjaan domestik. Maka dari itu, laki-laki dapat
memperoleh upah lebih besar dari wanita. Pada akhirnya, laki-laki selalu
mendominasi wanita di tiap sektor tenaga kerja. Hal ini juga menyebabkan
ketergantungan wanita pada laki-laki untuk memenuhi kebutuhan materialnya.
Selain itu sistem patriarkal makin menempatkan wanita pada posisi yang
terdominasi dan tereksploitasi dalam sistem kapitalis.
Status Tenaga Kerja Wanita
di Malaysia
Keterlibatan wanita di Malaysia dalam lingkup tenaga kerja terlihat di
kalangan ekonomi rendah. Malaysia merupakan negara agraris dan wanita menguasai
sektor ini pada awalnya. Pekerjaan laki-laki terbatas pada pengolahan lahan,
wanita menanam, merawat hingga memanen hasil dari pertanian. Pada tahun 1970,
mekanisasi masuk ke dalam sektor pertanian. Banyak pekerjaan bagi wanita
beralih menjadi pekerjaan laki-laki karena pemakaian mekanisasi dan teknik
modern di sektor pertanian memerlukan cara pengerjaan yang dianggap lebih
pantas untuk dikerjakan oleh laki-laki. Akibatnya, terjadi penurunan drastis
dalam penyerapan tenaga kerja wanita di sektor pertanian.
Penurunan drastis penyerapan tenaga kerja wanita di sektor pertanian
menyebabkan wanita terpaksa bekerja di sektor publik terutama di sektor
industi. Sektor ini dipilih karena menganut orientasi padat karya, yaitu
menyerap tenaga kerja lebih banyak. Pada sektor industri, jenis pekerjaan dan
upah didasarkan oleh kemampuan atau skill.
Pada struktur kerja primer, individu harus memiliki pendidikan, keterampilan,
dan waktu bekerja yang disiplin agar dapat masuk ke dalamnya. Sedangkan, sektor
sekunder ditandai dengan pekerjaan yang tidak memerlukan ketrampilan khusus dan
berupah rendah juga bersifat musiman. Akibat tidak memiliki pendidikan dan
ketrampilan khusus, wanita cenderung bekerja di sektor sekunder.
Sektor industrialisasi dalam sistem kapitalis sangat peka terhadap
fluktuasi pasar sehingga jenis dan jumlah barang yang diproduksi sangat
tergantung kepada permintaan pasar, sebagai pekerja musiman di sektor sekunder,
posisi tenaga kerha wanita sangat tergantung pada fluktuasi pasar. Jika terjadi
krisis ekonomi, pabrik harus mengurangi jumlah tenaga kerjanya yang berimbas
pada wanita yang akan dikorbankan.
Sejauh mana wanita Malaysia berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi
masyarakat yang memberi mereka beberapa tingkat kontrol atas hasil kerja
mereka, bahkan ketika mereka terlibat dalam koperasi produksi. Hal yang menjadi
semakin kaku adalah pembagian kerja berdasarkan gender, semakin besar
kemungkinan bahwa akan ada “daerah pengaruh wanita”, bahkan jika wanita tidak
memiliki akses ke posisi formal kekuasaan dalam masyarakat. Wanita memiliki
tanggung jawab untuk kinerja domestik, memiliki beberapa derajat kekuasaan dan
kontrol atas keluarga (Bott, 1957; Sanday, 1973, 1974).
Kegiatan ekonomi mempunyai arti
dari kategori kegiatan yang berkaitan langsung dengan akumulasi modal, kegiatan
lainnya tidak bisa dikatakan sebagai kegiatan ekonomi. Jadi, hanya mereka yang melakukan aktivitas
tersebut dikategorikan sebagai dalam angkatan kerja. Kegiatan yang tidak secara
langsung menghasilkan nilai lebih diklasifikasikan sebagai kegiatan non ekonomi.
Mereka yang melakukan peran
pekerjaan tersebut - umumnya wanita - adalah bukan angkatan kerja. Pada tahun
1980, 64% dari populasi wanita dari Semenanjung Malaysia berusia 10 tahun ke
atas digolongkan sebagai bukan angkatan kerja, hal ini dibandingkan dengan 30%
dalam kasus laki-laki. Begitu banyak wanita bekerja yang tidak diberikan
pengakuan sosial dan tidak dihargai. Hal ini, adalah masalah bagi wanita.
Fenomena ini memberi arti bahwa wanita menghabiskan energi pada kegiatan yang
tidak memberikan mereka sarana untuk beroperasi dalam hal realitas ekonomi
masyarakat. Masalah ini diperparah oleh sulitnya wanita dalam memperoleh akses
ke pekerjaan yang diberi upah yang berakibat tingkat pengangguran untuk wanita lebih
tinggi daripada laki-laki.
Pembagian Kerja
Sementara kapitalisme telah berakar di Malaysia, pembagian kerja kemudian telah
menjadi lebih jelas. Kegiatan ekonomi sekarang terdiri dari sejumlah sektor diskrit pertanian,
pertambangan, manufaktur, konstruksi, dan angkatan kerja tidak didistribusikan
secara merata ke seluruh sektor-sektor. Pada tahun 1980, proporsi tertinggi
dari angkatan kerja (40%) masih dapat ditemukan di sektor pertanian, meskipun
lapangan kerja di daerah ini menurun relatif terhadap daerah lain, terutama
manufaktur dan layanan. Ketika diteliti perbedaan gender dalam angkatan kerja, terlihat
bahwa pwanita telah bergerak keluar dari pertanian lebih cepat dibandingkan
laki-laki. Di luar sektor pertanian,
tenaga kerja wanita lebih terkonsentrasi daripada laki-laki. Tabel 1 menunjukkan bahwa wanita
memiliki tingkat yang lebih tinggi konsentrasi dari laki-laki. Dalam hal
distribusi kerja, konsentrasi agak lebih tinggi bagi wanita juga berlaku. Hal
ini ditunjukkan dalam tabel 2.
TABEL 1:
Industri Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dam Pengalaman: Semenanjung Malaysia. 1957 1970 1980 (Distribusi Persentase)
Industry
|
1957
|
1970
|
1980
|
||||||||
Males (%)
|
Females (%)
|
Total (%)
|
Males (%)
|
Females (%)
|
Total (%)
|
Males (%)
|
Females (%)
|
Total (%)
|
|||
Agriculture, Forestry, Hunting, Fishing
|
26
|
30
|
27
|
21
|
24
|
22
|
13
|
11
|
12
|
||
Agriculture
Products Requiring Substansial Processing
|
27
|
46
|
31
|
24
|
35
|
27
|
18
|
29
|
22
|
||
Total
Agriculture
|
(52)
|
(76)
|
(58)
|
(45)
|
(59)
|
(50)
|
(31)
|
(40)
|
(31)
|
||
Mining
& Quarrying
|
3
|
2
|
3
|
3
|
1
|
2
|
1
|
-
|
1
|
||
Manifacturing
|
7
|
4
|
6
|
10
|
9
|
9
|
16
|
21
|
18
|
||
Construction
|
4
|
1
|
3
|
3
|
1
|
2
|
8
|
1
|
6
|
||
Electricity,
Gas, Water & Sanutary Services
|
1
|
-
|
1
|
1
|
-
|
1
|
2
|
-
|
2
|
||
Commerce
|
11
|
4
|
9
|
12
|
6
|
10
|
16
|
12
|
15
|
||
Transport,
Storage & Communication
|
5
|
-
|
4
|
5
|
1
|
4
|
6
|
1
|
4
|
||
Services
|
16
|
12
|
15
|
18
|
16
|
17
|
19
|
24
|
21
|
||
Industry
not adequately described
|
2
|
1
|
2
|
4
|
9
|
5
|
-
|
-
|
-
|
||
Total
Expereienced Labour Force
|
=100%
|
||||||||||
Sumber: Malaysia , Chander, 1977:433 dan Malaysia ,
Khoo, 1983.
