Sabtu, 10 Mei 2014

Dilema Dikotomi Esensialisme dan Konstruksi Sosial Dalam Kajian Seksualitas

Jika berbicara mengenai kajian seksualitas, pastilah tidak terlepas dari dikotomi teori esensialisme dan konstruksi sosial.  Sebelum menelaah lebih lanjut mengenai perdebatan dikotomi antara esensialisme dan konstruksi sosil, ada baiknya untuk menelusuri apa yang dimaksud dengan seksualitas. Seksualitas merupakan aspek sentral manusia sepanjang hidup yang mencakup seks, identitas, peran gender, orientasi seksual, erotisme, kenikmatan, keintiman dan reproduksi. Seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, keyakinan, sikap, nilai, dan relasi. Meskipun seksualitas dapat mencakup semua dimensi tersebut, namun tidak semuanya selalu dialami. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, budaya, etika, hukum, sejarah, serta agama dan spiritual.

(Photo: andiegoddesofpickles.bogspot.com)

Teori esensialisme hanya mengakui keberadaan dua identitas yaitu perempuan dan laki-laki, juga dengan pandangan bahwa perempuan harus berperilaku sesuai konsepsi perempuan yang telah ada di masyarakat, begitu pula dengan laki-laki. Teori esensialisme juga mengakui adanya satu orientasi seksual, yaitu heteroseksual. Esensialisme melihat bahwa adanya hakikat secara absolut pada seksualitas dan menggunakan sebutan takdir ketika membicarakan permasalahan seksualitas yang mana tidak dapat diganggu gugat pembenarannya. Esensialisme menganggap bahwa sexual attract seperti ketertarikan dan orientasi seksual itu inheren, tidak bisa diubah dan didapati sejak lahir. Esensialisme juga mempercayai bahwa hormon dan pengaruh genetik mempengaruhi seksualitas.

Lain halnya dengan teori konstruksi sosial, teori ini melihat bahwa realitas yang kita ketahui dan alami sekarang, munculnya adalah dengan proses konstruksi masyarakat. Perspektif ini melihat bahwa gender bukan merupakan sesuatu yang inheren, tetapi didapatkan dari masyarakat dari interaksi. Sebagai contoh, kita mendapat peran yang kita punya sekarang dan bahasa berperan penting dalam realita sosial yang kita miliki. Kate Millet (Sexual Politics, 1949) melihat bahwa gender bukan pembawaan biologis, melainkan dikonstruksi secara sosial dan dilanggengkan oleh institusi sosial dan konstruksi kekuasaan.

Perdebatan mengenai esensialis dan konstruksi sosial terus berkembang hingga sekarang. Sejarah mengenai pembangunan seksualitas modern tidak boleh luput, seperti adanya kepentingan negara dalam mengatur seksualitas (sexuality as a contested domain). Pendekatan konstruksi sosial mengadopsi pandangan tindakan seksual yang mana konstruksi ini tidak hanya mempengaruhi subyektivitas individu dan perilaku seperti frame budaya. Dalam cultural-influence models of sexuality, adanya pengaruh budaya dalam mempengaruhi tindakan sosial seperti sex causes gender (menstruasi dan kehamilan adalah hal yang alamiah dan esensisal) dan gender causes sex (hal yang dibuat oleh masyarakat seperti laki-laki harus bekerja dan perempuan harus berada di domestik).

Esensialisme dan konstruksi sosial adalah perihal-perihal yang selalu memperdebatkan posisi seksualitas dalam masyarakat. Esensialisme berangkat dari pendekatan biomedis yang melihat bahwa sex adalah inheren, hasrat seksual dan ketertarikan seksual adalah inheren. Sedangkan, pada persepektif konstruksi sosial, seksualitas manusia lebih dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya juga sejarah.

Dari pemaparan mengenai esiensialisme dan konstruksi sosial yang seolah-olah bertentangan, mengantarkan kita pada pertanyaan: apakah kita harus mempunyai pandangan yang berbeda? Dengan berpikir bahwa seksualitas adalah inheren secara biologis? Atau seksualitas adalah bentukan masyarakat? Pada kenyataannya, kita harus menyadari ada aspek-aspek biologis yang berpengaruh pada seksualitas dalam diri kita, dan ada juga kehidupan sosial yang dipengaruhi konstruksi sosial dan budaya. Sebagai contoh dalam proses hubungan seksual antar suami istri, istri melakukan hubungan seksual karena wajib, bukan karena kepuasan seksual itu sendiri. Mungkin secara biologis perempuan tidak dapet kepuasan, tetapi dari segi sosial, hal tersebut merupakan kewajiban.

Contoh lainnya adalah konsep virginity atau keperawanan. Konsep virginitas yang sarat akan esensialis yaitu berhubungan dengan sistem reproduksi, dibentuk oleh masyarakat. Sebagai contoh mengapa perempuan sangat gelisah ketika sudah melakukan hubungan seksual? Cara pandang yang esensialis, namun juga dibentuk atau dikonstruksi oleh masyarakat. Dari dua contoh tersebut, makin mengantarkan saya pada pertanyaan yang telah saya ungkapkan diatas: apakah kita harus memiliki cara pandang yang berbeda, yang murni esensialis atau murni konstruksi sosial?

Referensi:
DeLamater, J.D  and Hyde, J.S.

1998. Essentialism vs. Social Constructionism in the Study of Human Sexuality. Journal of Sex Research 35 (1): 10-18 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar