Dalam memahami proses globalisasi, penting untuk melihat fenomena perubahan
ekonomi, politik, dan budaya di seluruh belahan dunia. Selain itu, kemunculan
teknologi informasi seperti internet dan media massa turut menyemarakkan
kehadiran proses globalisasi yang menjadikan seluruh negara di berbagai belahan
dunia terhubung dan menembus batasan-batasan antar negara yang kini makin kabur
dan menyebabkan terjadinya diaspora.
Globalisasi sering dianggap sebagai hal yang negatif karena sarat akan
ekspansi dari negara-negara adikuasa seperti kapitalisme yang merajalela. Fenomena
kapitalisme menggambarkan bagaimana negara-negara tersebut mampu mengendalikan
ekonomi dunia dan negara-negara Dunia Ketiga tidak mampu bersaing dengan
digempurnya berbagai macam kegiatan yang mengarah ke kapitalisme.
Tak hanya itu, globalisasi juga
mempengaruhi dimensi budaya karena adanya perkembangan interaksi melalui media massa seperti dari televisi,
musik, dan film. Sajian hiburan tersebut tentunya akan dikonsumsi oleh seluruh
dunia yang akan memberikan perspektif baru terhadap masing-masing manusia. Dalam
Modernity At Large, Appadurai
mengatakan bahwa peran teknologi informasi terutama media menjadi salah satu
faktor utama dalam mengubah dunia.
Globalisasi
tak jarang dianggap memiliki dampak negatif pada warisan budaya sehingga dapat
menghilangkan identitas sebuah kelompok masyarakat seperti bangsa. Anggapan ini lah yang kemudian
membuat banyak negara memiliki berbagai macam penguatan budaya-budaya lokal,
tak terkecuali Indonesia. Fenomena ini tergambarkan dalam paparan Appadurai
dalam Modernity At Large yaitu adanya
production of locality. Appadurai juga
memaparkan bahwa dua faktor utama dalam globalisasi diantaranya adalah migrasi
besar-besaran dan mediasi elektronik yang kemudian melahirkan modernisasi, postindustrialisasi,
hingga postmodernisme.
Dalam penyebaran warisan budaya, globalisasi memainkan
peranan penting dalam ranah ekonomi, politik, dan budaya yang kemudian
dipertemukan dalam tipe pertukaran dengan adanya ruang atau space. Dalam ranah ekonomi, pertukaran
terlihat dalam perdagangan dan akumulasi kapital. Dalam ranah politik, Walter
dalam Iluminations mengatakan bahwa
hubungan pertukaran politik dikembangkan ke territorial yaitu menggunakan
sumber-sumber di teritorial untuk integrasi atau ekspansi. Dalam pertukaran
budaya, proses komunikasi seperti berbagai macam bentuk teknologi informasi
menjadikannya faktor utama yang membebaskan hubungan sosial dari ruang.
Teknologi informasi yang masuk dari berbagai negara
melahirkan bemacam-macam cara dari anak muda untuk mengolah informasi. Salah
satu contohnya adalah munculnya peluang baru atau alternatif dalam ranah musik
dunia karena adanya partisipasi besar dari suatu kelompok. Tentunya alternatif
ini memiliki suatu tujuan atau kepentingan tersendiri dari tiap-tiap pelakunya. Tulisan ini akan mengkaji
fenomena mengenai musik hip-hop yaitu musik perjuangan dari masyarakat kulit hitam
di Amerika juga Afrika yang kini diaplikasikan oleh salah satu grup hip-hop
asal Yogyakarta, Jogja Hip Hop Foundation. Grup hip hop ini melahirkan sebuah
identitas kultural di mana mereka membawakan musik hip-hop yang dibesarkan
dalam narasi global (musik dari Amerika dan Afrika), tetapi diaplikasikan
secara lokal (dengan bahasa Jawa dan alat musik tradisional Jawa).
Teknologi Informasi,
Diaspora, dan Identitas Kultural
Appadurai dalam Modernity At Large
memaparkan bahwa proyek modernitas, salah satu fenomena globalisasi, melahirkan
peluang baru karena adanya partisipasi besar. Salah satu contohnya adalah timbulnya alternatif
baru seperti gerakan sosial, musik barat, dan musik hip-hop akibat adanya
dominasi dari pihak Barat. Telah dipaparkan di atas bahwa keterkaitan atau
hubungan antara ranah politik, ekonomi, dan budaya dalam kehidupan sosial
masyarakat di seluruh belahan dunia terhubungkan dan membuat batasan menjadi
kabur. Hubungan globalisasi ini menubah tatanan lokal yang kemudian melahirkan
ketergantungan antara yang lokal dan global.
Dalam memahami fenomena globalisasi, Appadurai
memaparkan mengenai konsep ruang atau space,
diantaranya adalah ethnoscape, mediascape, technoscape,
financescape, dan ideoscape (2006: 589). Ethnoscapes adalah kelompok atau aktor
yang memainkan peran penting dalam pergeseran-pergeseran yang melibatkan
gerakan aktual dan fantasi-fantasi tentang pergerakan. Technoscapes adalah
konfigurasi global dari teknologi bergerak dengan kecepatan tinggi melintasi
berbagai jenis batasan yang ada. Financescapes adalah proses yang
melibatkan pasar, bursa saham nasional, dan spekulasi komoditas yang
menggerakkan megamonies melalui
batas-batas nasional dengan kecepatan tinggi.
Mediascapes adalah distribusi kapabilitas
elektronik untuk menghasilkan dan menyebarkan informasi seperti koran, majalah,
televisi, internet yang tersedia untuk kepentingan publik dan swasta. Ideoscapes
adalah rangkaian imaji yang bersifat politik dan berkaitan dengan ideologi
negara, kontraideologi dan gerakan gerakan yang cara eksplisit berorientasi
untuk merebut kekuasaan negara atau sebagian dari kckuasaan itu (Ritzer,
Goodman, 2003: 598) Konsep ruang atau space ini dipaparkan Appadurai
sebagai alat untuk mengangkut materi-materi kultural melintasi berbagai batas
yang ada, seperti batas nasional dan batas kebudayaan.
Menurut Fernandez (Fernandez 2009; Waters 2000), salah satu ciri
globalisasi adalah deterritorialisasi yang menunjukan adanya kemungkinan
interaksi antar individu dan kelompok tanpa memandang lokasi. Saling keterhubungan dan
deterritorialisasi merupakan dua konsep yang menjelaskan bagaimana peristiwa
mempengaruhi yang lokal dan sebaliknya. Negara-negara dari berbagai belahan
dunia semakin terhubungkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi seperti
internet yang dapat melahirkan kelompok-kelompok untuk tujuan tertentu.
Perkembangan teknologi informasi ini memberikan dampak pada budaya-budaya
lokal. Budaya lokal yang terdiri atas praktek, media simbolik seperti tata
nilai dan tradisi menjadi ungkapan identitas secara linguistik, geografis dan
historis, begitu pula dengan lokalitas. Menurut Stuart Hall dalam Cultural Identity and Diaspora, identitas
adalah budaya milik bersama, dimiliki secara bersama-sama oleh orang yang
memiliki sejarah dan asal-usul yang sama. Identitas diyakini akan selalu
mengalami perubahan karena adanya perkembangan teknologi informasi yang
menyebabkan diaspora.
Dalam identitas pascamodern terdapat tiga wacana diantaranya adalah (1)
wacana geopolitik yaitu konsep negara-bangsa sebagai sebuah perekat identitas,
(2) wacana sosio ekonomi yaitu konsep sistem ekonomi khususnya ekonomi
kapitalis global dimana membuat perubahan identitas yang menggiring pada
berbagai paradoks identitas, dan terakhir (3) Wacana kultur-spiritual yaitu
kehidupan keberagamaan dan spiritualitas, bagaimana identitas dipertahankan,
dipelihara, dan dilestarikan.