TABEL 2:
Persentase Distribusi
Berdasarkan Strata, Jenis Kelamin, dan Pekerjaan, Semenanjung Malaysia, 1980
Industry
|
ALL STRATA
|
URBAN
|
RURAL
|
||||||
Males
|
Females
|
Total
|
Males
|
Females
|
Total
|
Males
|
Females
|
Total
|
|
GRAND TOTAL
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
Professional, Technical & Related Workers
|
6.3
|
7.9
|
6.9
|
8.5
|
11.6
|
9.5
|
5.2
|
6.2
|
5.6
|
Administrative & Managerial Workers
|
2.7
|
0.4
|
1.9
|
4.4
|
0.6
|
3.1
|
1.9
|
0.3
|
1.3
|
Clerical & Related Workers
|
7.2
|
11.0
|
8.5
|
11.0
|
20.3
|
14.1
|
5.3
|
6.7
|
5.8
|
Sales & Related Workers
|
11.3
|
8.7
|
10.4
|
16.8
|
13.0
|
15.6
|
8.6
|
6.7
|
8.0
|
Service Workers
|
8.3
|
11.7
|
9.4
|
11.7
|
20.8
|
14.8
|
6.6
|
7.6
|
6.9
|
Agricultural, Animal
Husbandary & Forestry, Fisherman & Hunters
|
29.7
|
39.0
|
32.9
|
4.0
|
4.6
|
4.2
|
42.1
|
54.9
|
46.5
|
Production & Related
Workers, Transport Equiment Operators & Labourers
|
34.6
|
21.4
|
30.1
|
43.4
|
29.1
|
38.7
|
30.3
|
17.9
|
26.0
|
Unknown Occupation
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
0.0
|
Sumber: Malaysia ,
Khoo, 1983
TABEL 3:
Persentase Distribusi
Laki-laki dan Wanita dalam Bidang Pekerjaan Terkait Profesional dan Teknis,
Semenanjung Malaysia, 1973
Occupational Field
|
Percentage Man
(N= 78,069)
|
Percentage Women
(N= 45.310)
|
Health and welfare
|
6.38
|
23.71
|
Education
|
57.72
|
68.69
|
Science
|
7.21
|
2.41
|
Engineering
|
15.53
|
0.47
|
Architecture and Building
|
5.36
|
0.64
|
Commerce
|
3.12
|
0.84
|
Law
|
0.81
|
0.16
|
Religion
|
0.50
|
0.15
|
Arts/Entertainment
|
1.69
|
0.52
|
Miscelanious ‘Professional,
Technical, and Related
|
1.68
|
2.41
|
Sumber: Manpower Survey 1973
Dalam hal pendefinisian mengenai status wanita, hal ini melibatkan sebuah
penggabungan abstrak faktor ekonomi, politik dan ideologi. Pertama, banyak
kegiatan wanita yang tidak diakui secara sosial atau dihargai sebagai tenaga
kerja. Kedua, ketika wanita mencari pekerjaan merujuk pada sistem upah, mereka
memiliki lebih banyak kesulitan dalam mencari pekerjaan daripada laki-laki. Ini
adalah bukti tingginya angka pengangguran bagi wanita dibandingkan laki-laki.
Ketiga, dalam hal penyediaan tenaga kerja, tingkat pendidikan yang lebih rendah
bagi wanita membatasi pilihan pekerjaan mereka. Keempat, dari sisi permintaan,
kesempatan kerja bagi wanita jelas lebih terbatas daripada peluang kerja bagi
laki-laki. Konsentrasi yang
lebih besar pada wanita daripada tenaga kerja laki-laki mencerminkan lebih
terbatas pekerjaan yang dianggap 'cocok' bagi wanita. Kelima, ketika wanita
berhasil menemukan pekerjaan, mereka kurang mungkin dibandingkan laki-laki yang
harus dibayar untuk usaha mereka, seperti yang dibuktikan oleh proporsi yang
lebih tinggi dari wanita dibandingkan pria antara 'pekerja keluarga yang tidak
dibayar'. Kurangnya pekerjaan membuktikan bahwa wanita, sebagai kelompok gender,
memiliki akses lebih terbatas daripada laki-laki mengenai upah. Hal ini berimbas pada medium pertukaran
dalam perekonomian kapitalisme dimana uang sebagai mediumnya. Beberapa
penelitian ini telah mengungkapkan bahwa bahkan dalam contoh-contoh di mana
wanita hadir pada kualifikasi yang sama atau lebih baik dalam lingkup pekerjaan,
mereka cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan posisi pekerjaan
yang baik dan menerima upah atau gaji lebih rendah untuk pekerjaan yang sama
nilainya dengan laki-laki. Dalam istilah ekonomi murni, penetrasi kapitalisme
telah mengurangi status wanita merujuk sifat partisipasi wanita dalam proses
produksi dan kepemilikan mereka yang terbatas dan pengendalian alat-alat
produksi.
Referensi:
Chandler, Glen and Norma Sullivan, Jan Branson
1988. Development and Displacement: Women In Southeast Asia . Australia :
Monash University .
Sudarwati, Lina
2003. Wanita dan Struktur Sosial. Sumatera Utara: FISIP Universitas Sumatera
Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar