Jika berbicara mengenai kajian seksualitas,
pastilah tidak terlepas dari dikotomi teori esensialisme dan konstruksi sosial. Sebelum menelaah lebih lanjut mengenai
perdebatan dikotomi antara esensialisme dan konstruksi sosil, ada baiknya untuk
menelusuri apa yang dimaksud dengan seksualitas. Seksualitas merupakan aspek
sentral manusia sepanjang hidup yang mencakup seks, identitas, peran gender,
orientasi seksual, erotisme, kenikmatan, keintiman dan reproduksi. Seksualitas
dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, keyakinan, sikap,
nilai, dan relasi. Meskipun seksualitas dapat mencakup semua dimensi tersebut,
namun tidak semuanya selalu dialami. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi
faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, budaya, etika, hukum,
sejarah, serta agama dan spiritual.
(Photo: andiegoddesofpickles.bogspot.com)
Teori
esensialisme hanya mengakui keberadaan dua identitas yaitu perempuan dan
laki-laki, juga dengan pandangan bahwa perempuan harus berperilaku sesuai
konsepsi perempuan yang telah ada di masyarakat, begitu pula dengan laki-laki. Teori
esensialisme juga mengakui adanya satu orientasi seksual, yaitu heteroseksual. Esensialisme
melihat bahwa adanya hakikat secara absolut pada seksualitas dan menggunakan
sebutan takdir ketika membicarakan permasalahan seksualitas yang mana tidak
dapat diganggu gugat pembenarannya. Esensialisme menganggap bahwa sexual attract seperti ketertarikan dan
orientasi seksual itu inheren, tidak bisa diubah dan didapati sejak lahir.
Esensialisme juga mempercayai bahwa hormon dan pengaruh genetik mempengaruhi
seksualitas.
Lain halnya dengan teori konstruksi
sosial, teori ini melihat bahwa realitas yang kita ketahui dan alami sekarang,
munculnya adalah dengan proses konstruksi masyarakat. Perspektif ini melihat
bahwa gender bukan merupakan sesuatu yang inheren, tetapi didapatkan dari
masyarakat dari interaksi. Sebagai contoh, kita mendapat peran yang kita punya
sekarang dan bahasa berperan penting dalam realita sosial yang kita miliki. Kate
Millet (Sexual Politics, 1949) melihat bahwa gender bukan pembawaan
biologis, melainkan dikonstruksi secara sosial dan dilanggengkan oleh institusi
sosial dan konstruksi kekuasaan.
Perdebatan mengenai esensialis dan
konstruksi sosial terus berkembang hingga sekarang. Sejarah mengenai
pembangunan seksualitas modern tidak boleh luput, seperti adanya kepentingan
negara dalam mengatur seksualitas (sexuality
as a contested domain). Pendekatan konstruksi sosial mengadopsi pandangan
tindakan seksual yang mana konstruksi ini tidak hanya mempengaruhi
subyektivitas individu dan perilaku seperti frame budaya. Dalam cultural-influence models of sexuality,
adanya pengaruh budaya dalam mempengaruhi tindakan sosial seperti sex causes gender (menstruasi dan
kehamilan adalah hal yang alamiah dan esensisal) dan gender causes sex (hal yang dibuat oleh masyarakat seperti
laki-laki harus bekerja dan perempuan harus berada di domestik).
Esensialisme dan konstruksi sosial adalah perihal-perihal yang selalu
memperdebatkan posisi seksualitas dalam masyarakat. Esensialisme berangkat
dari pendekatan biomedis yang melihat bahwa sex adalah inheren, hasrat seksual
dan ketertarikan seksual adalah inheren. Sedangkan, pada persepektif konstruksi
sosial, seksualitas manusia lebih dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya
juga sejarah.
Dari pemaparan mengenai esiensialisme
dan konstruksi sosial yang seolah-olah bertentangan, mengantarkan kita pada
pertanyaan: apakah kita harus mempunyai pandangan yang berbeda? Dengan berpikir
bahwa seksualitas adalah inheren secara biologis? Atau seksualitas adalah bentukan
masyarakat? Pada kenyataannya, kita harus menyadari ada aspek-aspek biologis
yang berpengaruh pada seksualitas dalam diri kita, dan ada juga kehidupan
sosial yang dipengaruhi konstruksi sosial dan budaya. Sebagai contoh dalam
proses hubungan seksual antar suami istri, istri melakukan hubungan seksual karena
wajib, bukan karena kepuasan seksual itu sendiri. Mungkin secara biologis perempuan
tidak dapet kepuasan, tetapi dari segi sosial, hal tersebut merupakan kewajiban.
Contoh lainnya adalah konsep
virginity atau keperawanan. Konsep virginitas yang sarat akan esensialis yaitu
berhubungan dengan sistem reproduksi, dibentuk oleh masyarakat. Sebagai contoh
mengapa perempuan sangat gelisah ketika sudah melakukan hubungan seksual? Cara
pandang yang esensialis, namun juga dibentuk atau dikonstruksi oleh masyarakat.
Dari dua contoh tersebut, makin mengantarkan saya pada pertanyaan yang telah
saya ungkapkan diatas: apakah kita harus memiliki cara pandang yang berbeda,
yang murni esensialis atau murni konstruksi sosial?
Referensi:
DeLamater, J.D and Hyde, J.S.
1998. Essentialism vs. Social Constructionism in
the Study of Human Sexuality. Journal
of Sex Research 35 (1): 10-18

Tidak ada komentar:
Posting Komentar