Dalam ranah ekonomi, globalisasi memberikan identitas baru yaitu budaya
konsumerisme yang membuat semakin tersegmentasinya masyarakat ke dalam berbagai
kelompok gaya hidup dan semakin terdiferensiasikannya budaya dalam subbudaya.
Memasuki tahun 70-an, berbagai gerakan sosial seperti munculnya subkultur
menjamur dalam kehidupan sosial. Subkultur adalah sebuah cara untuk merebut dan
membangun identitas budaya dalam bingkai ideologi yang baru. Selain itu, juga
sebagai sebuah gerakan budaya dalam upaya mengekpresikan diri kelompok dan
identitasnya.
Salah satu fenomena yang berkaitan erat dengan globalisasi adalah
modernitas, sebuah fenomena yang menandakan adanya integrasi masyarakat ke
modernitas kapitalis dengan semua implikasinya terhadap ekonomi, sosial,
politik, dan budaya. Di dunia Ketiga, modernitas hampir identik dengan
penaklukan yang melibatkan proyek-proyek kekuasaan seperti penyebaran imperialisme,
dominasi kapitalisme Barat, hingga upaya-upaya kontemporer ke arah homogenisasi
dan pencapaian konsensus global terhadap berbagai ide dan etika produk
modernitas Barat seperti Marxisme, kapitalisme, liberalisme, dan positivisme.
Di masa kini, fenomena yang serupa bisa terlihat dari globalisasi, revolusi
teknologi, dan demokratisasi di mana teknologi informasi memainkan peran yang
cukup penting. Free trade atau pasar
global yang muncul akibat revolusi teknologi seperti pengembangan komunikasi
digital dan internet membuat fenomena globalisasi makin menjadi-jadi. Teknologi
informasi memainkan peran penting dalam operasi skala global dengan membiarkan
produk-produk media didistribusikan ke seluruh dunia. Teknologi informasi
seperti media massa ditujukan untuk menyebarkan standar nasional dalam bahasa,
budaya, dan perilaku.
Mengenai hubungan antara modernitas dan globalisasi, Anthony Giddens memaparkan
bahwa modernitas melibatkan lebih dari sekedar difusi berbagai institusi Barat
di seluruh penjuru dunia yang mengeliminasi budaya lokal. Melalui media
televisi, sebagai contoh saluran televisi MTV, menampilkan fenomena dunia yang
sedang menjadi trend di seluruh belahan dunia, salah satunya adalah musik hip-hop.
Musik Hip-Hop: Lahirnya
Alternatif Baru Akibat Dominasi Barat
Dalam menelusuri musik hip-hop, wilayah Bronx yaitu bagian selatan New York
City pada tahun 70-an adalah saksi sejarah terbentuknya subkultur ini. Diawali
dengan fenomena pengungusian masyarakat kulit hitam di Bronx dalam sebuah
proyek pembaharuan Amerika. Proyek tersebut menyebabkan adanya relokasi besar
dari masyarakat kulit hitam yang tidak memiliki sumber daya dan terbatasnya atas
kekuasaan politik. Wilayah Bronx menjadi terkenal dengan gambaran hidup yang
terpinggirkan.
Hip hop adalah kombinasi dari dua istilah yang terpisah yaitu "hip" yang memiliki arti saat ini dan "hop" untuk gerakan melompat. Pada tahun 1970-an, sebuah gerakan bawah tanah perkotaan (underground) yaitu hip hop mulai berkembang di Bronx. Pada akhir 1970-an, subkultur ini telah mendapatkan perhatian media dengan dilirik majalah Billboard yang mencetak sebuah artikel berjudul "B Beats Bombarding Bronx". Artikel tersebut mengomentari fenomena lokal dari subkultur hip hop dan menyebutkan tokoh-tokoh yang berpengaruh seperti Kool Herc.
A classic rapper and DJ set at a Bronz a park. Photo by Henry Chalfant (henrychalfant.com)
Hip hop yang merupakan sebuah subkultur merupakan penggabungan musik antara
unsur-unsur lokal dan populer seperti aliran musik yang sebagian diambil dari
Amerika juga dari Jamaika. Hip hop diakui mengikuti jejak aliran musik Amerika
awal seperti blues, soul, funk, salsa, jazz, dan rock and roll dengan menjadi
salah satu aliran musik yang sangat diperhitungkan di seluruh dunia. Musik
hip-hop juga merupakan gerakan
kebudayaan yang dikembangkan oleh masyarakat Afro-Amerika dan Latin-Amerika.
Kelompok masyarakat kulit hitam, terutama generasi muda yang direlokasi
kemudian menyalurkan kreativitas mereka dalam beberapa cara, diantaranya adalah
dengan musik hip-hop. Subkultur ini dikenal dengan kumpulan pemuda kulit hitam
yang menyukai kegiatan rap, break dance, dan graffiti (Rose, 33-34). Pada awalnya, para pelaku subkultur ini,
terutama rapper, menyuarakan rasa keprihatinan mereka merujuk pada kehidupan
masyarakat kulit hitam yang tertindas, tidak berdaya, dan kurang terwakili di wilayah
tersebut akibat adanya dominasi Barat. Pada awalnya, para rapper membuat kritik
terhadap lembaga-lembaga polisi, pemerintah, dan media, serta diskriminasi yang
dihadapi oleh orang kulit hitam dalam lagu-lagu mereka yang meawakili penderitaan
orang kulit hitam (Rose, 106). Salah satunya adalah Boogie Down Productions
pada tahun 1989 yang merilis lagu ”Who Protects Us From You?” sebuah lagu
hip-hop yang mengomentari kebrutalan polisi dan rasisme .
Dengan mewakili kelompok masyarakat kulit hitam, penduduk Afrika yang mayoritas
kulit hitam juga merupakan salah satu pelaku subkultur ini. Dalam konteks
globalisasi kontemporer, identitas masyarakat Afrika melalui subkultur hip hop
memberikan peluang dan tantangan bagi pemuda Afrika Timur untuk menegaskan
idenititasnya. Melalui hip hop, pemuda Afrika menjadikan subkultur ini sebagai
kendaraan paling jitu untuk masuk dalam
partisipasi politik. Musik diekspresikan oleh mereka sebagai sistem untuk masuk
atau berpartisipasi dalam dunia politik. Lirik-lirik yang diciptakan seputar korupsi,
kekuasaan kelas politik, hingga penipuan politisi.
Para pelaku subkultur hip hop mengecam ketidakadilan yang marajelala di
lingkungan mereka, ditambah dengan fenomena marjinalisasi dan perampasan massa.
Hip hop menjadi sebuah komponen yang berkembang pesat dari budaya kaum muda
yang menyediakan forum untuk mengatasi masalah dan mengekspresikan identitas
lokal dan global. Kini, subkultur hip hop telah menyebar ke perkotaan hingga pinggiran
kota di seluruh dunia melalui teknologi informasi yang berkembang dengan pesat
melalui media televisi (MTV) dan internet.
Glokalitas Dari Jogja Hip
Hop Foundation
Dalam ranah global, kelompok baru dan sekumpulan orang yang berasal dari
latar belakang dan budaya yang berbeda dapat mengambil keuntungan dalam subkultur
hip hop sebagai bentuk suara untuk permasalahan yang dihadapi seperti masalah
pemerintahan, penindasan, marjinalisasi, dan isu-isu sosial lainnya. Penyebaran
musik hip-hop dapat memberikan masyarakat dan kelompok sosial yang kurang
terwakili di negara-negara lain dan membentuk suatu identitas. Kini, hip hop
terbuka untuk semua kalangan dan menerima kelompok baru yang menjangkau seluruh
dunia melalui empat elemen yaitu rap, DJ, break
dance, dan graffiti. Bisa
dikatakan subkultur hip-hop kini berkembang menjadi budaya pop atau pop culture.
Telah dipaparkan sebelumnya mengenai deteritorialisasi
budaya. Budaya dalam perspektif tradisional selalu diidentikkan dengan lokal
atau masyarakat tertentu kini dianggap mulai menghilang. Kini yang terjadi
adalah saling tukar-pinjam (exchange) unsur-unsur antar
kebudayaan-kebudayaan yang ada di dunia. Budaya-budaya yang sebelumnya dianggap
saling terpisah antara satu sama lain kini tidak lagi demikian, batas-batasan tersebut
menjadi kabur. Jika musik dipandang sebagai salah satu unsur dalam kebudayaan,
maka dapat dikatakan bahwa berbagai perubahan yang dialami oleh masyarakat dan
kebudayaan akan berpengaruh pula terhadap musik yang terdapat di dalamnya.
Hal tersebut mengantarkan pada sebuah konsep
glokalisasi. Glokal merupakan sebuah proses yang
mengevaluasi pengaruh-pengaruh global dalam konteks lokal. Friedman mengatakan
bahwa glokalitas adalah: The ability of a culture when it encounters other strong
cultures, to absorb influences thatnaturally fit into and can enrich that
culture, to resist those things that are truly alien and to compartementalize
those things that, while different can nevertheles be enjoyed and celebrated
asdifferent (Friedman 2000).
Seperti yang telah dikatakan
pada bagian awal, sebagian kelompok menganggap globalisasi akan membawa dampak
negatif. Hal tersebut menandakan ada kelompok yang merasa globalisasi menekan
mereka, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh hegemonisme masyarakat
negara adikuasa. Globalisasi adalah sebuah fenomena yang tidak dapat dihindari.
Oleh karena itu, masyarakat harus berupaya memaksimalkan efek dampak positif
dan meminimalkan dampak negatifnya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan
keseimbangan antara yang global dan lokal atau sering disebut dengan proses glokalisasi.
Masyarakat dengan budaya yang mengamalkan
konsep glokalisasi tentunya telah melakukan pertukaran budaya, yaitu mengambil
elemen-elemen dari budaya lain dan meningkatkan serta memperkaya budaya mereka.
Dalam menjalankan proses glokalisasi, diperlukan persiapan dalam menghadapi
kekuatan-kekuatan global. Salah satunya dengan dialogisme (Fernandez
2009). Dalam dialog antar budaya, budaya-budaya mampu berinteraksi secara
demokratis, di mana tiap budaya punya kemampuan untuk mengungkapkan dan
mempertahankan praktik-praktik dan kepercayaan-kepercayaan serta menyelidiki
dan mengadopsi praktik dan kepercayaan budaya lain.
Salah
satu cara melakukan glokalisasi menurut Fernandez adalah melalui pengetahuan
lokal. Cara ini penting karena pengetahuan tersebut telah dites dan divalidasi
dalam konteks lokal. Di samping itu semakin dunia berhubungan, semakin penting
individu dan kelompok mendapatkan pendidikan dalam pengetahuan budaya lokal
karena akan membangun suatu kerangka dari individu dan kelompok kolektif untuk mampu
mengerti dan menginterpretasi dunia di sekeliling mereka. Pengetahuan lokal
individu dan kelompok sosial membantu masyarakat menyaring pengaruh eksternal globalisasi. Begitu individu dan kelompok sosial dapat
merangkul pengaruh asing globalisasi dan mengintegrasikan aspek-aspek apa saja yang
bernilai dan perlu bagi budayanya maka budaya-budaya lokal tidak akan
tergantikan oleh pengaruh globalisasi. Dengan mengembangkan kerangka kultural
yang kuat lewat pengetahuan dapat membantu individu dan kelompok sosial dalam
melindungi kepentingan lokal dan membantu suatu keseimbangan antara yang lokal
dan global (Fernandez 2009).
