Tampilkan postingan dengan label antropologi medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antropologi medis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Pengaruh Sosial Dalam Fenomena Placebo

Dalam dunia medis, terdapat istilah untuk terapi atau pengobatan yang tidak memiliki bukti kegunaan bagi kesembuhan pasien, istilah ini disebut placebo. Placebo tidak hanya dalam bentuk obat-obatan saja, tetapi juga dalam bentuk prosedur medis lainnya. Dalam kata lain, placebo merupakan sebuah tindakan medis yang dipalsukan oleh penyembuh (dalam hal ini dokter) yang dipercayai bahwa memiliki dampak positif bagi pasien yaitu berupa kesembuhan. Efek dari placebo, melalui banyak penelitian telah menunjukkan bahwa kekuatan pikiran adalah faktor yang terpenting dalam fungsi tubuh manusia. Melalui kemampuan untuk menciptakan atau menghapuskan gejala dengan seketika dalam pikiran manusia, efek obat dapat dan telah digantikan oleh hanya dengan kekuatan keyakinan.

Placebo memang bertujuan untuk mengendalikan efek dari sebuah harapan ditambah keyakinan dari pasien terhadap kesembuhan. Sebuah keyakinan terhadap pengobatan akan tumbuh dalam diri manusia yang mana akan membantu pasien menggerakan diri mereka sendiri untuk menyelesaikan permasalahan, dalam hal ini berjuang pada penyakit yang diderita untuk mencapai kesembuhan. Saat proses menyelesaikan permasalahan tersebut, pasien tidak melihat apakah zat-zat yang mereka terima merupakan zat aktif secara kimiawi mengandung unsur penyembuh atau tidak aktif.

Fenomena placebo ini sering dijalankan dalam kegiatan penyembuhan profesional, seperti penyembuhan dari dokter di rumah sakit. Pasien yang datang ke rumah sakit pastinya memiliki tujuan untuk berobat dan mendapati kesembuhan. Setelah diperiksa oleh dokter, pastinya dokter akan memberikan resep obat pada pasien. Tak jarang, resep tersebut berisikan pil atau tablet gula, yaitu pil dan tablet yang faktanya tidak mengandung bahan obat-obatan namun dikondisikan seperti obat-obatan dalam hal pada umumnya. Saat diberi resep, dokter juga memberikan nasihat agar obat diminum sesuai prosedur agar mendapatkan kesembuhan, biarpun sebenarnya penyakit yang diderita pasien tidak perlu diberikan obat.

Dalam beberapa kasus penelitian, telah dibuktikan bahwa orang-orang yang mengalami sakit dan kemudian diberikan resep obat tanpa kandungan kimiawi apapun menciptakan kesembuhan sebenarnya karena keyakinan yang tertanam saat telah meminum obat. Dari fenomena placebo ini terbukti bahwa sikap dan perilaku pasien memainkan peranan penting dalam proses penyembuhannya.  Pasien yang percaya kepada dokter dan obat yang diberikan, diyakini mempunyai  peluang lebih besar untuk sembuh dengan lebih cepat bahkan sembuh secara total dibandingkan pasien yang bersikap atau mempunyai pikiran sebaliknya.  Dalam kegiatan penyembuhan ini, pasien akan menjadi lebih tenang dan percaya diri. Pada akhirnya, mereka akan merasakan rasa sakitnya perlahan berkurang, pada faktanya mereka sebenarnya tidak memperoleh obat yang memiliki kandungan zat menyembuhkan.

(Photo: www.drugsdb.com)

Dari pemaparan di atas terbukti bahwa kemampuan obat dalam hal menyembuhkan bukanlah hanya dari kekuatan zat yang terkandung dalam obat tetapi juga dari kepercayaan pasien terhadap obat tersebut bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan atau disebut dengan bioligacilly efficacious.

    Selain keyakinan dan harapan yang datang dari diri pasien itu sendiri, saya melihat bahwa adanya pengaruh dari peranan aspek sosial yang bermain dalam fenomena placebo. Aspek tersebut berasal dari luar individu si penderita sakit, bisa keluarga maupun kerabat lainnnya. Peran sosial tersebut berupa pernyataan yang bersifat memerintah seperti perintah untuk meminum obat agar sembuh. Fenomena ini pun juga terjadi pada keluarga saya di mana ibu saya sering berkata “Ayo obatnya di minum, bagaimana mau sembuh jika obatnya tidak diminum.” Hal ini menurut saya merupakan salah satu pengaruh terhadap pembentukan keyakinan dalam diri bahwa ketika kita telah meminum obat, kita akan mendapatkan kesembuhan karena obat tersebut.

         Perintah tersebut membawa kita agar meyakini jika sakit kita harus pergi ke dokter dan mendapatkan obat sesuai prosedur, lalu meminumnya agar sembuh. Kegiatan tersebut tentunya akan sangat melekat di pikiran, setiap usai meminum obat akan mendapatakan sugesti bahwasanya besok atau lusa akan terbebas dari penyakit. Pernyataan yang melekat tersebut kemudian akan membawa kita pada kejadian lainnya dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda terhadap kesembuhan penyakit. Misal, saat teman atau adik sakit, pernyataan yang dibawa oleh orang tua bahwa harus meminum obat agar lekas sembuh atau dalam kata lain obat akan membawa kesembuhan akan membawa kita kembali terhadap keyakinan tersebut. Tak jarang kita juga akan memberikan nasihat atau perintah yang sama jikalau di lingkungan sekitar ada yang terkena penyakit. Menurut saya, dari hal tersebut tergambarkan bagaimana pengaruh sosial terhadap keyakinan obat sebagai penyembuh tertanamkan dalam pikiran dan dilanggengkan secara turun menurun.

Referensi:

Van der Geest, S. dan S.R.Whyte
1989. The Charm of Medicines: Metaphors and Metonyms Medical Anthropology Quarterly, New Series.
 William, WF.
2000.  Encyclopedia of Pseudoscience.  New York: Book Builders Inc.


Kamis, 01 Mei 2014

Dominannya Sektor Popular Pada Pendekatan dan Pengambilan Keputusan Terhadap Penyakit

Suatu hal menarik dari kajian antropologi medis adalah ketika individu atau masyarakat menentukan pendekatan atau pengambilan keputusan terhadap penyakit. Pendekatan sistem kesehatan dan perawatan kini telah diterapkan untuk budaya modern dan untuk masalah diagnosis antarbudaya dalam hal pengobatan dengan jelas dan menarik. Terdapat konsep mengenai pasien dan penyembuh dalam konteks budaya yang mengeksplorasi batasan antara kajian antropologi, kedokteran, dan psikiatri (Kleinman, 1980). Berbicara mengenai pendekatan atau pengambilan keputusan terhadap penyakit dari individu atau masyarakat erat kaitannya konsep yang dikemukakan oleh Arthur Kleinman. Ia menggambarkan sistem perawatan dan kesehatan sebagai sebuah sistem budaya lokal yang terdiri dari tiga bagian yang tumpang tindih, yaitu sektor popular, profesional, dan folk.

Sektor popular adalah sektor yang meliputi orang awam, non-profesional, ataupun non-spesialis. Dikatakan bahwa 70% hingga 90% dari episode penyakit dikelola di sektor populer (Kleinman 1980 : 50). Hal yang termasuk dalam sektor popular diantaranya adalah kegiatan mengamati gejala, pelabelan penyakit, kegiatan memutuskan apa yang harus dilakukan, terlibat dalam kegiatan pencarian perawatan, menerapkan pengobatan, mengevaluasi dampak dari pengobatan mandiri dan terapi yang diperoleh dari sektor lain, memanfaatkan keyakinan dan nilai-nilai tentang penyakit yang merupakan bagian dari struktur kognitif dari budaya populer juga termasuk dalam sektor popular. Sektor profesional terdiri dari profesi penyembuhan yang terorganisir seperti dokter. Kemudian, sektor folk adalah sektor yang non-profesional, non-birokrasi, dan merupakan sektor spesialis. Sektor ini meliputi kegiatan sakral dan sekuler dalam hal penyembuhan seperti dukun, psikoterapis tradisional, shaman, dan folk healers.

Tentunya, setiap orang mempunyai latar belakang budaya dan ilmu pengetahuan yang berbeda, begitupula mengenai pemahaman tiap orang terhadap penyakit juga pengobatan atau perawatan pada suatu penyakit. Dari tiga sektor yang telah dijelaskan oleh Kleinman yaitu sektor popular, profesional, dan folk, terlihat adanya tumpang tindih diantaranya pada perspektif manusia terhadap penyakit. Namun, saya melihat dominannya sektor popular yang cenderung banyak digunakan oleh individu maupun masyarakat terhadap pandangannya pada perawatan suatu penyakit.