Globalisasi
budaya membawa dampak pada proses hibridisasi musik lokal dalam bentuk aliran
musik yang ada di negara lain. Salah satu contohnya adalah kehadiran grup hip
hop asal Yogyakarta, Jogja Hip Hop Foundation. Grup ini adalah grup musik hip
hop yang memadukan musik hip hop yang dibesarkan secara narasi global (budaya
urban masyarakat Amerika dan Afrika) namun diaplikasikan secara lokal, yaitu
dengan menggunakan bahasa Jawa dalam liriknya. Selain dari segi linguistik,
Jogja Hip Hop Foundation juga memadukan musiknya dengan instrumen-instrumen
daerah seperti gamelan dan angklung.
Pada pemaparan
yang telah disebutkan di awal, globalisasi diyakini dapat membawa dampak yang
positif juga negatif bagi masyarakat. Bagi masyarakat yang dapat mengakses dan
memanfaatkan fenomena globalisasi ini tentunya akan mendapatkan keuntungan di
tengah persaingan global. Bagi yang tidak bisa memanfaatkannya, globalisasi
dapat merugikan dan membuat masyarakat terpinggirkan.
Melalui
modernitas, budaya lokal yang ada tidak saja bisa terpinggirkan namun juga
masyarakatnya akan terpinggirkan. Dengan perkembangan teknologi informasi yang
pesat seperti internet dan televisi, dapat menyebabkan kebudayaan lokal
tergerus dan terpinggirkan karena tidak mampunya masyarakat untuk mengakses
dengan beberapa faktor, di antaranya adalah kurangnya pengetahuan lokal.
Jogja Hip Hop
Foundation adalah salah satu bentuk dari pengaplikasian produk globalisasi yang
dinarasikan secara lokal dan menuai keberhasilan. New England Foundation
For The Arts (NEFA) memberikan sebutan bagi Jogja Hip Hop Foundation sebagai Indonesia ’s foremost
crew stands in the cultural cross-hairs, rapping across language and other
borders. Dilansir dari situs berita Lampungku.com, Mohammad Marzuki yaitu
salah satu pendiri Jogja Hip Hop Foundation mengakui bahwa grup ini terbentukan
sebagai sebuah pertanggungjawaban dirinya terhadap menghidupkan bahasa ibu atau
bahasa Jawa. Mohammad Marzuki mengungkapkan bahwa tujuannya memasukan unsur
lokal yaitu bahasa Jawa dalam musik yang dibesarkan secara global (hip-hop)
adalah menjadikan bahasa Jawa sebagai milik publik.
Jogja Hip Hop Foundation (Photo from killtheblog.com)
Diakui olehnya juga bahwa kegiatan menggeluti musik hip
hop yang dipadukan dengan bahasa Jawa dialaminya saat ia tinggal di Perancis.
Dengan alasan sedang berada di luar negeri dan dipisahkan oleh jarak dengan
tanah kelahiran, maka bahasa dan budaya Jawa menjadi penting baginya. Perasaan
malu dan sedih menggeluti hatinya ketika ia sadar ia tidak mengetahui seluk
beluk bahasa ibunya sendiri. Di samping itu, sebuah fakta yang diterimanya
mengenai bahasa Jawa adalah bahasa yang paling tidak diminati anak muda, Mohammad
Marzuki berisi keras untuk menjadikan musik hip hop sebagai jembatannya
mengenalkan puisi Jawa ke khalayak luas khusunya anak muda. Untuk
mempertahankan keberadaan Bahasa Jawa, sebanyak 40 kitab berbahasa Jawa
koleksinya menjadi sumber inspirasi bagi Mohammad Marzuki dalam membuat musik
dengan Jogja Hip Hop Foundation.