Sebagai contoh, ketika seseorang mengidap penyakit, semisal diabetes, sektor profesional bermain saat keluarga atau individu yang terjangkit diabetes membawa dirinya ke rumah sakit untuk diperiksa oleh dokter maupun untuk dirawat. Contohnya, seseorang terlihat lemas, mengeluhkan cepat lapar, dan jika terkena luka di kulit kemungkinan sulit untuk disembuhkan, keluarga atau kerabat sekitar memberikan pelabelan bahwa orang tersebut terkena penyakit diabetes. Dalam kegiatan pencarian perawatan, keluarga dari penderita diabetes tersebut membawanya ke rumah sakit untuk melakukan perawatan seperti pemeriksaan kadar gula darah dan diberikan pola makan yang sehat seperti pengurangan karbohidrat pada menu makanan.

Lalu, sektor folk berperan saat keluarga mengevaluasi dampak dari pengobatan mandiri dan terapi yang diperoleh dari sektor lain (dalam konteks ini adalah sektor folk). Kegiatan tersebut berisikan dengan merekomendasikan untuk meminum obat tradisional ataupun melakukan terapi tradisional dari para orang pintar (sebutan untuk pihak yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut) yang mereka percayai. Dari sinilah terlihat bahwa sektor popular lebih dominan di mana keluarga dari individu yang terjangkit penyakit membuat keputusan, sikap, dan tindakan terhadap penyakit tersebut. Jika mereka percaya dengan sektor profesional, mereka akan pergi ke rumah sakit dengan perawatan dari dokter. Jika mereka lebih percaya terhadap sektor folk, pastilah mereka mengandalkan obat atau pengobatan tradisional seperti ke dukun atau orang pintar. Lalu, jika mereka percaya pada kedua sektor tersebut, mereka akan membawa individu tersebut ke rumah sakit dengan tetap memberikan pengobatan tradisional dari orang pintar atau dukun. Begitulah pendapat saya mengenai praktek sektor popular yang bekerja dengan dominan saat individu atau masyarakat melakukan pendekatan dan pengambilan keputusan pada penyakit.

Konsep penting dalam skema Kleinman lainnya yang masih berhubungan dengan pendekatan dan pengambilan keputusan pada penyakit dari individu atau masyarakat adalah Explanatory Model atau model penjelasan terhadap penyakit. Sebuah model penjelasan adalah penjelasan seseorang yang diberikan untuk episode penyakit, penjelasan ini sangat penting karena orang-orang di berbagai sektor cenderung memiliki perbedaan pandangan dan kadang-kadang bertentangan. Model penjelasan ini mencakup lima aspek dari pengalaman sakit, diantaranya etologi penyakit (penyebab), kapan dan bagaimana gejala awal muncul, sifat gejala penyakit (pathofisiology), perjalanan penyakit (tingkat keparahan: akut, kronis, dll), dan pengobatannya. Model penjelasan individual yang didasarkan pada penjelasan populer tentang penyakit dan juga model penjelasan individual tidak statis dalam satu episode penyakit, pasien dan dokter selalu merevisi penafsiran mereka.

Dalam pandangan saya, model penjelasan Kleinman mempengaruhi pendekatan dan pengambilan keputusan terhadap penyakit di mana adanya kegiatan melihat sifat gejala penyakit yang bisa dilihat secara kasat mata ataupun melalui keluhan dari orang yang terjangkit penyakit. Selain itu, adanya kegiatan melihat perjalanan penyakit dengan selalu mengontrol keadaan atau kondisi orang yang terjangkit penyakit, apakah membaik atau memburuk (makin kronis maupun sudah tahap akut) hingga pada keputusan untuk melakukan pengobatan. Dari model penjelasan ini, saya tetap melihat adanya dominasi pada sektor popular dalam pengambilan keputusan terhadap penyakit di mana adanya pengetahuan umum dari komunitas terhadap suatu gejala penyakit. Pengetahuan umum itu ia peroleh dari berbagai macam sumber (seperti pengalaman kerabat, televisi, buku self-help) yang mengantarnya pada pengambilan keputusan yang kemudian ia aplikasikan pada pengobatan penyakit yang diderita.

REFERENSI:
Kleinman A.
1980. Patients and Healers in the Context of Culture. Berkeley: University of California Press.