Proyek modernitas yaitu salah
satu produk globalisasi memunculkan peluang baru atau alternatif baru karena
adanya partisipasi besar. Contoh kasus yang diambil oleh penulis pada paper ini
adalah kemunculan musik hip hop di karena adanya dominasi Barat. Musik hip hop
adalah subkultur hip hop adalah salah satu subkultur yang lahir akibat
tertindasnya suatu kelompok masyarakat yaitu masyarakat kulit hitam yang
terpinggirkan karena selalu mengalami diskriminasi sosial. Musik hip hop yang
berkembang dari Amerika tepatnya wilayah Bronx
dan Afrika, kini menjadi mendunia karena adanya perkembangan teknologi
informasi yang pesat. Perkembangan ini meliputi internet dan televisi yang
mengakibatkan subkultur hip hop dikenal oleh dunia dan menjadi sebuah budaya
pop.
Dalam fenomena globalisasi
tentunya ada dampak yang ditimbulkan, globalisasi sering dianggap sebagai suatu
fenomena yang merugikan karena mengikis atau menggerus budaya-budaya lokal yang
ada akibat berkembang pesatnya teknologi informasi. Tentunya budaya lokal
adalah salah satu identitas bagi suatu kelompok masyarakat. Bagi masyarakat
yang bisa mengolah pengaruht dari fenomena
globalisasi tentunya akan berhasil menggabungkan hal-hal yang bersifat
global dan lokal yang kemudian disebut glokalisasi.
Jogja Hip Hop Foundation adalah
salah satu contoh fenomena dalam ranah musik yang mengaplikasikan musik yang
dibesarkan dalam narasi global, namun diaplikasikan secara lokal dengan tujuan
tertentu. Jogja Hip Hop Foundation dapat menggambarkan sebuah fenomena yang
berkaitan antara proses globalisasi dengan pengaruh perkembangan teknologi
informasi yang pesat, pembangunan identitas kultural dengan menggabungkan
narasi global dan pengaplikasian secara lokal. Hal tersebut dapat dilihat dari
musik hip hop yang masuk ke Indonesia
melalui televisi yaitu acara musik di MTV serta internet membuat para pelaku
seni khususnya musisi ikut menyemarakan musik hip hop yang telah menjadi budaya
pop. Budaya pop yang kemudian terhubungkan dengan keterkaitan identitas
kultural sama-sama tergambarkan dalam fenomena hip hop di Amerika dan Afrika
juga di Indonesia .
Keduanya sama-sama membangun identitas kultural melalui musik hip-hop.
Pengaplikasian glokalisasi dapat
dilihat dari penggunaan musik hip hop yang merupakan musik asal Afrika dan
Amerika dan bahasa Jawa serta penggunaan
gamelan pada komposisi lirik dan musik yang dibuat. Tujuannya yang tak lain adalah
pembangunan identitas kultural sesuai pemaparan Mohammad Marzuki yaitu membuat
bahasa Jawa menjadi kembali dilirik dan digunakan oleh khalayak luas.
REFERENSI:
Appadurai, A.
1996. Modernity At Large. Minneapolis :
University of Minneosta Press .
Dir. Byron Hurt
2006. Hip-Hop: Beyond Beats and Rhymes.
Heath, Scott R.
2006. True Heads: Historicizing the Hip_Hop ‘Nation’ in Context.
Internet:
Artikel
“Cultural Identity and Diaspora” oleh Stuart Hall di situs http://www.unipa.it/~michele.cometa/hall_cultural_identity.pdf
Artikel Review “East African Hip Hop: Youth, Culture and
Globalization” oleh George Gathigi di situs
Artikel “Mohammad Marzuki, Lewat Hip Hop Merambah Luar
Negeri di situs http://lampungku.com/gaul/mohammad-marzuki-lewat-hip-hop-merambah-luar-negeri/#.UsYEJdIW37Y


Tidak ada komentar:
Posting Komentar